“Aku sebenarnya jago apa?”,
“Aku cocoknya ngapain?”,
“Apa yang bisa aku lakukan?”,
5 Alasan Anak Pra Remaja dan Remaja Perlu Punya Pengalaman Kerja!

Pengalaman nyata seperti menjadi MC, usher, petugas registrasi, atau pembuat konten membantu pra remaja dan remaja mengenali kekuatan serta membangun rasa mampu.
Memegang peran mengajarkan anak datang tepat waktu, menyelesaikan tugas, memahami dampak pekerjaannya bagi orang lain, dan melihat bahwa kontribusinya berarti.
Kesempatan mencoba memberi ruang untuk menghadapi serta memperbaiki kesalahan, sekaligus menemukan aktivitas yang disukai maupun tidak, tanpa terburu-buru menentukan masa depan.
Memasuki usia pre-teens dan teens, anak mulai semakin sering bertanya tentang dirinya sendiri.
menjadi beberapa pertanyaan yang mungkin muncul dalam pikirannya.
Pertanyaan tersebut tidak selalu bisa dijawab hanya melalui pelajaran di sekolah atau nasihat dari orangtua.
Anak juga membutuhkan pengalaman nyata untuk mencoba berbagai hal dan menemukan kemampuan yang ada dalam dirinya.
Psikolog Pritta Tyas, M.Psi., Psikolog, melalui akun Instagram @pritta_tyas, menjelaskan bahwa pengalaman nyata dapat membantu anak mengenali dirinya. Pengalaman tersebut tidak harus berupa internship formal seperti yang dilakukan orang dewasa.
Sederhana saja, anak bisa dipercaya menjadi MC, membantu di meja registrasi, menjadi usher, atau ikut membuat konten dalam sebuah acara.
Dari pengalaman kecil tersebut, anak bisa menemukan kemampuan, belajar bertanggung jawab, hingga mengetahui hal-hal yang ternyata tidak mereka sukai.
Lantas, kenapa pengalaman bekerja penting bagi anak usia preteens dan teens? Berikut Popmama.com telah merangkum 5 alasannya. Yuk, simak!
1. Membantu anak mengenali kekuatan dirinya

Pexels/Vitaly Gariev Pada usia pra remaja dan remaja, anak sedang berada dalam proses mengenali siapa dirinya.
Salah satu cara untuk membantu proses tersebut adalah memberikan kesempatan kepada anak mencoba berbagai aktivitas. Pasalnya, anak mungkin belum mengetahui kemampuannya jika belum pernah mendapatkan kesempatan untuk mencobanya secara langsung.
Misalnya, ketika dipercaya menjadi MC dalam sebuah acara, anak mungkin awalnya merasa gugup. Namun, setelah berhasil melewati pengalaman tersebut, ia bisa menyadari,
“Ternyata aku cukup berani berbicara di depan banyak orang.”
Begitu juga ketika anak menjadi usher dan harus berkomunikasi dengan berbagai orang. Ia mungkin baru mengetahui bahwa dirinya cukup mudah beradaptasi dan senang membantu orang lain.
Menurut Pritta, pengalaman-pengalaman kecil seperti ini dapat membantu anak membangun sense of competence, yaitu perasaan bahwa dirinya mampu melakukan sesuatu dengan baik.
Dengan begitu, anak tidak hanya mendengar pujian dari orangtua, tetapi juga memiliki pengalaman nyata yang membuatnya semakin mengenal kekuatan dirinya.
2. Anak belajar bertanggung jawab atas perannya

Pexels/HANUMAN PHOTO STUDIO Ketika mendapatkan sebuah peran, anak juga belajar bahwa ada tanggung jawab yang perlu dijalankan.
Pengalaman sederhana dalam sebuah kegiatan bisa menjadi kesempatan bagi anak untuk memahami bahwa setiap tugas memiliki konsekuensi dan membutuhkan komitmen.
Misalnya, ketika anak dipercaya membantu meja registrasi, ia perlu datang tepat waktu, mengetahui apa yang harus dilakukan, serta menyelesaikan tugas sampai acara selesai.
Ia juga perlu memahami bahwa ada orang lain yang mengandalkan dirinya.
Menurut Pritta, memiliki sebuah peran berarti memiliki tanggung jawab seperti:
- ada jam datang yang perlu dipatuhi,
- tugas yang harus diselesaikan,
- kesalahan yang perlu diperbaiki,
- pekerjaan yang mungkin tidak selalu menyenangkan tetapi tetap harus dilakukan.
Pengalaman seperti ini membantu anak memahami bahwa tanggung jawab bukan sekadar konsep yang dibicarakan orangtua.
Anak dapat merasakan langsung bagaimana perannya berpengaruh terhadap orang lain.
Tentunya, Mama tetap perlu memastikan tanggung jawab tersebut sesuai usia dan kemampuan anak. Dengan begitu, pengalaman bekerja bersama orang lain bisa menjadi proses belajar yang menyenangkan.
3. Mengajarkan anak bahwa kontribusinya berarti

