Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Anak 7 Tahun Alami Obesitas, Ini 5 Pelajaran Penting untuk Orangtua
Popmama.com/Violin Heldina/AI
  • Farhan mengalami obesitas pada usia 7 tahun; kondisi berat badan anak perlu dinilai lewat pertumbuhan, pola makan, aktivitas, dan konsultasi dokter, bukan sekadar penampilan chubby.
  • Sejak kecil, Farhan terbiasa mengonsumsi formula, camilan, serta makanan ultra-proses. Orangtua perlu mengatur pilihan, porsi, dan frekuensi makan sambil membiasakan makanan bergizi.
  • Keluarga Farhan mengubah pola makan dengan pendampingan dokter gizi dan memilih gym serta renang yang disukai. Dukungan, contoh, dan pendampingan keluarga menjadi bagian penting perubahan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika anak memiliki tubuh yang berisi, pipi chubby, atau banyak lipatan di tubuh, orang-orang di sekitarnya mungkin spontan menganggapnya menggemaskan. Padahal, kondisi berat badan anak tidak cukup dinilai hanya dari penampilan fisiknya.

Hal tersebut juga menjadi bagian dari perjalanan Farhan, anak yang mengalami obesitas di usia 7 tahun.

Kisahnya dibagikan sang Mama melalui akun Instagram @deis_arifriansyah, mulai dari kebiasaan makan Farhan sejak kecil hingga perjuangannya mengubah pola hidup setelah mengalami sejumlah masalah kesehatan.

Dari cerita Farhan, ada banyak hal yang bisa menjadi pembelajaran bagi orangtua dalam memperhatikan pola makan, aktivitas fisik, serta kesehatan anak sejak dini.

Berikut Popmama.com telah merangkum kisahnya. Yuk, simak!

1. Jangan menganggap tubuh anak yang berisi selalu berarti sehat dan lucu

Popmama.com/Violin Heldina/AI

Ketika anak memiliki tubuh berisi, pipi chubby, atau banyak lipatan di tubuh, orang-orang di sekitarnya mungkin spontan menganggapnya menggemaskan.

Hal tersebut juga sempat dialami Farhan.

Sang Mama mengaku dulu menganggap tubuh Farhan yang gemoy sebagai sesuatu yang lucu. Apalagi, orang-orang yang bertemu dengannya kerap memberikan komentar seperti:

"lucu banget, gemesss."

Namun, penampilan fisik bukan satu-satunya cara untuk menentukan apakah berat badan anak berada dalam kondisi sehat.

Pertumbuhan anak perlu dilihat berdasarkan usia, jenis kelamin, tinggi badan, berat badan, dan kurva pertumbuhan yang sesuai.

Karena itu, orangtua sebaiknya tidak hanya memperhatikan apakah anak terlihat kurus atau gemuk. Perubahan berat badan yang cukup signifikan, pola makan, aktivitas fisik, hingga kemampuan anak bergerak juga perlu diperhatikan.

Jika orangtua memiliki kekhawatiran mengenai berat badan anak, konsultasi dengan dokter anak dapat membantu mengetahui apakah pertumbuhannya masih berada dalam rentang yang sesuai.

2. Kebiasaan makan anak perlu mendapat perhatian sejak dini

Popmama.com/Violin Heldina/AI

Dalam ceritanya Mama Farhan mengungkapkan bahwa sejak berusia 2 tahun, Farhan terbiasa mengonsumsi susu formula lebih dari lima botol setiap hari.

Selain itu, makanan seperti:

  • susu kemasan,

  • snack,

  • cokelat,

  • sosis,

  • nugget,

  • es krim.

Menjadi makanan sehari-hari yang selalu dikonsumsi.

Keluarga mengaku saat itu belum menyadari bahwa pola tersebut perlu dievaluasi.

Bahkan, ketika mulai terlihat lipatan pada bagian lengan Farhan, mereka belum menganggapnya sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan.

Padahal, kebiasaan makan yang terbentuk sejak kecil dapat berpengaruh terhadap pola makan anak hingga ia tumbuh besar.

Orangtua memiliki peran penting dalam menentukan makanan apa yang tersedia di rumah, seberapa sering makanan tertentu diberikan, serta porsi yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Bukan berarti anak sama sekali tidak boleh menikmati makanan favoritnya.

Namun, orangtua tetap perlu membantu membentuk pola makan yang lebih seimbang dengan memperkenalkan berbagai makanan bergizi, termasuk sayur, buah, sumber protein, dan makanan yang minim proses.

