Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Jangan Sampai Campak Rusak Momen Lebaran, Pastikan Vaksinasi Anak Terpenuhi
Freepik

Hari Raya Idulfitri tinggal menghitung hari, momen yang paling dinantikan buat berkumpul bersama keluarga besar dan sanak saudara pun sangat dinanti.

Tapi di balik euforia mudik dan halal bihalal, ada kekhawatiran yang mengkhawatirkan hati para orangtua, yakni risiko penularan campak yang sedang marak dan menular secepat kilat ke si Kecil.

Ma, bayangin deh, momen silaturahmi yang seharusnya hangat malah bikin waswas karena takut si kecil tertular. Apalagi campak bukan penyakit biasa, komplikasinya bisa serius banget, terutama buat anak yang imunitasnya belum sekuat orang dewasa.

Data Kementerian Kesehatan RI mencatat hingga minggu ke-7 tahun 2026, sudah ada lebih dari 8.224 kasus suspek campak dengan 4 kematian. IDAI bahkan menyebut Indonesia di peringkat kedua dunia dengan KLB Campak!

Nah, biar Mama tetap tenang mudik dan berkumpul tanpa waswas, berikut Popmama.com rangkumkan beberapa hal penting tentang campak dan cara melindungi si Kecil.

1. Penularan campak sangat cepat

Freepik

Orangtua perlu waspada akan penularan campak yang bisa menyebar sangat cepat, mirip seperti virus Covid-19 yang dulu pernah kita alami, Ma.

Virus ini menyebar melalui percikan liur (droplets) dari mulut dan hidung penderita saat batuk, bersin, atau berbicara. Bahkan, si Kecil bisa tertular hanya dengan menyentuh benda yang terkontaminasi droplets.

Yang lebih bikin khawatir, virus campak bisa bertahan di udara hingga 2 jam, terutama di ruangan dengan sirkulasi udara tertutup.

Seseorang yang terinfeksi juga sudah bisa menularkan virusnya 4 hari sebelum gejala muncul hingga 4 hari setelah ruam timbul. Kalau kita nggak waspada, akan makin cepat penyebarannya, Ma.

2. Kenali gejala campak pada anak sejak dini

Freepik

Mama perlu jeli mengenali gejala campak supaya penanganannya bisa segera dilakukan. Awalnya, si Kecil mungkin akan mengalami beberapa gejala berikut:

  • Demam

  • Batuk kering

  • Pilek atau hidung tersumbat

  • Lemas

  • Muntah

  • Tidak nafsu makan

  • Diare

Beberapa hari setelah gejala awal muncul, biasanya timbul ruam kemerahan di area wajah dan leher, lalu menyebar ke hampir seluruh tubuh.

Ukuran ruam awalnya memang kecil, tapi bisa menyatu dan membentuk ruam besar. Jika si Kecil mengalami gejala ini, jangan tunda untuk membawanya ke dokter spesialis anak, ya!

3. Penuhi vaksinasi untuk cegah komplikasi serius

Freepik/pressfoto

Namun sayangnya, sampai dengan saat ini, belum ada antivirus khusus untuk mengobati campak.

Penanganan yang diberikan hanya bersifat suportif untuk meredakan gejala, seperti istirahat cukup, menjaga asupan cairan, serta pemberian vitamin A dosis tinggi sesuai rekomendasi dokter.

Itulah mengapa pencegahan melalui vaksinasi menjadi sangat penting dilakukan, Ma. Menurut rekomendasi IDAI, vaksin MR pertama diberikan saat anak usia 9 bulan, dosis kedua di usia 15-18 bulan, dan dosis ketiga di usia 5-7 tahun.

Jika terlewat, vaksin tetap bisa diberikan dengan interval tertentu. Sayangnya, masih ada orangtua yang menolak vaksin, sehingga cakupan imunisasi menurun dan kasus campak pun meningkat.

Mama sendiri sudah memberikan vaksinasi penuh pada si Kecil belum, nih?

4. Komplikasi campak bisa sangat berbahaya

Freepik

dr. Caessar Pronocitro, Sp. A, M.Sc, Dokter Spesialis Anak RS Pondok Indah Bintaro Jaya, menjelaskan bahwa virus campak punya kemampuan unik melemahkan sistem imun secara signifikan.

Inilah yang membuka pintu bagi berbagai komplikasi serius, Ma. Nah, beberapa komplikasi yang mungkin dialami penderita campak antara lain:

  • Pneumonia (radang paru): Infeksi pada paru yang sering menjadi penyebab utama kematian akibat campak.

  • Ensefalitis (radang otak): Peradangan otak yang bisa menyebabkan penurunan kesadaran, kejang, hingga kelumpuhan.

  • Diare berat dan dehidrasi: Virus campak dapat merusak lapisan usus, menyebabkan diare parah yang berujung dehidrasi berat dan syok.

  • Infeksi sekunder dan sepsis: Karena imunitas melemah, si Kecil rentan terkena infeksi bakteri sekunder, termasuk infeksi darah (sepsis) yang bisa mengancam nyawa.

Tentu kita nggak mau, kan, si Kecil harus mengalami komplikasi berbahaya seperti di ini? Untuk itu, pastikan vaksinasi anak terpenuhi dengan baik ya, Ma.

5. Lindungi bayi di bawah 9 bulan dengan kekebalan kelompok

Freepik/prostooleh

Pentingnya vaksinasi bukan sekadar untuk melindungi anak kita, tapi turut membantu menjaga sesama. Karena satu anak yang tidak divaksinasi, justru bisa menulari hampir semua orang di sekitarnya yang belum punya kekebalan.

Ironisnya, yang paling terdampak adalah bayi di bawah 9 bulan yang belum cukup umur untuk divaksinasi. Satu-satunya perlindungan bagi mereka adalah kekebalan kelompok (herd immunity).

Artinya, lingkungan sekitar si Kecil harus sudah terlindungi vaksin. Untuk itu, pastikan semua anggota keluarga dan orang-orang di sekitar bayi sudah divaksin. Apalagi menjelang Lebaran yang akan dipenuhi oleh sanak saudara untuk bersilaturahmi.

Selain itu, orangtua yang beraktivitas di luar rumah juga dianjurkan wajib pakai masker, rajin cuci tangan, dan hindari kontak dengan orang sakit agar penularannya bisa dicegah pada si Kecil.

Melihat betapa beratnya komplikasi campak dan mudahnya penularan, melengkapi vaksinasi si Kecil adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar lagi.

Dengan cakupan vaksin yang tinggi, kita tidak hanya melindungi anak sendiri, tapi juga turut membentuk kekebalan kelompok yang melindungi bayi-bayi di sekitarnya.

Yuk, Ma, pastikan vaksinasi si Kecil terpenuhi agar momen Lebaran tetap aman tanpa worry!

Editorial Team