Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Berapa Kebutuhan Gula Anak Per Hari Berdasarkan Usianya?
Pexels/Mikhail Nilov
  • IDAI menetapkan batas aman konsumsi gula harian anak berdasarkan usia, mulai dari 15 gram untuk usia 2 tahun hingga maksimal 37 gram untuk remaja 19 tahun.

  • Banyak minuman kemasan dan yogurt berperisa mengandung gula jauh melebihi kebutuhan harian anak, sehingga Mama perlu cermat membaca label gizi sebelum membeli.

  • Konsumsi gula berlebih dapat memicu hiperaktif sementara, obesitas, diabetes tipe dua, serta gangguan kognitif; disarankan mengganti camilan manis dengan buah segar atau yogurt polos.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Gula memang menjadi salah satu sumber energi yang dibutuhkan oleh tubuh si Kecil untuk mendukung aktivitas harian mereka yang aktif. 

Namun, konsumsi yang tidak terkontrol dan cenderung berlebihan justru bisa menjadi bumerang yang merusak kesehatan organ dalam anak sejak usia dini. 

Oleh karena itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI telah mengeluarkan panduan resmi mengenai ambang batas aman pemberian pemanis harian. 

Berikut Popmama.com rangkum panduan lengkap kebutuhan gula harian anak mengacu pada IDAI beserta dampak dan solusinya!

1. Batas gula harian berdasarkan usia anak

Pexels/Gustavo Fring

Mengetahui takaran pasti mengenai ambang batas pemanis harian yang boleh dikonsumsi oleh si Kecil merupakan langkah awal yang penting untuk mencegah terjadinya penumpukan kalori berlebih. 

Jika asupan yang diberikan sehari-hari melebihi kapasitas organ tubuhnya, maka zat tersebut akan disimpan sebagai lemak jenuh yang membahayakan kesehatan batin dan fisiknya.

Mengacu pada data resmi yang dikeluarkan oleh IDAI, berikut adalah batasan aman konsumsi gula harian yang wajib Mama perhatikan secara ketat berdasarkan rentang usia buah hati di rumah:

  • Usia 2-4 tahun, batas maksimal adalah 15-16 gram atau setara dengan 4 sendok teh per hari.

  • Usia 4-7 tahun, batas maksimal adalah 18-20 gram atau setara dengan 5 sendok teh per hari.

  • Usia 7-10 tahun, batas maksimal adalah 22-23 gram atau setara dengan 6 sendok teh per hari.

  • Usia 10-13 tahun, batas maksimal adalah 24-27 gram atau setara dengan 7 sendok teh per hari.

  • Usia 13-15 tahun, batas maksimal adalah 27-32 gram atau setara dengan 8 sendok teh per hari.

  • Usia 15-19 tahun, batas maksimal adalah 28-37 gram atau setara dengan 9 sendok teh per hari.

2. Rata-rata kandungan gula dalam minuman manis

Pexels/Helena Lopes

Banyak orangtua yang sering kali tidak menyadari bahwa sebagian besar asupan pemanis berlebih yang masuk ke tubuh si Kecil justru berasal dari produk cairan kemasan yang dijual bebas di pasaran. 

Minuman yang dikemas dengan visual yang menarik dan rasa yang menyegarkan sering kali menyimpan kandungan pemanis buatan yang jumlahnya berkali-kali lipat dari kebutuhan harian si Kecil. 

Membaca label informasi nilai gizi sebelum membelikan produk minuman siap saji menjadi kebiasaan mendasar yang harus dipupuk agar kita tidak kecolongan dalam memberikan asupan kalori kosong yang tidak bernutrisi bagi tubuh si Kecil.

Agar Mama bisa memiliki gambaran yang lebih jelas dan waspada, berikut adalah rata-rata kandungan pemanis yang tersembunyi di dalam setiap lima ratus mililiter produk minuman manis dan jus olahan:

  • Air berperisa, mengandung 2-5 sendok teh gula.

  • Minuman ekstrak, mengandung 5-8 sendok teh gula.

  • Minuman teh kemasan, mengandung 6-12 sendok teh gula.

  • Minuman jus (kandungan 30%-50% jus), mengandung 7-10 sendok teh gula.

  • Jus buah murni kemasan, mengandung 6-11 sendok teh gula.

  • Minuman soda, mengandung 11-17 sendok teh gula.

  • Minuman energi, mengandung 24-26 sendok teh gula.

3. Waspada kandungan gula yang tinggi dalam yogurt berperisa buah

Pexels/KATRIN BOLOVTSOVA

Produk olahan susu fermentasi seperti yogurt sering kali dianggap sebagai pilihan camilan yang sepenuhnya menyehatkan untuk pencernaan si Kecil. 

Namun, Mama perlu bersikap lebih selektif karena produk yogurt yang mengklaim memiliki rasa buah-buahan segar biasanya sudah melewati proses industri yang menambahkan pemanis dalam jumlah sangat masif. 