3. Anak membutuhkan orangtua untuk membantu mengontrol pola makannya

Popmama.com/Violin Heldina/AI

Hal lain yang bisa dipelajari dari cerita Farhan adalah anak belum tentu memahami konsekuensi kesehatan dari makanan yang dikonsumsinya.

Hal tersebut juga disampaikan Natasya Limano melalui akun Instagramnya, @natasyalimano.

Menurutnya, anak umumnya hanya mengetahui bahwa makanan tertentu terasa enak, tanpa memahami bagaimana konsumsi gula, lemak, atau makanan ultra-proses secara berlebihan dapat berdampak pada kesehatan.

Karena itu, orangtua memiliki peran penting untuk membantu mengatur paparan anak terhadap makanan tertentu, porsi, hingga seberapa sering makanan tersebut diberikan.

Orangtua juga bisa mulai dengan langkah sederhana. Misalnya, menyediakan buah sebagai pilihan camilan di rumah, membatasi ketersediaan makanan ultra-proses, serta membiasakan anak makan bersama keluarga.

Pendekatan ini bukan berarti orangtua harus membuat anak merasa bersalah setiap kali mengonsumsi makanan favoritnya. Justru, anak perlu diajarkan secara perlahan mengenai pilihan makanan dan kebiasaan yang baik untuk tubuhnya.

4. Aktivitas fisik bisa dimulai dari olahraga yang disukai anak

Popmama.com/Violin Heldina/AI

Setelah kondisi Farhan membuatnya mengalami keterbatasan gerak, keluarga tidak ingin membuat olahraga menjadi sesuatu yang terasa seperti hukuman.

Sebelumnya, keluarga telah berkonsultasi dengan dokter ortopedi dan dokter anak. Dari konsultasi tersebut, mereka mendapat saran untuk mencari aktivitas yang membuat Farhan merasa enjoy dan happy.

Akhirnya, Farhan mencoba olahraga yang ia sukai. Ia mengikuti kegiatan di gym sebanyak tiga kali seminggu dan les renang tiga kali seminggu.

Dengan begitu, olahraga menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi Farhan, bukan sekadar kewajiban untuk menurunkan berat badan.

Pendekatan seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi orangtua lainnya.

Tidak semua anak harus melakukan olahraga yang sama. Ada anak yang suka berenang, bersepeda, bermain bola, menari, atau sekadar bermain aktif bersama teman.

Penting untuk diingat, jenis dan intensitas aktivitas fisik tetap perlu disesuaikan dengan usia serta kondisi kesehatan anak.

Jika anak memiliki masalah kesehatan atau keterbatasan gerak, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.

5. Perubahan pola hidup anak membutuhkan dukungan seluruh keluarga

Popmama.com/Violin Heldina/AI

Perjalanan Farhan tidak berhenti pada olahraga. Keluarganya juga mulai mengubah pola makan dengan pendampingan dokter gizi.

Makanan instan dan ultra-proses, snack, cokelat, es krim, serta makanan sejenis mulai dihentikan. Farhan juga mulai dibiasakan mengonsumsi buah dan sayur setiap hari.

Perubahan tersebut tentu tidak langsung mudah. Sang Mama mengatakan Farhan sempat merasa tidak nyaman.

Namun, perlahan ia mulai memahami bahwa kebiasaan tersebut dilakukan demi kebaikannya.

Kini, sang Mama juga memiliki lebih banyak waktu untuk mendampingi Farhan.

Ia bahkan mengakui bahwa dahulu keluarganya sempat lalai karena kesibukan bekerja dari pagi hingga malam. Namun, daripada terus menyalahkan diri sendiri, keluarga memilih untuk belajar dan melakukan perubahan.

"Dulu kami lalai, tapi sekarang izinkan kami belajar untuk jadi lebih baik," tulis sang Mama.

Dari kisah Farhan, orangtua bisa belajar bahwa membangun pola hidup sehat pada anak bukan hanya tentang meminta anak makan lebih sehat atau rajin olahraga.

Anak membutuhkan contoh, pendampingan, dan dukungan dari keluarga.

Pada akhirnya, kesehatan anak adalah perjalanan bersama. Tidak perlu menunggu sampai muncul masalah kesehatan untuk mulai memperhatikan pola makan dan aktivitas anak.

Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten sejak dini dapat menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembangnya.

Kalau Mama sendiri, kebiasaan sehat apa yang sudah mulai diterapkan bersama anak di rumah?

Curated For You

Editorial Team

Related Article