Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Olahan UPF, Berisiko Tingkatkan Diabetes dan Obesitas pada Anak

Olahan UPF, Berisiko Tingkatkan Diabetes dan Obesitas pada Anak
Pexels/Charles Parker
Intinya Sih
  • Sekitar 38% balita Indonesia mendapatkan asupan kalori harian dari makanan ultra-proses food (UPF), sementara konsumsi sayur dan buah masih sangat rendah menurut Survei Kesehatan Indonesia 2023.

  • Konsumsi berlebihan UPF yang tinggi gula, lemak trans, dan garam dapat memicu obesitas serta gangguan metabolik seperti hipertensi, perlemakan hati, dan resistensi insulin sejak usia dini.

  • Anak yang sering mengonsumsi UPF berisiko kekurangan mikronutrien penting seperti zat besi, vitamin D, dan zinc, sehingga rentan terhadap anemia dan diabetes tipe 2 di masa depan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Tanpa Mama sadari, makanan instan dan kemasan sering kali jadi solusi praktis saat sibuk. 

Padahal, kebiasaan mengandalkan makanan serba praktis ini punya dampak besar bagi kesehatan jangka panjang si Kecil. 

Berikut Popmama.com rangkum 7 fakta dan tips untuk mengurangi ketergantungan pada makanan olahan!

Table of Content

1. Banyak anak Indonesia konsumsi kalori dari UPF

1. Banyak anak Indonesia konsumsi kalori dari UPF

Penderita diabetes meningkat
Pexels/Nataliya Vaitkevich

Mama perlu tahu bahwa saat ini sekitar 38% balita di Indonesia mendapatkan asupan kalori harian mereka dari Ultra-Processed Food (UPF). 

Angka ini cukup mengkhawatirkan karena di usia pertumbuhan emas, si Kecil seharusnya mendapatkan nutrisi dari bahan pangan segar. 

Hal ini sejalan dengan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang menyebutkan bahwa 96,7% penduduk Indonesia masih sangat kurang dalam mengonsumsi sayur dan buah.

2. Memahami perbedaan pangan segar dan bahan olahan dasar

Daging sapi
Pexels/Boys in Bristol Photography

Tidak semua pangan olahan itu buruk, Ma. 

Pertama, ada kelompok unprocessed atau makanan alami yang belum disentuh proses pabrik sama sekali, seperti buah, sayur, telur, dan daging segar. 

Kedua, ada minimally processed atau olahan minimal seperti susu segar yang cuma dipasteurisasi atau tuna kaleng yang hanya ditambah air/garam agar awet.

Selain itu, ada juga kelompok processed ingredients yang merupakan bahan dasar dapur seperti minyak, gula, garam, madu, dan mentega. 

Bahan-bahan ini diproses hanya untuk diambil intisarinya dari alam. Selama digunakan sebagai bumbu masak di rumah dan tidak dikonsumsi berlebihan, bahan-bahan ini masih dikategorikan aman karena tidak mengubah struktur asli pangan secara drastis.

3. Mengenal UPF

Nugget dan kentang
Pexels/Engin Akyurt

Mama harus bisa membedakan antara makanan olahan biasa (processed) dengan (UPF). 

Makanan olahan biasa seperti keju, roti buatan bakery lokal, kacang panggang, atau buah kaleng biasanya hanya mencampur bahan alami dengan bahan dapur dasar agar lebih enak atau awet. Ini masih dalam kategori moderat untuk dikonsumsi sesekali.

Yang perlu diwaspadai adalah UPF. Contohnya adalah roti kemasan pabrik yang tahan berminggu-minggu, sereal warna-warni, biskuit, nugget, hingga yogurt kemasan yang tinggi gula. 

Cara mengenalinya mudah, Ma, coba cek label di balik kemasan.

Jika daftar komposisinya sangat panjang dan banyak mengandung nama-nama kimia yang asing (seperti pemanis buatan, pengemulsi, atau pewarna sintetis), itu tandanya produk tersebut sudah melalui proses pabrikasi tingkat tinggi yang minim nutrisi asli.

