“Setiap anak memiliki kondisi yang berbeda, sehingga pendekatan penanganannya pun tidak bisa disamaratakan,” jelas dr. Molly.
8 Fakta Penting tentang Alergi Susu Sapi pada Anak

- Sarihusada melalui inisiatif SADAR Alergi mengadakan edukasi World Allergy Week 2026 di Jakarta, membahas pentingnya deteksi dini dan pemenuhan nutrisi anak dengan alergi susu sapi.
- Alergi susu sapi cukup umum pada anak dengan gejala beragam seperti ruam dan gangguan pencernaan, sehingga diagnosis medis diperlukan agar penanganan sesuai tingkat keparahan.
- Para ahli menekankan ASI tetap terbaik, pemilihan formula harus tepat, serta kolaborasi orangtua dan tenaga medis penting untuk mencegah dampak jangka panjang pada tumbuh kembang anak.
Ruam kulit, perut sering bermasalah, atau si Kecil jadi lebih rewel setelah minum susu? Jangan buru-buru menganggapnya sebagai masalah biasa, Ma. Bisa jadi itu merupakan tanda alergi protein susu sapi (APSS).
Menyambut World Allergy Week 2026, Sarihusada melalui inisiatif SADAR Alergi menggelar sesi edukasi pada Kamis (11/6/2026) di Jakarta dengan menghadirkan Vera Saw, dr. Molly Dumakuri Oktarina, Sp.A(K), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, serta momfluencer Sandra Devita. Dalam kesempatan tersebut, para narasumber membahas pentingnya deteksi dini, konsultasi medis, dan pemenuhan nutrisi yang tepat bagi anak dengan alergi susu sapi agar tumbuh kembangnya tetap optimal.
Sayangnya, masih banyak orangtua yang kesulitan membedakan gejala alergi susu sapi dengan keluhan kesehatan umum lainnya. Nah, supaya Mama tidak salah langkah, berikut 8 fakta penting yang perlu diketahui tentang alergi susu sapi pada anak.
1. Alergi susu sapi termasuk salah satu alergi yang cukup sering terjadi pada anak

Meski terdengar sepele, alergi protein susu sapi ternyata cukup banyak ditemukan pada anak usia dini.
Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition (2025), prevalensi alergi susu sapi di dunia berkisar antara 2 hingga 7,5 persen. Sementara itu, data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menunjukkan angka kejadiannya di Indonesia juga dapat mencapai 7,5 persen.
Karena cukup umum terjadi, penting bagi orangtua untuk mengenali tanda-tandanya sejak dini agar anak bisa mendapatkan penanganan yang tepat.
2. Gejalanya sering menyerupai masalah kesehatan sehari-hari

Salah satu tantangan terbesar dalam mendeteksi alergi susu sapi adalah gejalanya yang tidak selalu khas.
Beberapa anak bisa mengalami ruam pada kulit, gangguan pencernaan seperti diare atau sembelit, hingga perubahan perilaku setelah mengonsumsi susu atau produk turunannya.
Karena gejalanya mirip dengan keluhan yang sering dialami anak, banyak orangtua mengira kondisi tersebut hanyalah masalah biasa dan tidak berkaitan dengan alergi.
3. Setiap anak bisa menunjukkan gejala yang berbeda

Tidak semua anak dengan alergi susu sapi mengalami reaksi yang sama.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Imunologi, dr. Molly Dumakuri Oktarina, Sp.A(K), menjelaskan bahwa tingkat keparahan gejala bisa berbeda-beda pada setiap anak.
Ada anak yang hanya mengalami gejala ringan, tetapi ada pula yang menunjukkan reaksi sedang hingga berat sehingga membutuhkan pemantauan lebih intensif.
4. ASI tetap menjadi pilihan nutrisi terbaik

Bagi bayi yang masih mendapatkan ASI, Mama tidak perlu langsung menghentikan pemberian ASI ketika anak didiagnosis alergi susu sapi.
Menurut dr. Molly, ASI tetap menjadi sumber nutrisi terbaik untuk anak, termasuk bagi anak dengan alergi protein susu sapi.
“ASI merupakan nutrisi terbaik bagi anak, termasuk pada anak dengan alergi protein susu sapi. Namun ibu perlu menghindari konsumsi susu sapi dan produk turunannya sebagai bagian dari penanganan,” ujarnya.
Karena itu, konsultasi dengan dokter menjadi langkah penting agar kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi.
5. Tidak semua susu formula cocok untuk anak dengan alergi susu sapi