Pexels/Ron Lach Mama mungkin sering mengatakan kepada anak bahwa dirinya berharga dan bisa memberikan sesuatu kepada orang lain.
Namun, anak dapat memahami pesan tersebut dengan lebih baik ketika ia mendapatkan kesempatan untuk berkontribusi secara langsung.
Contohnya, anak dipercaya membantu membuat konten dalam sebuah acara. Ia kemudian melihat bahwa ide yang diberikan ternyata digunakan. Dari pengalaman tersebut, anak bisa berpikir:
“Ternyata ideku bisa dipakai.”
Hal serupa juga bisa terjadi ketika anak menjadi usher. Ia membantu mengarahkan tamu, menjawab pertanyaan, atau memastikan seseorang mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
Dari sana, anak dapat melihat bahwa tugas kecil yang ia lakukan ternyata membantu acara berjalan lebih lancar.
Pengalaman tersebut membuat anak memahami bahwa kontribusinya memiliki dampak bagi orang lain.
Perasaan bahwa dirinya mampu membantu juga dapat menjadi pengalaman positif untuk membangun kepercayaan dirinya.
Jadi, jangan menganggap remeh tugas sederhana yang dilakukan anak. Selama sesuai usia dan kemampuannya, kesempatan tersebut bisa menjadi cara bagi anak untuk belajar bahwa kehadiran dan kontribusinya berarti.
4. Anak belajar menghadapi kesalahan

Pexels/Ketut Subiyanto Memberikan anak kesempatan untuk mendapatkan pengalaman nyata juga berarti memberikan ruang bagi mereka untuk melakukan kesalahan.
Hal ini merupakan bagian penting dalam proses belajar, terutama ketika anak mulai memiliki tanggung jawab di luar lingkungan sekolah dan rumah.
Misalnya, anak lupa membawa perlengkapan yang dibutuhkan, salah memberikan informasi, atau merasa gugup ketika harus berbicara di depan banyak orang. Kesalahan tersebut mungkin membuat anak merasa kecewa atau malu.
Namun, dari situ anak dapat belajar untuk mengevaluasi apa yang terjadi dan mencari cara agar kesalahan yang sama tidak terulang.
Ia bisa belajar mempersiapkan diri lebih baik, bertanya ketika belum memahami tugas, atau mencari solusi ketika menghadapi masalah.
Mama tidak harus langsung mengambil alih ketika anak melakukan kesalahan. Selama situasinya aman dan tanggung jawabnya sesuai usia, berikan kesempatan kepada anak untuk memperbaikinya.
Dengan begitu, pengalaman tersebut tidak hanya mengajarkan keterampilan baru, tetapi juga membantu anak memahami bahwa melakukan kesalahan bukan berarti dirinya tidak mampu.
5. Membantu anak menemukan hal yang tidak disukai

Pexels/Timur Weber Mengenal diri bukan hanya tentang menemukan sesuatu yang disukai atau dikuasai anak.
Mengetahui aktivitas yang ternyata tidak cocok juga merupakan bagian penting dari proses mengenali diri.
Misalnya, setelah mencoba menjadi MC, anak menyadari bahwa berbicara di depan banyak orang ternyata bukan aktivitas yang ia sukai. Atau ketika membantu membuat konten, ia justru menemukan bahwa dirinya lebih menikmati mengatur acara daripada berada di balik kamera.
Pengalaman tersebut tetap memiliki nilai. Anak mendapatkan informasi baru tentang dirinya dan bisa menggunakan pengalaman itu untuk menentukan aktivitas berikutnya yang ingin dicoba.
Psikolog Pritta Tyas juga menekankan bahwa masa pra remaja dan remaja merupakan waktu bagi anak untuk memperbanyak pengalaman, mencoba, berkontribusi, membuat kesalahan, dan mengenali kekuatan diri.
Jadi, Mama tidak perlu terburu-buru menuntut anak sudah mengetahui cita-cita atau masa depannya. Berikan ruang untuk mencoba berbagai hal selama sesuai dengan usia dan kemampuannya.
Sebab, menemukan “ini bukan aku” juga merupakan bagian dari perjalanan untuk menjawab pertanyaan, “Aku ini siapa dan ingin menjadi seperti apa?”
Jadi, itulah 5 alasan anak pra remaja dan remaja perlu memiliki pengalaman nyata.
Bukan untuk membuat mereka terburu-buru masuk ke dunia kerja, melainkan memberi kesempatan untuk mencoba, belajar bertanggung jawab, mengenali kemampuan, dan menemukan hal-hal yang mereka sukai maupun tidak.


















