“Kebetulan daddy-nya Bram pemain skate dari dulu, jadi daddy memberi contoh terlebih dahulu. Pertama kali Bram hanya diajak ke skatepark, cuma main-main. Di sana banyak anak-anak yang umurnya di atas Bram, sekitar 6 tahun ke atas. Setiap minggu diulang terus sampai akhirnya mau coba main skate sendiri,” cerita Mama Yoni eksklusif kepada Popmama.com.
Mengenal Bram, Anak 2 Tahun yang Sudah Bisa Main Skateboard

Bram, anak 2 tahun, mulai mengenal skateboard lewat kunjungan rutin ke skatepark bersama Papa Yudha tanpa target trik. Ia bermain dan mengamati sebelum tertarik mencoba sendiri.
Orangtua selalu mendampingi Bram secara bertahap dengan memberi contoh, memegangnya saat belajar, menjelaskan sebab-akibat ketika jatuh, lalu memberi ruang sambil tetap mengawasi dari dekat.
Skateboard bagi Bram juga menjadi sarana belajar sabar, tanggung jawab, toleransi, dan interaksi; keluarga menjaga keseimbangan aktivitas melalui bermain, makan bergizi, tidur cukup, serta apresiasi positif.
Melihat anak balita bermain skateboard mungkin terasa tidak biasa bagi sebagian orangtua. Selain membutuhkan kemampuan menjaga keseimbangan, olahraga ini juga membuat anak perlu belajar menghadapi tantangan dan kemungkinan terjatuh.
Hal tersebut juga menjadi pengalaman bagi Yoel Bramasta atau akrab disapa Bram (2) di akun Instagram @bramasta__pa, anak dari Mama Yoni dan Papa Yudha. Bram diketahui kerap menghabiskan waktu di skatepark dan belajar skateboard dengan sang Papa yang memang sudah lama bermain olahraga tersebut.
Namun, proses Bram belajar skateboard tidak langsung dimulai dengan latihan serius. Mama Yoni dan Papa Yudha terlebih dahulu mengenalkan lingkungan skatepark kepada Bram sebagai tempat bermain hingga akhirnya ia memiliki keinginan untuk mencoba sendiri.
Lantas, seperti apa pengalaman orangtua mendampingi anak balita mengenal olahraga yang penuh tantangan ini? Berikut Popmama.com rangkum informasinya!
Table of Content
1. Bram dikenalkan skateboard secara perlahan agar merasa nyaman

Dok. Istimewa Bagi Mama Yoni dan Papa Yudha, mengenalkan skateboard kepada Bram bukan tentang membuatnya langsung mahir melakukan trik tertentu. Bram justru lebih dulu diajak datang ke skatepark dan bermain sambil melihat anak-anak lain berlatih.
Mama Yoni bercerita, Papa Yudha yang sudah lebih dulu mengenal dunia skateboard menjadi sosok yang memberikan contoh kepada Bram. Dari sekadar melihat dan bermain di skatepark, Bram kemudian perlahan tertarik untuk mencoba.
Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip active play pada anak usia dini menjelaskan bahwa aktivitas fisik pada usia dini penting untuk mendukung perkembangan motorik dan kognitif, sementara bermain aktif menjadi bagian penting dari keseharian anak.
2. Saat terjatuh, Bram divalidasi dan diberi pemahaman
Jatuh merupakan bagian yang mungkin terjadi ketika anak belajar menjaga keseimbangan. Karena itu, Mama Yoni dan Papa Yudha tidak hanya berusaha membuat Bram merasa aman, tetapi juga membantunya memahami apa yang terjadi.
Mama Yoni mengatakan, setiap pengalaman tersebut diberikan penjelasan agar Bram perlahan terbiasa menghadapi situasi yang mungkin membuatnya takut.
“Validasi dari pertama kali sampai Bram terbiasa sama hal tersebut, selalu jelaskan sebab akibat dari hal tersebut. Jadi kalau ada sesuatu yang terjadi, kami berusaha menjelaskan kepada Bram apa penyebabnya dan apa akibatnya,” ujar Mama Yoni.
Pendekatan ini penting karena pengalaman baru pada anak sebaiknya tetap disesuaikan dengan usia dan kemampuan fisiknya. American Academy of Pediatrics (AAP) juga menekankan pentingnya memilih aktivitas olahraga yang sesuai dengan usia, perkembangan, serta kemampuan fisik anak.
3. Papa Yudha mendampingi dari dekat sebelum memberi ruang

