Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Pelajaran bagi Orangtua dari Kasus David di Depok, Memasukkan Anak ke Dalam Freezer

Pelajaran bagi Orangtua dari Kasus David di Depok, Memasukkan Anak ke Dalam Freezer
Tiktok.com/wartapedia.id
Intinya Sih
  • Kasus kekerasan terhadap dua anak di Cimanggis, Depok, menjadikan David alias Abang David sebagai tersangka dan kini menjalani proses hukum sesuai Undang-Undang Perlindungan Anak.
  • Peristiwa ini menegaskan pentingnya orangtua mengajarkan anak mengenali situasi tidak aman, memahami body safety, serta berani berkata tidak pada ajakan mencurigakan dari orang lain.
  • Orangtua disarankan membangun komunikasi terbuka agar anak merasa aman bercerita, sehingga potensi bahaya dapat diketahui lebih cepat dan kepercayaan dalam keluarga semakin kuat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kronologi kasus Abang David di Cimanggis, Depok, menyita perhatian masyarakat setelah dugaan kekerasan terhadap dua anak berusia 7 tahun terungkap.

Berawal dari pertemuan saat kedua korban hendak membeli mi di warung, kejadian tersebut berkembang menjadi serangkaian tindakan yang diduga membahayakan anak.

Kini, David telah ditetapkan sebagai tersangka dan menjalani proses hukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Peristiwa ini tentu menyisakan rasa prihatin sekaligus menjadi pengingat bagi para orangtua bahwa ancaman terhadap anak bisa datang dari situasi yang tampak biasa.

Karena itu, selain mengikuti perkembangan kasusnya, Mama juga perlu membekali anak dengan pemahaman tentang cara menjaga diri, mengenali situasi yang tidak aman, dan berani mencari pertolongan saat dibutuhkan.

Lantas, pelajaran apa saja yang bisa dipetik orangtua dari kasus ini? Simak penjelasan yang telah Popmama.com rangkum berikut.

1. Kronologi Kasus Bang David di Cimanggis, Depok

Tersangka diamankan polisi karena melakukan kekerasan terhadap anak
Pexels/Timur Weber

Kasus dugaan kekerasan terhadap dua anak berusia 7 tahun yang dilakukan oleh David alias Bang David menjadi sorotan publik.

Peristiwa ini terjadi pada Selasa, 14 Juli 2026, di kawasan Cimanggis, Depok, Jawa Barat.

Kedua korban awalnya sedang bermain di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka. Setelah itu, mereka berniat membeli mie di sebuah warung.

Sekitar pukul 13.00 WIB, kedua anak tersebut bertemu dengan David.

Berdasarkan keterangan Kasi Humas Polres Metro Depok AKP Hendra, David menyapa kedua korban dan menanyakan apa yang ingin mereka beli.

Salah satu korban kemudian menjawab ingin membeli mie, lalu mereka menunggu hingga makanan tersebut matang dan selesai disiapkan.

Setelah berhasil mengajak kedua anak tersebut, David diduga menantang mereka melakukan serangkaian aksi yang tidak wajar.

Korban disebut diminta memakan cabai, hingga mengalami perlakuan yang lebih berbahaya, yaitu dimasukkan anak tersebut ke dalam freezer.

Kasus ini kemudian ditangani oleh pihak kepolisian.

Setelah melakukan penyelidikan, polisi menetapkan David sebagai tersangka atas dugaan tindak kekerasan terhadap anak.

Saat ini, tersangka telah ditahan di Polsek Cimanggis untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.

David dijerat dengan Pasal 80 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak yang mengatur sanksi pidana bagi setiap orang yang melakukan kekerasan terhadap anak.

2. Anak perlu memahami bahwa tidak semua orang yang ramah bisa dipercaya

Ajarkan anak bahwa tidak semua orang dapat dipercaya
Pexels/Nascimento Jr.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa pelaku kejahatan terhadap anak tidak selalu menunjukkan sikap yang mencurigakan.

Sebaliknya, sebagian pelaku justru memulai pendekatan dengan bersikap ramah, menawarkan makanan, hadiah, atau bantuan agar anak merasa lebih nyaman.

Kondisi ini membuat anak, terutama yang masih berusia sekolah dasar, lebih mudah percaya karena mereka belum mampu menilai niat seseorang secara menyeluruh.

Oleh karena itu, orangtua perlu mengajarkan bahwa tidak semua orang yang bersikap baik adalah orang yang aman untuk diikuti.

Jelaskan kepada anak bahwa mereka tidak boleh menerima makanan, hadiah, atau ajakan pergi dari orang yang tidak dikenal tanpa izin Mama atau Papa.

Mama juga bisa mengajak anak melakukan role play sederhana, misalnya mempraktikkan bagaimana menolak ajakan orang asing dengan sopan namun tegas.

