Kronologi Bullying Ponpes Darul Ulum Amira, Ustaz Diduga Ikut Aniaya

- Kasus bullying di Ponpes Darul Ulum Amira bermula dari perselisihan jadwal piket, berujung pengeroyokan terhadap MM (16) hingga korban mengalami luka fisik dan trauma berat.
- Keluarga korban menuding adanya keterlibatan oknum ustaz yang diduga ikut melakukan kekerasan saat korban mencoba menyelamatkan diri, memperparah kondisi fisik dan mental MM.
- Upaya mediasi antara keluarga dan pihak pesantren gagal, membuat kasus ini berlanjut ke jalur hukum serta menjadi sorotan publik dan media sosial.
Kasus dugaan bullying di Pondok Pesantren Darul Ulum Amira, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, menjadi sorotan publik setelah kisah korban berinisial MM (16) viral di media sosial. Santri yang juga menjabat sebagai Ketua OSIS itu diduga mengalami pengeroyokan oleh sejumlah teman asrama hingga mengalami luka fisik dan trauma berat.
Tidak hanya sesama santri, keluarga korban juga menuding adanya keterlibatan oknum ustaz dalam tindakan kekerasan tersebut. Dugaan penganiayaan ini memicu kemarahan publik karena lingkungan pesantren yang seharusnya menjadi tempat aman untuk menimba ilmu agama justru disebut menjadi lokasi terjadinya kekerasan terhadap anak.
Kasus ini pun berlanjut ke jalur hukum setelah upaya mediasi antara keluarga korban dan pihak pesantren tidak menemukan titik temu.
Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya.
1. Pemicu: Perselisihan jadwal piket kebersihan

Peristiwa dugaan bullying atau perundungan ini bermula pada Jumat, 12 Desember 2025, di lingkungan Pondok Pesantren Darul Ulum Amiral, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar. Konflik dipicu ketika korban, MM (16), yang menjabat sebagai Ketua OSIS, menegur rekan sekamarnya berinisial I untuk melaksanakan jadwal piket kebersihan kelas.
Namun, pelaku I tidak terima ditegur dan terlibat adu mulut dengan korban karena merasa tidak senang diperintah. Ketidaksenangan pelaku berlanjut hingga malam hari di dalam kamar asrama yang dihuni delapan orang.
Pelaku I diduga menghasut rekan lainnya berinisial L untuk mengeroyok korban di lantai dua asrama tersebut. Penganiayaan ini mengakibatkan korban mengalami luka-luka dan trauma hingga berusaha melarikan diri untuk mencari perlindungan.
2. Korban mengalami luka-luka dan trauma berat

Korban MM merupakan seorang remaja berusia 16 tahun asal Kota Makassar. Selain sebagai santri, ia juga diberikan amanah sebagai Ketua OSIS. Saat kejadian itu MM berusaha menjalankan tugasnya. Ironisnya, tanggung jawab yang ia jalankan justru menjadi alasan awal dirinya menjadi sasaran perundungan oleh teman-temannya sendiri.
Keluarga MM, termasuk kakak dan ibunya, sangat terpukul karena korban yang seharusnya menimba ilmu agama justru menjadi korban kebrutalan teman-temannya.
Dikutip dari berbagai sumber, MM mengalami luka fisik yang cukup parah hingga membutuhkan biaya pengobatan puluhan juta rupiah. Tidak hanya itu, dari video yang beredar di media sosial menunjukkan kondisi MM yang mengalami trauma berat akibat penganiayaan yang diduga melibatkan oknum tenaga pendidik di sekolahnya atau ustaz.
3. Dugaan keterlibatan oknum Ustaz di kasus bullying ini

Saat mencoba menyelamatkan diri dari pengeroyokan rekan-rekannya, MM lari keluar area pesantren dan sempat meminta bantuan kepada seorang warga yang melintas. Namun, oknum ustaz itu justru mengusir warga tersebut dengan alasan masalah internal dan membawa korban masuk kembali ke ruangan pesantren.
Di dalam ruangan itulah, oknum ustaz tersebut diduga kuat ikut melakukan kekerasan fisik terhadap Mustakim.Berdasarkan kesaksian keluarga, oknum ustaz tersebut diduga membanting, memukul, hingga menginjak-injak korban tanpa melakukan klarifikasi terlebih dahulu mengenai penyebab kejadian.
Tindakan ini sangat disayangkan karena oknum guru yang seharusnya menjadi pelindung dan penengah justru diduga menjadi pelaku kekerasan tambahan yang memperparah kondisi fisik korban.
4. Pihak pondok sempat beralasan MM kerasukan

Pesantren Darul Ulum Amiral memberikan klarifikasi yang berbeda dengan keterangan dari keluarga korban. Kepala Ponpes, Awaluddin, dikutip dari berbagai sumber menyatakan bahwa kejadian tersebut bermula dari perkelahian antar santri biasa dan mengklaim korban tidak melapor kepada guru saat kejadian.
Pihak pesantren awalnya menghubungi keluarga korban pada malam kejadian dengan alasan bahwa MM sedang "kerasukan" atau mengamuk sehingga perlu dijemput.
Terkait keterlibatan oknum ustaz, pihak pesantren berdalih bahwa tindakan yang dilakukan oleh ustaz mereka hanyalah upaya untuk mengamankan korban yang sedang emosi dan mengamuk dengan cara menggebrak pintu. Mereka membantah adanya tindakan penganiayaan sengaja dan menyatakan bahwa ustaz tersebut justru berusaha mencegah agar konflik tidak meluas ke santri lain di asrama.
5. Sempat berusaha mediasi, keluarga korban akhirnya lapor polisi

Keluarga korban telah melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian sejak 18 Desember 2025, yang kemudian dilimpahkan ke Polres Takalar. Pada April 2026, sempat dilakukan mediasi antara pihak keluarga dan pesantren, di mana keluarga merinci biaya pengobatan MM yang mencapai Rp 30 juta.
Namun, mediasi tersebut menemui jalan buntu karena pihak pesantren menyatakan tidak sanggup membayar biaya pengobatan tersebut. Hingga akhir April 2026, kasus ini terus bergulir dan mendapatkan sorotan luas di media sosial.
Pihak kepolisian dikabarkan akan segera menetapkan tersangka dalam kasus dugaan penganiayaan santri oleh rekan dan oknum ustaz ini. Keluarga korban terus mendesak keadilan dan menolak penyelesaian secara kekeluargaan tanpa adanya pertanggungjawaban nyata dari para pelaku dan pihak institusi.
Itulah tadi kronologi bullying Ponpes Darul Ulum Amira yang viral di media sosial. Semoga pelaku dihukum setimpal dan korban MM mendapatkan perawatan terbaik dari traumanya.


















