Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Remaja Terkena Glaukoma sejak Kelas 9 SMP Akibat Sering Konsumsi Maniss, Awasi Pola Makan!
Freepik/user18526052
  • Seorang remaja kehilangan penglihatan total akibat glaukoma yang dipicu pola makan tidak sehat sejak SMP, menegaskan pentingnya menjaga kebiasaan makan sejak dini.
  • Glaukoma di Indonesia memengaruhi sekitar 0,46 persen penduduk dan sering tidak bergejala di awal, sehingga deteksi dini menjadi kunci pencegahan kebutaan permanen.
  • Mengatur konsumsi gula, memilih makanan manis alami, serta rutin periksa mata dianjurkan untuk menjaga kesehatan mata dan mencegah risiko glaukoma pada anak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Liburan dan pola makan anak memang sering jadi perhatian, tapi kesehatan mata juga tidak kalah penting untuk dijaga sejak dini. Dalam keseharian, Mama mungkin fokus pada asupan energi atau kebiasaan belajar anak, padahal ada aspek lain yang juga perlu diperhatikan.

Kasus seorang remaja yang mengalami kebutaan akibat glaukoma ini menjadi pengingat serius bahwa kebiasaan sehari-hari, termasuk pola makan, bisa berdampak besar pada kesehatan jangka panjang. Kondisi ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan berkembang perlahan tanpa disadari.

Berikut Popmama.com rangkum remaja alami kebutaan karena glaukoma yang perlu Mama waspadai!

1. Remaja kehilangan penglihatan sejak SMP

Freepik/azerbajian_stockers

Seorang remaja dilaporkan kehilangan penglihatannya secara total akibat glaukoma yang dipicu oleh pola makan yang tidak sehat. Glaukoma sendiri adalah kondisi kerusakan pada saraf mata yang berperan penting dalam proses penglihatan, umumnya berkaitan dengan tekanan bola mata yang tinggi.

Kondisi ini berkembang secara perlahan hingga akhirnya berdampak besar pada fungsi penglihatan. Bahkan, remaja tersebut sudah tidak bisa melihat sejak duduk di kelas 9 SMP, usia yang seharusnya masih berada dalam fase aktif belajar.

Remaja ini dikenal sebagai penggemar makanan manis, terutama cokelat, yang dikonsumsi secara rutin dan berlebihan. Selain itu, ia juga mengalami bau mulut yang diduga berasal dari masalah lambung, yang menandakan adanya gangguan kesehatan lain yang mungkin sudah berlangsung cukup lama.

Kasus ini menunjukkan bahwa kebiasaan sederhana seperti pola makan bisa berdampak besar pada kesehatan jangka panjang. Meskipun glaukoma tidak hanya disebabkan oleh satu faktor, gaya hidup yang tidak sehat dapat memperburuk kondisi tubuh secara keseluruhan.

2. Glaukoma di Indonesia dan faktor risikonya

Freepik

Melansir dari laman Kementerian Kesehatan, laporan “Situasi Glaukoma di Indonesia” pada tahun 2019 memperkirakan jumlah penderita glaukoma di Indonesia mencapai sekitar 0,46 persen, atau setara dengan 4 hingga 5 orang per 1.000 penduduk.

Gejala kerusakan akibat glaukoma ini umumnya disebabkan oleh tekanan bola mata yang tinggi, meskipun tidak semua penderita mengalami hal tersebut.

Dampaknya bisa sangat besar terhadap kualitas hidup karena dapat menyebabkan gangguan penglihatan permanen. Beberapa faktor risiko glaukoma selain pola makan kurang sehat yang perlu diperhatikan adalah:

  • Riwayat keluarga dengan glaukoma

  • Pengguna kacamata minus atau plus tinggi

  • Penderita diabetes dan tekanan darah tinggi

  • Riwayat cedera pada mata

  • Penggunaan obat anti-radang jangka panjang

Memahami faktor risiko ini penting agar deteksi dan pencegahan bisa dilakukan lebih awal.

