Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

10 Cara Ampuh Bikin Anak Nurut Tanpa Harus Disogok

10 Cara Ampuh Bikin Anak Nurut Tanpa Harus Disogok
Pexels/Artem Podrez
Intinya Sih
  • Ada dampak negatif kebiasaan menyogok anak agar nurut, karena membuat mereka hanya patuh jika ada imbalan.

  • Lauren Mejia membagikan 10 cara efektif agar anak mau bekerja sama tanpa sogokan, seperti memberi pilihan, rutinitas, dan konsekuensi logis.

  • Pendekatan ini menekankan komunikasi hangat, pengakuan perasaan anak, serta apresiasi positif untuk membangun kepatuhan dari kesadaran, bukan paksaan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Banyak orangtua merasa anak akan lebih kooperatif kalau diberi imbalan, seperti permen, uang, atau tontonan. Memang sih, trik ini ampuh dalam jangka pendek, Ma.

Tapi lama-kelamaan, anak jadi terbiasa nurut hanya kalau ada "bayarannya". Padahal, kerja sama sejatinya datang dari pengertian, bukan karena sogokan.

Nah, ternyata ada lho cara-cara lain agar anak mau mendengar dan menghargai batasan tanpa imbalan.

Seorang kreator Mama, Lauren Mejia, dalam akun Instagram miliknya menjelaskan bahwa cara bijak ini justru lebih ampuh mengajari kebiasaan baik agar anak mau nurut, Ma.

Yuk, langsung simak 10 caranya dalam rangkuman yang sudah Popmama.com siapkan berikut ini!

1. Pakai kata "Jika… Maka…"

orangtua menenangkan anak
Freepik

Biar anak mau langsung nurut tanpa Mama perlu amrah-marah, cobain pakai kata sebab-akibat "Jika... Maka..." deh, Ma.

Dengan kalimat ini, anak jadi paham hubungan antara tugas yang harus dilakukan dan konsekuensinya. Misalnya, "Jika sepatumu sudah terpasang, maka kita bisa pergi ke taman."

2. Beri pilihan tegas dengan tetap hormati keinginan anak

mama dengan anak laki-lakinya
Freepik

Anak suka merasa punya kendali, karena itu mereka terbiasa menerima apa yang Mama berikan. Dengan memberi dua pilihan, Mama tetap memegang kendali sambil menghormati keinginan anak.

Misalnya, "Kamu mau sikat gigi sebelum pakai piyama atau sesudah pakai piyama?"

3. Terkoneksi dahulu sebelum memberi perintah

mama memeluk anak perempuannya
Freepik

Jangan langsung perintah dari kejauhan, Ma. Coba dekati terlebih dahulu, tatap matanya, turunkan badan agar sejajar saat bicara dengan anak, dan panggil namanya.

Dengan cara seperti ini, anak akan merasa lebih diperhatikan. Mama bisa mencobanya dengan kalimat, "Dek, lihat Mama, deh. Tolong bantu ambilin handuk di kamar, ya."

4. Ganti jadi permainan

media sosial pada remaja
Freepik

Karena dunia anak itu bermain, sudah pasti mereka akan sulit menolak jika diajak bermain, Ma. Nah, Mama bisa mengganti tugas menjadi permainan, sehingga anak jadi semangat tanpa merasa terpaksa.

Misalnya, "Kamu bisa lompat ke kamar mandi seperti kelinci nggak?" saat mengajak anak untuk mandi. Atau "Ayo beresin mainan sebelum lagu ini habis!" saat meminta anak merapikan mainannya.

5. Beri petunjuk yang jelas

ventilasi udara cegah ISPA.jpg
Magnific/freepik

Mama juga sebaiknya menghindari kata-kata umum seperti "jangan nakal". Lebih baik sebutkan secara tepat dan jelas apa yang Mama minta agar anak tidak bingung.

Contoh kalimatnya, "Tolong balok warna warni itu dimasukkan ke dalam kotak biru ya, dek."

6. Pakai rutinitas, bukan omelan berulang

anak alami trauma.jpg
Freepik

Rutinitas membuat anak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dengan kebiasaan seperti itu, anak pun jadi tidak kaget atau melawan karena sudah hafal alurnya.

Misalnya setiap malam sebelum tidur sudah terbiasa dengan rutinitas, membersihkan badan terlebih dahulu, sikat gigi, baca cerita, lalu tidur.

Nah, kalau setiap malam terbentuk rutinitas seperti ini, anak pun terbiasa tidur cepat tanpa diomeli setiap saat.

7. Akui perasaan anak dengan tetap memegang aturan

anak bermain semprotan.jpg
Magnific/pvproductions

Anak boleh merasa malas atau kesal, tapi aturan tetap perlu dijalankan. Dengan diakui perasaannya, anak merasa didengar namun tetap belajar batasan.

Misalnya saat anak malas merapikan mainan, Mama bisa berkata, "Mama tahu kamu malas membereskan mainan sekarang. Tapi tetap waktunya beres-beres, ya."

8. Gunakan konsekuensi alami dan logis

anak belajar bersama orangtua
Magnific/prostooleh

Agar anak belajar tanggung jawab, Mama bisa membiarkan anak merasakan akibat dari tindakannya, asalkan hal tersebut masih dalam batas aman ya, Ma.

Contoh alaminya itu, kalau anak nggak pakai jaket, sudah pasti ia akan kedinginan.

Sementara contoh secara logisnya, kalau sepeda yang dimainkan tidak dirapikan, besok ia tidak bisa pakai sepedanya lagi.

Melakukan cara ini justru lebih mengena daripada diomeli berulang.

9. Beri apresiasi saat anak mau nurut

anak belajar bersama orangtua
Magnific/freepik

Jangan hanya fokus saat anak nakal. Saat anak mau bekerja sama, jangan lupa untuk memberi apresiasi agar anak termotivasi untuk mau mengulanginya.

Misalnya, "Nah, gitu dong tadi kamu langsung ke sini pas Mama panggil sekali saja. Mama senang banget deh, soalnya kamu udah membantu banget, lho."

10. Ajak kerja sama dahulu

lemari pakaian anak
Magnific/bearfotos

Banyak anak lebih kooperatif kalau merasa didukung, bukan diperintah sendiri. Nah, Mama coba deh mulai bersama beberapa langkah pertama.

Daripada mengomeli anak terus-menerus, coba deh kalimat sederhana seperti, "Ayo, kita rapikan kamar bareng-bareng!"

Memberi imbalan memang mudah, tapi mendidik anak dengan kesadaran dan rasa dihargai akan lebih membekalinya di masa depan, Ma.

Coba terapkan satu atau dua cara di atas secara konsisten, dan rasakan secara perlahan perbedaan pada anak. Nantinya, anak akan belajar bekerja sama bukan karena "dibayar", tapi karena dia mengerti dan merasa diperhatikan.

Semoga informasinya bermanfaat ya, Ma.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina

Related Articles

See More