4. Bahaya obesitas dan gangguan metabolik sejak dini

Obesitas
Pexels/Andres Ayrton

Konsumsi UPF yang berlebihan pada si Kecil memiliki dampak kesehatan jangka panjang yang sangat serius. 

Mengapa? Karena UPF dirancang untuk sangat lezat (hyper-palatable) sehingga si Kecil sulit berhenti makan, padahal kandungannya tinggi gula tambahan, lemak trans, dan garam. 

Kondisi ini memicu kenaikan berat badan drastis atau obesitas pada si Kecil.

Lebih dari sekadar tampilan fisik, obesitas akibat UPF memicu gangguan metabolik sejak dini. Ini seperti "bom waktu" di dalam tubuh si Kecil, di mana organ-organ mereka dipaksa bekerja ekstra keras. 

Dampaknya bisa berupa perlemakan hati non-alkohol (lemak menumpuk di hati), hipertensi (darah tinggi), hingga resistensi insulin

Penyakit-penyakit yang dulu hanya diderita orang dewasa, kini mulai banyak ditemukan pada anak-anak akibat pola makan yang didominasi makanan pabrikan.

5. Risiko kekurangan mikronutrien dan penyakit kronis

Anak memeriksa gula darah
Pexels/Pavel Danilyuk

Pernah mendengar istilah Hidden Hunger atau kelaparan tersembunyi? Meskipun si Kecil terlihat kenyang dan gemuk setelah makan UPF, sel-sel tubuh mereka sebenarnya "kelaparan" nutrisi asli. 

Makanan pabrikan sering kali kehilangan serat dan vitamin alami selama proses pengolahan, sehingga si Kecil berisiko besar mengalami kekurangan mikronutrien penting seperti zat besi (pemicu anemia), vitamin D, dan zinc yang krusial untuk kecerdasan serta daya tahan tubuh.

Jika kebiasaan ini terus berlanjut hingga mereka besar, risiko penyakit kronis yang mematikan akan mengintai. 

Salah satu yang paling nyata adalah Diabetes Tipe 2, di mana tubuh tidak lagi mampu mengolah gula darah dengan normal. 

Nutrisi yang buruk di masa kecil bukan hanya menghambat pertumbuhan fisik, tapi juga merusak fondasi kesehatan mereka untuk masa muda dan masa tua nanti.

6. Trik menyediakan camilan sehat di rumah

Buah potong
Pexels/lee c

Salah satu cara paling efektif untuk mengurangi ketergantungan si Kecil pada UPF adalah dengan mengubah isi kulkas. 

Mama bisa mulai menyetok buah potong yang sudah rapi di wadah agar si Kecil tertarik untuk langsung mengambilnya saat lapar. 

Selain itu, batasi stok minuman manis dan snack kemasan di rumah. Jika "godaan" itu tidak ada di depan mata, si Kecil perlahan akan terbiasa mencari alternatif makanan yang lebih sehat.

7. Ganti stok darurat dengan real food

Telur
Pexels/AMBX Project

Seringkali Mama menyetok UPF seperti mi instan atau nugget untuk kondisi darurat saat tidak sempat memasak. 

Mulai sekarang, Mama bisa ganti stok darurat itu dengan bahan real food yang praktis, misalnya telur. 

Telur jauh lebih bernutrisi dan cepat diolah daripada makanan beku pabrikan. Meskipun di awal mereka mungkin menunjukkan penolakan karena sudah terbiasa dengan rasa UPF yang kuat.

Memang butuh kesabaran ekstra ya, Ma, untuk mengalihkan lidah si Kecil dari makanan kemasan ke makanan segar. 

Kira-kira apa nih tantangan terbesar Mama saat mencoba mengurangi jajanan kemasan untuk si Kecil di rumah?

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Related Articles

See More