Terbiasa Makan Sehat, Apakah Anak Jadi Rentan Sakit saat Jajan Sembarangan?

- dr. Herlin Ramadhanti menjelaskan bahwa konsumsi gula dan karbohidrat berlebih bisa mengganggu keseimbangan nutrisi tubuh serta memicu sensasi nyaman semu akibat pelepasan dopamin dan beta endorfin.
- Tubuh yang sering mendapat asupan tinggi gula dapat menjadi sugar burner, membuatnya bergantung pada gula sebagai sumber energi utama dan berisiko mengalami hambatan pembakaran lemak.
- Anak yang terbiasa makan sehat bukan berarti lebih lemah saat jajan sembarangan, melainkan tubuhnya lebih peka terhadap perubahan pola makan sehingga muncul rasa tidak nyaman sebagai sinyal adaptasi alami.
Banyak orangtua yang beranggapan bahwa anak yang terlalu sering mengonsumsi makanan sehat justru membuat tubuh tidak kuat saat sesekali makan gorengan, makanan cepat saji, atau jajanan tak sehat lainnya.
Usai anak melakukan cheat meal, seketika tubuhnya terasa kurang nyaman. Hal ini membuat sejumlah orangtuya langsung beranggapan bahwa pola makan sehat yang biasa diterapkan justru membuat daya tahan tubuhnya melemah ketika jajan sembarangan.
Namun, apakah hal tersebut benar? Simak pembahasan selengkapnya telah Popmama.com siapkan melansir dari unggahan Instagram @dr.herlin.ramadhanti.
Table of Content
1. Konsumsi gula dan karbohidrat berlebih dapat memengaruhi keseimbangan tubuh

dr.Herlin Ramadhanti menjelaskan bahwa dalam pendekatan functional medicine, konsumsi gula dan karbohidrat sederhana secara berlebihan dapat menyebabkan ketidakseimbangan komposisi makronutrisi dalam pola makan sehari-hari.
Akibatnya, tubuh lebih banyak memperoleh energi dari gula dibandingkan sumber nutrisi lain yang lebih lengkap. Saat gula dan karbohidrat dikonsumsi dalam jumlah tinggi, tubuh akan merangsang pelepasan dopamin dan beta endorfin.
Kedua senyawa ini memberikan sensasi senang, nyaman, dan puas, sehingga seseorang merasa tubuhnya baik-baik saja setelah mengonsumsi makanan tinggi gula atau makanan olahan.
Perasaan tersebut sering kali membuat orang mengira tubuhnya ‘kebal’ terhadap makanan kurang sehat, padahal yang terjadi hanyalah respons sementara dari sistem penghargaan di otak.
2. Tubuh bisa menjadi semakin bergantung pada gula sebagai sumber energi

Sensasi nyaman setelah makan makanan manis atau tinggi karbohidrat dapat membentuk pola pikir bahwa tubuh selalu membutuhkan makanan tersebut agar tetap berenergi.
Misalnya, muncul anggapan belum makan jika belum mengonsumsi nasi, atau merasa tubuh hanya akan kembali bertenaga setelah minum minuman manis.
Dalam kondisi tertentu, pola ini dapat membuat tubuh lebih banyak mengandalkan gula sebagai bahan bakar utama atau dikenal sebagai sugar burner.
Jika berlangsung terus-menerus, kadar insulin yang sering meningkat juga berpotensi menghambat pembakaran lemak, sehingga tubuh semakin bergantung pada asupan gula dan karbohidrat untuk memenuhi kebutuhan energi sehari-hari.
3. Ketergantungan gula dapat memunculkan berbagai tanda pada tubuh

Ketika tubuh mulai terlalu bergantung pada gula, beberapa keluhan dapat muncul secara bertahap. Di antaranya adalah keinginan terus-menerus untuk mengonsumsi makanan manis atau camilan gurih, sering mengalami brain fog atau sulit berkonsentrasi, hingga sakit kepala tanpa penyebab yang jelas.
Selain itu, anak juga dapat mengalami gangguan tidur, craving gula yang sulit dikendalikan, perubahan suasana hati, rasa cemas, hingga gejala depresi. Pada sebagian orang, kondisi ini juga dapat disertai gangguan hormonal, seperti ketidakseimbangan hormon maupun migrain.
Berbagai tanda tersebut bisa menjadi sinyal bahwa metabolisme tubuh mulai mengalami gangguan, termasuk kemungkinan resistensi insulin yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut.
4. Tubuh bukan tidak kebal terhadap jajanan, tetapi lebih peka terhadap perubahan

Sering kali muncul anggapan bahwa anak yang menjalani pola makan sehat lebih mudah merasa tidak enak badan setelah mengonsumsi makanan cepat saji atau jajanan sembarangan.
Faktanya, kondisi tersebut bukan berarti tubuh menjadi lebih lemah atau kehilangan kekebalan. Saat mengonsumsi makanan yang tinggi gula, lemak, atau bahan tambahan lainnya, tubuh dapat memberikan sinyal berupa rasa begah, lemas, atau tidak nyaman.
Respons ini merupakan bentuk alarm alami bahwa tubuh sedang beradaptasi terhadap sesuatu yang berbeda dari pola makan sehari-hari. Jadi, bukan pertanda tubuh melemah.
5. Menjaga pola makan alami menjadi langkah terbaik untuk kesehatan jangka panjang

Tubuh pada dasarnya tidak langsung menjadi kebal terhadap ultra-processed food hanya karena anak terbiasa menerapkan pola makan sehat setiap harinya.
Oleh karena itu, menjaga keseimbangan tubuh lebih efektif dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat secara konsisten.
Mengutamakan makanan rumahan, memperbanyak konsumsi bahan pangan alami, memenuhi kebutuhan gizi seimbang, serta membatasi makanan ultra-proses dan produk tinggi gula dapat membantu tubuh anak bekerja secara optimal.
Sesekali menikmati makanan favorit tentu tidak masalah. Asalkan, anak tidak mengkonsumsinya secara berlebihan dan tetap diimbangi dengan makanan sehat lainnya.
Semoga informasinya membantu, ya!


