Instagram.com/bramasta__pa Dalam proses belajar, Bram tidak langsung dilepas untuk bermain skateboard sendirian. Papa Yudha terlebih dahulu memberikan contoh, kemudian membantu memegang Bram saat mencoba hingga merasa cukup yakin untuk memberikan ruang.
Meski sudah dilepas, Papa Yudha tetap berada di dekat Bram dan mengikuti pergerakannya. Dengan begitu, Bram bisa belajar mengontrol keseimbangan sekaligus tetap mendapatkan pendampingan dari orang dewasa.
“Pertama itu Bram dikasih contoh sama daddy, lalu Bram dikasih coba tapi dipegang dulu sampai daddy-nya yakin untuk dilepas. Setelah itu baru pelan-pelan dilepas, tapi tetap daddy-nya ikut lari-lari ngikut Bram,” kata Mama Yoni.
Mama Yoni sendiri tidak banyak terlibat langsung dalam sesi latihan karena Papa Yudha yang menjadi pendamping utama Bram saat bermain skateboard. Namun, keluarga tetap memastikan kegiatan tersebut berlangsung dengan pengawasan.
4. Kuta Skatepark menjadi tempat Bram belajar bersama Papa

Instagram.com/bramasta__pa Sejak awal mengenal skateboard, Bram berlatih di Kuta Skatepark, Bali. Menurut Mama Yoni, lingkungan tersebut juga menjadi tempat yang familiar bagi keluarga karena Papa Yudha memiliki teman-teman yang bermain sekaligus menjadi pelatih skateboard.
Mama Yoni menjelaskan bahwa menurut keluarga, tempat latihan dapat menjadi lingkungan yang aman bagi Bram selama anak mendapatkan pengawasan dari orang yang memahami olahraga tersebut.
“Semua tempat skate aman buat Bram selama ada pengawasan dari ahlinya. Tapi dari awal Bram latihan di Kuta Skatepark, Bali. Di sana banyak teman-teman daddy yang notabene-nya pelatih skate juga,” jelas Mama Yoni.
Untuk olahraga yang memiliki risiko jatuh seperti skateboard, pengawasan dan perlengkapan keselamatan tetap menjadi hal penting. AAP menyarankan anak menggunakan perlengkapan pelindung yang sesuai dan berukuran tepat ketika melakukan aktivitas olahraga.
5. Bukan hanya soal trik, Bram belajar sabar dan bertanggung jawab

Instagram.com/bramasta__pa Bagi keluarga Bram, skateboard tidak hanya menjadi aktivitas fisik. Ada berbagai nilai yang menurut Mama Yoni bisa dipelajari Bram melalui pengalamannya di skatepark.
Bram belajar bahwa kemampuan tidak datang dalam satu kali percobaan. Ia perlu berlatih, mencoba kembali, berinteraksi dengan orang lain, sekaligus memahami aturan yang berlaku ketika bermain bersama.
“Banyak sebenarnya yang diajarin dari skateboard. Mungkin yang bisa dirasain itu sabar, kerja keras, bertanggung jawab, toleransi, dan gotong royong. Jadi bukan cuma soal Bram bisa melakukan trik tertentu, tetapi ada banyak hal yang bisa dipelajari dari prosesnya,” tutur Mama Yoni.
Hal ini sejalan dengan pandangan WHO bahwa aktivitas fisik pada anak tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik. Aktivitas fisik yang cukup juga berkaitan dengan perkembangan kognitif, kesehatan mental, serta kemampuan motorik anak.
6. Latihan 5-6 kali seminggu tidak selalu berarti latihan serius