Latihan seperti ini membantu anak lebih siap menghadapi situasi yang tidak terduga di dunia nyata.

3. Penting mengajarkan body safety sejak dini kepada anak

Kenalkan body safety kepada anak agar dapat menjaga keselamatannya sendiri
Pexels/Pavel Danilyuk

Kasus seperti yang terjadi di Depok juga mengingatkan orangtua bahwa pendidikan tentang body safety perlu dikenalkan sejak anak masih kecil.

Body safety bukan hanya mengajarkan anak mengenali bagian tubuh pribadi, tetapi juga membantu mereka memahami bahwa tubuhnya adalah miliknya sendiri dan tidak boleh diperlakukan sembarangan oleh siapa pun.

Anak perlu mengetahui bahwa mereka berhak menolak setiap tindakan yang membuatnya merasa takut, tidak nyaman, atau bingung, meskipun dilakukan oleh orang yang lebih tua atau terlihat baik.

Mama juga bisa mengajarkan aturan sederhana, seperti tidak masuk ke rumah orang lain tanpa izin, tidak mengikuti ajakan seseorang, dan segera mencari bantuan jika merasa berada dalam situasi yang tidak aman.

Gunakan bahasa yang mudah dipahami sesuai usia anak dan ulangi pembicaraan ini secara berkala.

Dengan begitu, anak tidak hanya menghafal aturan, tetapi juga memahami alasan mengapa ia perlu menjaga keselamatan dirinya sendiri.

4. Ajarkan anak berani berkata tidak saat menghadapi situasi yang membuatnya tidak nyaman

Anak perlu mengetahui berkata tidak untuk perlindungan diri
Pexels/BOOM Photography

Banyak anak tumbuh dengan pemahaman bahwa mereka harus selalu patuh kepada orang dewasa.

Padahal, dalam situasi tertentu, anak justru perlu mengetahui bahwa mengatakan "tidak" adalah bentuk perlindungan diri.

Orangtua dapat mengajarkan bahwa anak boleh menolak ajakan siapa pun yang tidak mendapat izin dari Mama atau Papa, termasuk ketika diajak membeli makanan, masuk ke rumah seseorang, atau pergi ke tempat tertentu.

Selain itu, latih anak untuk segera meninggalkan situasi yang membuatnya merasa tidak nyaman dan mencari orang dewasa yang dipercaya, seperti guru, petugas keamanan, atau anggota keluarga.

Agar lebih mudah dipahami, Mama bisa melakukan simulasi melalui permainan peran di rumah.

Misalnya, berpura-pura menjadi orang asing yang menawarkan hadiah, lalu minta anak mempraktikkan respons yang tepat.

Semakin sering berlatih, anak akan lebih percaya diri mengambil keputusan yang aman ketika menghadapi situasi serupa.

5. Bangun komunikasi agar anak selalu berani bercerita kepada orangtua

Bangun hubungan yang hangat agar anak mau bercerita tentang kesehariannya
Pexels/Ketut Subiyanto

Selain membekali anak dengan aturan keselamatan, orangtua juga perlu membangun hubungan yang hangat agar anak merasa aman untuk bercerita.

Tidak semua anak langsung mengungkapkan pengalaman yang membuatnya takut atau bingung.

Ada yang memilih diam karena khawatir dimarahi atau merasa dirinya bersalah.

Oleh sebab itu, biasakan menyediakan waktu setiap hari untuk mengobrol santai tentang kegiatan anak, teman bermainnya, hingga hal-hal yang dialaminya selama di luar rumah.

Dengarkan cerita anak tanpa langsung menghakimi atau memotong pembicaraannya.

Saat anak berani mengungkapkan sesuatu, berikan apresiasi atas kejujurannya agar ia tahu bahwa Mama dan Papa adalah tempat paling aman untuk mencari pertolongan.

Komunikasi yang terbuka tidak hanya mempererat hubungan keluarga, tetapi juga membantu orangtua lebih cepat mengetahui jika anak mengalami atau menyaksikan situasi yang berpotensi membahayakan dirinya.

Kasus yang menimpa dua anak di Depok menjadi pengingat bahwa menjaga keselamatan anak bukan hanya tentang mengawasi mereka setiap saat, tetapi juga membekali mereka dengan pengetahuan dan keberanian untuk melindungi diri sendiri.

Mulai dari mengenali situasi yang tidak aman, berani menolak ajakan orang lain, hingga terbiasa bercerita kepada orangtua, semua bisa diajarkan secara bertahap sesuai usia anak.

Dengan komunikasi yang hangat dan edukasi yang konsisten, anak akan lebih siap menghadapi berbagai situasi saat berada di luar pengawasan Mama dan Papa.

Menurut Mama, kebiasaan atau aturan keselamatan apa yang sudah mulai diajarkan kepada anak di rumah?

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More