Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Kasus Daycare Little Aresha: Tubuh Anak Mengingat Kekerasan dan Trauma

Kasus Daycare Little Aresha: Tubuh Anak Mengingat Kekerasan dan Trauma
x.com/bilbiils_
Intinya Sih
  • Kasus Daycare Little Aresha di Yogyakarta mengungkap dugaan kekerasan terhadap anak, dengan 13 orang ditetapkan sebagai tersangka termasuk pimpinan yayasan dan kepala sekolah.
  • Psikolog menjelaskan bahwa meski balita belum mampu bercerita, tubuh dan pikiran mereka tetap merekam trauma yang dialami sehingga dapat memengaruhi perkembangan emosional dan psikologisnya.
  • Anak korban kekerasan menunjukkan perubahan perilaku seperti lebih lengket pada orangtua, mudah takut, sulit tidur, hingga regresi perkembangan yang menandakan adanya tekanan emosional mendalam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kasus Daycare Little Aresha yang viral di Yogyakarta membuat geram banyak pihak, apalagi para orangtua. Daycare Little Aresha terletak di Umbulharjo, Yogyakarta, itu kini tengah diselidiki secara mendalam dan mengungkap fakta baru. 

Polisi menyebut Ketua Yayasan berinisial DK dan Kepala Sekolah AP diduga menginstruksikan 11 pengasuh untuk mengikat tangan dan kaki anak-anak. Instruksi itu disampaikan secara lisan tanpa SOP tertulis, bahkan keduanya disebut hadir setiap pagi dan mengetahui langsung praktik tersebut. 

Tentunya dugaan penyiksaan dengan mengikat kaki dan tangan korban anak-anak ini bisa memberikan trauma berkepanjangan. Disebutkan oleh Irma Gustiana A, S.Psi., M.Psi., Psikolog., CPC., Psikolog Klinis - Anak, Remaja dan Keluarga di Instagramnya lewat video saat tampil di Berita Satu TV menyebut tubuh dan badan anak ‘mengingat’ dengan jelas trauma tersebut meski mereka tidak bisa menceritakannya secara lisan.

“Anak balita belum bisa menceritakan tentang pengalaman kekerasan yang dialami tapi trauma itu bisa direkam oleh tubuh dan pikirannya,” jelas Irma di Instagramnya, Selasa (28/4/2026).

Sebagai informasi, sebanyak 13 pelaku sudah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus Daycare Little Aresha ini. Polisi kini masih menyelidiki lebih lanjut.

Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya.

1. Dugaan penyiksaan ke anak-anak diketahui banyak pihak daycare

daycare little aresha
Threads.com/@prabaniswara

Disinggung sebelumnya mengenai SOP bahwa anak-anak diikat tangan dan kakinya sepanjang hari oleh 11 pengasuh. Dari hasil interogasi polisi menyebut cara ini sudah berlangsung lama dan diwariskan dari pengasuh sebelumnya.

Anak-anak diikat sejak datang ke daycare hingga dijemput orangtua, dengan ikatan hanya dilepas saat mandi, makan, atau saat laporan kepada wali. Hasil visum terhadap tiga anak menunjukkan luka di pergelangan yang diduga akibat ikatan. 

Polisi menduga motifnya karena faktor ekonomi, lantaran jumlah anak jauh lebih banyak dibanding pengasuh, sementara daycare tetap menerima banyak titipan demi keuntungan.

2. Trauma tetap terekam meski anak belum bisa bercerita

irma psikolog
Instagram.com/ayankirma

Pada usia balita, kemampuan bahasa anak memang masih terbatas. Mereka belum bisa menjelaskan apa yang dialami, apalagi jika berkaitan dengan pengalaman yang menyakitkan atau membingungkan. Namun, bukan berarti mereka tidak mengingat.

“Anak balita belum bisa menceritakan tentang pengalaman kekerasan yang dialami, tapi trauma itu bisa direkam oleh tubuh dan pikirannya. Di usia ini memori mereka belum selalu bisa membentuk cerita secara verbal, tapi tubuh dan sistem sarafnya sudah bisa merekam pengalaman yang mereka rasakan,” tutur Irma.

“Hal-hal seperti ini sangat mungkin memberikan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan dan perkembangan mereka secara psikologis, apalagi terjadi di usia dini di mana anak membutuhkan lingkungan yang aman untuk bertumbuh dan berkembang,” imbuhnya.

Trauma tetap tersimpan dalam bentuk respons tubuh dan emosi. Inilah yang membuat dampaknya bisa muncul dalam bentuk perubahan perilaku, bahkan hingga jangka panjang jika tidak ditangani dengan tepat.

3. Anak jadi lebih lengket, mudah takut, dan sulit tidur

ilustrasi pendampingan psikologi
Pexels/Gustavo Fring

Perubahan perilaku ini sering kali menjadi tanda awal bahwa anak sedang mengalami tekanan emosional. Anak bisa menjadi lebih sensitif terhadap lingkungan sekitar, bahkan terhadap hal-hal yang sebelumnya tidak membuatnya takut.

Gangguan tidur dan mimpi buruk juga menjadi sinyal penting. Ini menunjukkan bahwa pengalaman traumatis tersebut masih “diproses” oleh otak anak, bahkan saat mereka beristirahat.

“Anak-anak yang mengalami trauma terkait kekerasan biasanya menunjukkan banyak perubahan. Misalnya mendadak sangat lengket ke orangtuanya atau menjadi takut terpisah. Kemudian mereka bisa menangis berlebihan saat melihat sesuatu, entah tempat atau orang tertentu. Selain itu juga sering disertai sulit tidur, mimpi buruk, hingga perubahan nafsu makan,” jelas Irma.

4. Rewel, mudah kaget hingga regresi jadi tanda penting

daycare little aresha
x.com/chanyeolans; x.com/irajenar

Regresi atau kemunduran perkembangan menjadi salah satu tanda yang cukup umum pada anak yang mengalami trauma. Hal ini terjadi karena anak kembali ke fase di mana mereka merasa lebih aman.

“Ada juga anak yang menunjukkan perilaku gampang kaget terhadap suatu stimulus, menjadi jauh lebih rewel dari biasanya, dan sulit untuk ditenangkan. Lalu mengalami regresi, misalnya tadinya sudah tidak ngompol, akhirnya kembali ngompol. Perubahan-perubahan seperti ini perlu menjadi tanda yang signifikan agar orangtua segera memberikan intervensi, seperti pendampingan atau psikoterapi,” pungkas Irma.

Karena itu, kepekaan orangtua sangat dibutuhkan. Jika perubahan perilaku ini mulai terlihat, penting untuk segera mencari bantuan profesional agar anak mendapatkan pendampingan yang tepat dan proses pemulihan bisa berjalan optimal.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Related Articles

See More