Mendengar anak pulang sekolah dengan raut wajah murung sambil berbisik lirih "Aku nggak punya teman di sekolah," tentu membuat hati Mama terenyuh.
Mama, memasuki jenjang sekolah dasar anak memang berada di fase peralihan. Ia sudah mulai meninggalkan kepolosan masa TK dan belajar membaca dinamika sosial yang lebih kompleks, seperti membentuk kelompok main atau bahasa gaulnya circle-nya sendiri.
Meski begitu, Mama tetap perlu tanggap bila situasi dijauhi teman ini terjadi secara berulang ya. Karena ada tembok tipis yang membatasi antara drama anak dan pengucilan sosial, Ma.
Pengucilan bukan sekadar "drama perselisihan anak-anak", melainkan bentuk bullying relasional.
Mama, bentuk bullying emosional ini seringkali luput dari pengawasan karena tak meninggalkan memar fisik pada tubuh anak. Namun, dampaknya sama seperti bullying fisik pada mental anak, Ma.
Sebab bila pengucilan ini dibiarkan, dapat mengganggu kesehatan mental hingga menurunkan fokus belajarnya. Supaya Mama dapat mengetahui lebih awal bentuk bullying relasional pada anak, berikut sudah Popmama.com rangkum informasinya