Bayangkan saja, di dalam satu kemasan kecil yogurt berperisa buah, kandungan pemanis tambahannya bisa mencapai tiga puluh gram. 

Jumlah tersebut tentu sudah jauh melampaui batas aman konsumsi harian untuk anak usia balita maupun sekolah dasar hanya dalam sekali makan. 

Alasan mengapa hal ini perlu dibatasi adalah karena pemanis instan tersebut dapat mengurangi efektivitas bakteri baik di dalam pencernaan serta memicu ketergantungan si Kecil pada cita rasa yang terlalu manis.

4. Mengenal perbedaan jenis gula yang dikonsumsi anak

Pexels/Pavel Danilyuk

Memahami klasifikasi pemanis sangat penting agar Mama tidak salah kaprah dalam menyusun menu makanan harian yang bernutrisi untuk si Kecil di rumah. 

Berikut adalah beberapa jenis yang perlu Mama ketahui:

  • Gula alami, yaitu karbohidrat sederhana yang ditemukan secara alamiah bersamaan dengan nutrisi penting lainnya seperti vitamin, mineral, dan serat, yang biasanya terkandung di dalam buah-buahan segar serta sayuran. 

  • Gula tambahan, yang sengaja digunakan oleh produsen atau juru masak untuk memberikan rasa manis pada makanan dan minuman olahan, dengan contoh nyata berupa sukrosa atau gula pasir, madu, fruktosa, dan glukosa. 

  • Gula bebas, yaitu jumlah total dari seluruh gula tambahan yang dimasukkan ke dalam makanan atau minuman olahan yang sering kali tersembunyi di dalam produk harian seperti minuman bersoda, yogurt berperisa buah, serta sereal sarapan pagi si Kecil.

5. Dampak instan saat anak mengonsumsi produk tinggi gula

Pexels/Ксения Хусанкова

Untuk memberikan visualisasi yang jelas, bayangkan sebuah kondisi saat si Kecil mengonsumsi sebotol minuman bersoda kemasan ukuran sedang yang mengandung pemanis tambahan sebanyak belasan sendok teh dalam satu waktu. 

Ketika zat pemanis dalam jumlah yang sangat masif tersebut masuk ke dalam tubuh, maka si Kecil akan langsung mengalami lonjakan kadar glukosa darah secara drastis dalam waktu singkat yang memicu kondisi hiperaktif atau lonjakan energi sesaat. 

Namun, tidak berselang lama setelah itu, tubuh si Kecil akan memproduksi hormon insulin secara agresif untuk menurunkan kadar glukosa tersebut.

Akibatnya, si Kecil akan mengalami kondisi penurunan energi secara drastis yang membuat mereka mendadak menjadi lemas, mudah rewel, pusing, hingga terus-menerus menuntut untuk mengonsumsi makanan manis lagi demi menaikkan kembali stamina tubuh mereka.

6. Dampak konsumsi gula berlebihan pada kesehatan anak

Pexels/Charles Parker

Membiarkan si Kecil terbiasa mengonsumsi pemanis di luar batas wajar secara terus-menerus akan membawa konsekuensi yang sangat mengerikan bagi kualitas hidup mereka di masa depan. 

  • Risiko terjadinya penyakit diabetes melitus tipe dua akibat rusaknya fungsi pankreas dalam memproduksi insulin. 

  • Kerusakan gigi atau karies.

  • Timbulnya penyakit kardiovaskular sejak usia muda akibat penumpukan plak pada pembuluh darah. 

  • Penurunan perkembangan fungsi kognitif otak si Kecil yang membuat mereka kesulitan untuk fokus belajar.

  • Memicu terjadinya penumpukan lemak tubuh yang berujung pada kondisi berat badan berlebih atau obesitas ekstrem.

7. Makanan dan minuman pengganti yang rendah gula

Pexels/Vlada Karpovich

Membatasi asupan pemanis bukan berarti Mama harus menghilangkan keceriaan si Kecil dalam menikmati camilan segar sehari-hari di rumah. 

Sebagai solusi yang aman dan tetap lezat, Mama bisa mengganti minuman kemasan dengan menyajikan air putih dingin yang diberi potongan buah segar atau infused water yang kaya akan vitamin. 

Untuk mengganti yogurt kemasan yang tinggi pemanis, Mama bisa memilih produk yogurt polos tanpa rasa lalu menambahkan madu murni atau potongan buah pisang sebagai pemanis alaminya. 

Sementara untuk camilan padat, sereal manis siap saji bisa diganti dengan olahan oat instan yang dicampur dengan susu cair murni, serta membiasakan si Kecil untuk mengonsumsi buah-buahan utuh yang kaya serat alami daripada membelikan mereka produk jus olahan kotak yang sudah kehilangan nutrisi aslinya.

Melihat begitu banyaknya kandungan pemanis tersembunyi di dalam jajanan kemasan sekitar rumah, langkah awal apa yang ingin Mama terapkan untuk mengalihkan kebiasaan jajan manis si Kecil menjadi gemar mengonsumsi buah segar mulai siang hari ini?

Editorial Team

Related Article