Masih banyak orangtua yang mengira semua susu khusus alergi memiliki fungsi yang sama. Padahal kenyataannya tidak demikian.
Menurut dr. Molly, pemilihan formula harus disesuaikan dengan kondisi dan tingkat keparahan alergi anak.
Beberapa pilihan yang biasa direkomendasikan dokter antara lain:
- Formula terhidrolisa ekstensif (eHF) untuk alergi ringan hingga sedang
- Formula asam amino (AAF) untuk alergi yang lebih berat
- Formula berbasis soya sebagai alternatif pada kondisi tertentu
Sementara itu, susu terhidrolisat parsial (PHF) tidak direkomendasikan sebagai terapi alergi susu sapi.
6. Self-diagnosis bisa membuat penanganan terlambat

Di tengah banyaknya informasi kesehatan yang beredar di media sosial, tidak sedikit orangtua yang mencoba menyimpulkan sendiri kondisi anak.
Padahal, diagnosis alergi susu sapi tidak bisa ditegakkan hanya berdasarkan satu atau dua gejala.
Healthcare Nutrition Director Sarihusada, Vera Saw, mengingatkan bahwa masih banyak tantangan terkait kebiasaan melakukan self-diagnosis tanpa konsultasi medis.
“Di tengah banyaknya informasi yang beredar, masih terdapat tantangan self-diagnosis tanpa konsultasi medis yang tepat, sehingga kolaborasi antara orang tua, tenaga kesehatan, dan edukasi berbasis sains menjadi kunci,” kata Vera Saw.
Karena itu, jika Mama mencurigai adanya alergi susu sapi, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter anak.
7. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan fisik anak

Alergi susu sapi bukan sekadar masalah ruam atau gangguan pencernaan.
Medical and Scientific Affairs Director Sarihusada, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menjelaskan bahwa penanganan yang kurang tepat dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan anak.
“Tata laksana alergi susu sapi yang tidak tepat dapat memengaruhi kecukupan asupan yang dibutuhkan anak untuk tumbuh kembang secara optimal. Dalam jangka panjang, hal ini dapat berujung pada stunting,” jelas dr. Ray.
Ia juga menambahkan bahwa dampaknya bisa dirasakan pada kualitas hidup anak secara keseluruhan, termasuk aspek psikologis, sosial, hingga tantangan yang dihadapi keluarga dalam kehidupan sehari-hari.
8. Orangtua tidak perlu menghadapi kondisi ini sendirian

Menghadapi anak dengan alergi susu sapi memang bisa menjadi perjalanan yang penuh kekhawatiran.
Hal tersebut juga dirasakan oleh momfluencer Sandra Devita yang memiliki anak dengan alergi susu sapi.
“Awalnya saya sempat bingung harus mengambil langkah apa. Karena gejalanya tidak kunjung membaik, saya jadi bolak-balik ke dokter anak dan itu cukup menguras waktu, biaya, serta pikiran saya sebagai seorang ibu,” ungkap Sandra.
Dari pengalamannya, Sandra belajar bahwa orangtua tidak boleh langsung mengambil kesimpulan sendiri.
“Menjadi orang tua tidak cukup hanya SADAR alergi saja, tetapi juga perlu mengambil langkah nyata seperti berkonsultasi dengan dokter spesialis anak untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat sesuai kondisi anak,” tambahnya.
Sebagai bagian dari peringatan World Allergy Week 2026, Sarihusada juga berkolaborasi dengan Alodokter untuk menghadirkan layanan konsultasi gratis dengan dokter anak. Selain itu, Mama juga bisa mencari informasi edukatif melalui tagar #SADARAlergi di media sosial.
Itulah 8 fakta penting tentang alergi susu sapi pada anak yang perlu diketahui orangtua. Dengan mengenali gejalanya lebih awal dan berkonsultasi dengan dokter, Mama dapat membantu memastikan kebutuhan nutrisi serta tumbuh kembang si Kecil tetap optimal.



