Instagram.com/bramasta__pa Bram bisa menghabiskan waktu di skatepark sekitar lima sampai enam hari dalam seminggu. Namun, Mama Yoni menegaskan bahwa tidak setiap kunjungan berarti Bram harus berlatih trik atau melakukan latihan serius.
Ada kalanya Bram hanya bermain, bersantai, atau berinteraksi dengan teman-temannya. Bahkan, keluarga terkadang datang bersama-sama sehingga aktivitas di skatepark juga menjadi bagian dari waktu keluarga.
“Dalam seminggu Bram bisa dibilang latihan 5-6 hari. Tapi tidak selalu selama latihan itu serius ngulik trik. Ada kala cuma refresh atau sekadar main-main sama teman-teman di skatepark. Terkadang kita sekeluarga ikut ke skatepark juga, jadi Bram tidak akan merasa waktu bersama keluarga itu kurang,” kata Mama Yoni.
Pendekatan tersebut menarik jika dilihat dari kebutuhan anak usia dini. WHO merekomendasikan anak di bawah lima tahun mendapatkan aktivitas fisik yang cukup sepanjang hari, tetapi aktivitas tersebut tidak harus selalu berbentuk latihan olahraga terstruktur.
Pada usia 1-2 tahun, misalnya, WHO menganjurkan setidaknya 180 menit aktivitas fisik dalam berbagai bentuk sepanjang hari. Anak usia 3-4 tahun juga dianjurkan aktif setidaknya 180 menit sehari dengan sebagian waktunya berupa aktivitas intensitas sedang hingga berat.
7. Makan bergizi dan tidur cukup menjadi bagian dari persiapan Bram

Dok. ISTIMEWA Aktif bergerak membuat kebutuhan dasar anak seperti makan dan istirahat tetap perlu diperhatikan. Mama Yoni tidak memberikan patokan khusus yang berlaku untuk semua anak karena kebutuhan setiap anak bisa berbeda.
Di keluarga Bram, perhatian lebih diarahkan pada pola makan bergizi seimbang dan memastikan Bram mendapatkan waktu tidur yang cukup, baik tidur siang maupun malam.
“Kalau kebutuhan itu kan setiap anak berbeda. Di sini kami kami memastikan Bram itu makan yang bergizi seimbang dan tidur yang cukup, entah tidur siang atau tidur malam. Jadi saat Bram beraktivitas, tenaganya tetap stabil,” ungkap Mama Yoni.
WHO juga menempatkan aktivitas fisik, waktu sedentari, dan tidur sebagai bagian yang saling berkaitan dalam keseharian anak usia dini. Karena itu, anak yang aktif bergerak tetap membutuhkan waktu tidur yang berkualitas dan rutinitas harian yang seimbang.
8. Bram diapresiasi mama dan papa tidak hanya saat berhasil melakukan trik
Bagi Mama Yoni dan Papa Yudha, memberikan apresiasi kepada Bram tidak harus menunggu ia berhasil melakukan sesuatu yang sulit. Keluarga juga berusaha membuat pengalaman di skatepark menyenangkan dengan memperhatikan hal-hal kecil yang disukai Bram.
Salah satunya adalah menyiapkan bekal sesuai permintaan Bram. Jika tidak sempat membuat sendiri, orangtua akan membelikan makanan yang diinginkan Bram selama masih sesuai untuknya. Setelah beraktivitas, bentuk apresiasi juga diberikan melalui pelukan, tepuk tangan, dan kata-kata positif.
“Kalau dibilang tepat itu setiap orang punya POV-nya sendiri. Tapi kami keluarga, setiap latihan pasti buat bekal sesuai request Bram. Kalau tidak sempat buat, biasanya beli apa yang Bram mau selama itu masih cocok buat Bram. Dan yang pasti peluk, tepuk tangan, dan selalu bilang Bram itu ganteng, berani, hebat, dan menjadi berkat buat orang sekitar,” ujar Mama Yoni.
Cara tersebut membuat apresiasi tidak hanya terfokus pada kemampuan atau prestasi Bram saat bermain skateboard. Ia juga mendapatkan penguatan positif karena sudah berani mencoba, menikmati aktivitas, dan menjadi dirinya sendiri.
Pada akhirnya, pengalaman Bram menunjukkan bahwa mengenalkan olahraga kepada anak balita tidak selalu harus dimulai dari target kemampuan. Bagi Mama Yoni dan Papa Yudha, prosesnya justru dimulai dari bermain, melihat contoh, merasa nyaman, kemudian berani mencoba.




-27LNYaQ6tCEfrlaGfeEUiuCg3KJdNhk9.jpg)
-ZgcPATonC2V5p2qME1G5yZ3tUaHfuWZ4.jpg)















