Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

7 Fakta Mengejutkan tentang Dampak Makanan Ultra Proses pada Otak Anak

7 Fakta Mengejutkan tentang Dampak Makanan Ultra Proses pada Otak Anak
Pexels/maxfischer
Intinya Sih
  • Penelitian 2026 menunjukkan konsumsi makanan ultra proses tinggi pada anak dapat memengaruhi struktur otak, terutama area yang mengatur emosi, motivasi, dan kebiasaan sejak usia dini.
  • Kebiasaan makan terbentuk sejak bayi berpengaruh jangka panjang; paparan makanan ultra proses di masa awal kehidupan bisa berdampak hingga anak tumbuh besar.
  • Para ahli menekankan pentingnya membangun pola makan sehat sedini mungkin dengan memperbanyak makanan segar dan menjadikan produk ultra proses hanya sebagai pilihan sesekali.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Nugget, sosis, keripik, minuman kemasan manis, hingga sereal instan mungkin sudah menjadi bagian dari menu harian banyak anak. Praktis, mudah ditemukan, dan biasanya disukai si Kecil.

Namun, sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam American Journal of Clinical Nutrition pada 2026 menemukan bahwa konsumsi makanan ultra proses atau ultra-processed foods (UPF) dalam jumlah tinggi berpotensi memengaruhi perkembangan otak anak sejak usia dini.

Meski sesekali mengonsumsinya bukan masalah, penelitian ini menjadi pengingat bagi Mama untuk lebih memperhatikan pola makan si Kecil selama masa tumbuh kembangnya.

Berikut beberapa fakta penting yang perlu Mama ketahui.

1. Lebih dari separuh asupan harian anak bisa berasal dari makanan ultra proses

Seorang anak sedang makan ice cream
Pexels/Antoniusferret

Peneliti menemukan bahwa konsumsi UPF meningkat drastis seiring pertambahan usia anak.

Saat berusia 6 bulan, makanan ultra proses hanya menyumbang sekitar 16 persen dari total asupan kalori. Namun ketika anak mencapai usia 6 tahun, angkanya melonjak hingga lebih dari 55 persen.

Artinya, lebih dari separuh energi yang masuk ke tubuh anak setiap hari berasal dari makanan olahan industri, bukan dari makanan segar seperti buah, sayur, ikan, telur, atau sumber protein alami lainnya.

2. Konsumsi UPF tinggi dikaitkan dengan perubahan struktur otak

Anak anak sedang makan snack bersama
Pexels/Antoniusferret

Salah satu temuan yang paling menarik dari penelitian ini adalah adanya hubungan antara konsumsi UPF yang tinggi dengan ukuran beberapa area otak yang lebih kecil pada anak usia 6 tahun.

Bagian otak yang terdampak berperan penting dalam mengatur emosi, motivasi, kebiasaan, hingga kemampuan merespons lingkungan sekitar.

Meski penelitian ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung, hasilnya menunjukkan bahwa kualitas makanan yang dikonsumsi anak dapat berpengaruh terhadap perkembangan otak mereka.

3. Kebiasaan makan sejak bayi ternyata sangat berpengaruh

Anak anak sedang makan snack bersama
Pexels/Antoniusferret

Mama mungkin berpikir bahwa pola makan baru penting saat anak mulai besar. Padahal, penelitian ini justru menunjukkan bahwa paparan makanan ultra proses sejak masa bayi dapat memberikan dampak jangka panjang.

Kebiasaan makan yang terbentuk sejak dini cenderung terbawa hingga anak bertambah usia. Karena itu, masa awal kehidupan menjadi waktu penting untuk mengenalkan makanan yang lebih beragam dan minim proses.

4. Bukan hanya fast food yang termasuk makanan ultra proses

Anak-anak sedang makan donat bersama
Pexels/kampusproduction

Saat mendengar istilah makanan ultra proses, banyak orang langsung teringat burger atau kentang goreng.

Padahal kategorinya jauh lebih luas, Ma.

Beberapa contoh UPF yang sering dikonsumsi anak antara lain minuman manis kemasan, sereal instan, camilan kemasan, mi instan, nugget, sosis, roti kemasan, hingga berbagai produk makanan siap saji lainnya.

Karena itu, penting bagi orangtua untuk mulai membiasakan membaca label kemasan sebelum membeli produk untuk anak.

5. Dampaknya bisa muncul sebelum terlihat dari prestasi belajar anak

Anak anak sedang makan pizza bersama
Pexels/maxfischer

Menariknya, para peneliti tidak menemukan penurunan kemampuan kognitif yang signifikan pada anak usia 6 tahun, seperti kemampuan mengingat atau berkonsentrasi.

Namun, mereka menemukan perubahan pada struktur otak yang mungkin menjadi tanda awal sebelum dampak yang lebih besar muncul di kemudian hari.

Dengan kata lain, kondisi ini bisa menjadi peringatan dini bagi orangtua untuk mulai memperhatikan kualitas makanan anak sejak sekarang.

6. Makanan ultra proses bisa membuat anak semakin sulit menolak makanan serupa

Anak anak sedang makan pizza bersama
Pexels/kampusproduction

Beberapa area otak yang terdampak oleh konsumsi UPF ternyata berkaitan dengan sistem penghargaan (reward system) dalam otak.

Sistem ini berhubungan dengan rasa senang saat makan, keinginan untuk mengulang pengalaman tertentu, dan kemampuan mengontrol diri.

Akibatnya, anak yang terbiasa mengonsumsi makanan tinggi gula, garam, atau lemak berisiko lebih sering menginginkan makanan serupa dan kesulitan beralih ke pilihan yang lebih sehat.

7. Usia 0–6 tahun adalah masa emas perkembangan otak

Anak anak sedang makan bersama
Pexels/kampusproduction

Tahun-tahun pertama kehidupan merupakan periode ketika otak berkembang dengan sangat cepat.

Pada masa ini, berbagai pengalaman sehari-hari, termasuk pola makan, membantu membentuk fondasi perkembangan anak untuk jangka panjang.

Karena itu, para ahli menilai bahwa upaya membangun kebiasaan makan sehat sebaiknya dimulai sedini mungkin, ketika orangtua masih memiliki peran besar dalam menentukan makanan yang dikonsumsi anak.

8. Apa yang Bisa Mama Lakukan?

Anak anak sedang makan snack
Pexels/Antoniusferret

Kabar baiknya, Mama tidak perlu langsung menghilangkan semua makanan kemasan dari rumah.

Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten justru lebih mudah diterapkan dalam jangka panjang, seperti:

  • Menyajikan lebih banyak buah dan sayuran segar setiap hari
  • Membiasakan anak makan bersama keluarga
  • Membatasi minuman manis kemasan
  • Memilih camilan yang lebih alami dan minim proses
  • Membaca label nutrisi sebelum membeli produk makanan
  • Menjadikan makanan ultra proses sebagai pilihan sesekali, bukan menu utama sehari-hari

Pada akhirnya, pola makan sehat bukan tentang menjadi sempurna, melainkan membantu anak mendapatkan nutrisi terbaik untuk mendukung tumbuh kembangnya. Semakin dini kebiasaan baik dibangun, semakin besar pula manfaatnya bagi kesehatan anak di masa depan.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina

Related Articles

See More