3. Gejala glaukoma sering tidak disadari

Freepik/ASphotofamily

Glaukoma sering tidak menunjukkan gejala di tahap awal, sehingga banyak penderita baru menyadari saat kondisinya sudah parah. Inilah yang membuat glaukoma dikenal sebagai “pencuri penglihatan”. Gejala yang bisa muncul antara lain:

  • Mata terasa pegal

  • Penglihatan buram

  • Nyeri pada mata

  • Mata merah

  • Lapang pandang menyempit

  • Melihat lingkaran seperti pelangi di sekitar cahaya

Pada kondisi akut, gejala bisa lebih berat seperti pusing, sakit kepala, mual dan muntah. Gejala ini sering disalahartikan sebagai penyakit lain, sehingga penanganan menjadi terlambat. Oleh karena itu, penting untuk tidak mengabaikan tanda sekecil apa pun.

4. Deteksi dini penting untuk cegah kebutaan

Freepik

Kebutaan akibat glaukoma tidak dapat disembuhkan, tetapi bisa dikendalikan jika terdeteksi lebih awal. Deteksi dini menjadi langkah paling efektif untuk mencegah kondisi semakin parah. Pemeriksaan rutin ketika

  • Usia di bawah 40 tahun: setiap 2–4 tahun sekali

  • Usia di atas 40 tahun atau berisiko: setiap 1 tahun sekali

Jenis pemeriksaan yang dilakukan meliputi:

  • Pemeriksaan ketajaman penglihatan

  • Pengukuran tekanan bola mata (tonometri)

  • Evaluasi saraf optik

  • Pemeriksaan lapang pandang (perimetri)

  • Pemeriksaan sudut bilik mata (gonioskopi)

  • Pemeriksaan ketebalan kornea (pakimetri)

Dengan pemeriksaan rutin, potensi gangguan bisa dideteksi lebih cepat sebelum berkembang menjadi kebutaan.

5. Pilihan makanan manis yang lebih sehat

Freepik

Anak-anak memang menyukai makanan manis, tetapi konsumsi berlebihan perlu dibatasi. Mama bisa memilih alternatif yang lebih sehat agar tetap aman untuk tubuh. Beberapa pilihan makanan manis yang lebih sehat:

  • Buah segar dengan rasa manis alami, mengandung gula alami yang lebih aman dibanding gula tambahan, serta kaya vitamin, serat, dan antioksidan yang baik untuk daya tahan tubuh dan kesehatan mata.

  • Yogurt tanpa tambahan gula berlebih, sumber probiotik yang membantu kesehatan pencernaan, sekaligus mengandung kalsium dan protein untuk pertumbuhan tanpa lonjakan gula berlebih.

  • Dark chocolate dengan kadar kakao tinggi, mengandung antioksidan flavonoid yang baik untuk aliran darah, termasuk ke area mata, serta memiliki gula lebih rendah dibanding cokelat biasa.

  • Smoothies buah tanpa gula tambahan, memberikan kombinasi vitamin dan mineral dari buah secara praktis, tanpa tambahan gula yang bisa meningkatkan risiko masalah kesehatan jika dikonsumsi berlebihan.

Mengatur pola makan sejak dini membantu menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh, termasuk kesehatan mata.

6. Pengingat penting untuk Mama

Freepik

Kasus ini menjadi pengingat bahwa kesehatan anak tidak hanya soal aktivitas, tetapi juga kebiasaan sehari-hari yang sering dianggap sepele.

Mama perlu lebih peka terhadap pola makan, perubahan kondisi tubuh, serta kebiasaan kecil yang bisa berdampak jangka panjang. Berikut adalah hal-hal yang bisa mulai Mama terapkan:

  • Membatasi konsumsi gula berlebih, terutama dari camilan dan minuman manis yang sering dikonsumsi tanpa disadari

  • Mengajarkan pola hidup sehat sejak dini, termasuk makan seimbang, cukup istirahat, dan aktivitas fisik rutin

  • Rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, termasuk cek mata secara berkala meski tidak ada keluhan

  • Tidak mengabaikan keluhan sekecil apa pun, seperti mata lelah, buram, atau perubahan perilaku anak

Dengan perhatian yang konsisten, risiko penyakit serius bisa diminimalkan sejak awal. Menjaga kesehatan anak adalah hal yang tidak bisa diabaikan. Sudahkah Mama memperhatikan pola makan dan kesehatan mata si Kecil sejak sekarang?

Editorial Team