Bermain Lempar Tangkap, Bocah 2 Tahun Tewas Terkena Baling Kipas Angin

Meski tak berniat melukai, sang Paman tetap dijatuhi hukuman dari pihak berwajib

21 Juni 2019

Bermain Lempar Tangkap, Bocah 2 Tahun Tewas Terkena Baling Kipas Angin
nst.com.my

Kebanyakan dari kita pasti merasa gemas bila melihat anak kecil, apalagi masih berusia di bawah lima tahun. Biasanya, orang dewasa akan mengajak mereka bermain seperti melempar-lemparkannya ke udara hingga membuatnya tertawa.

Namun nahas, cara bermain dengan melempar-lemparkan anak kecil ke udara seperti itu membawa petaka bagi sebuah keluarga di Malaysia.

Dilansir dari laman New Straits Times, seorang balita perempuan berusia 2 tahun tewas setelah dilempar-lemparkan sang Paman ke udara hingga mengenai kipas angin di langit rumahnya.

Mengetahui hal tersebut, berikut Popmama.com telah merangkum beberapa fakta pentingnya.

1. Kronologis kejadian

1. Kronologis kejadian
nst.com.my

Pada Minggu (16/6), korban tengah bermain bersama Pamannya asal Myanmar yang berusia 25 tahun. Pamannya hanya berniat untuk bermain-main dengan bocah malang tersebut dengan melempar-lemparkannya ke udara.

Rupanya, lemparan yang dilakukan pada anak tersebut terlalu kuat hingga membuat bayi itu menabrak kipas angin di langit-langit rumah. Korban pun mengalami cidera parah di kepalanya.

Tanpa pikir panjang, korban pun segera dilarikan ke Rumah Sakit Ampang untuk mendapatkan perawatan. Namun Tuhan berkehendak lain, nyawa balita ini tidak tertolong.

Mayatnya kemudian dibawa ke Rumah Sakit Kuala Lumpur untuk pemeriksaan. Menurut hasil post-mortem, bayi itu meninggal karena trauma benda tumpul di kepalanya.

Editors' Picks

2. Dijatuhkan hukuman oleh pihak kepolisian

2. Dijatuhkan hukuman oleh pihak kepolisian
Freepik/rudall30
Ilustrasi

Menurut kepala polisi distrik Ampang Jaya Asst Comm Noor Azmi Yusoff, tragedi itu terjadi sekitar pukul 22.00 di rumah berlantai dua keluarga itu di Tasik Tambahan, Ampang, Malaysia.

Paman dari bayi tersebut bermaksud menghibur korban yang sedang menangis dengan melempar-lemparkannya ke udara. Papa korban segera mengajukan laporan polisi yang membuat pelaku ditahan di markas besar kepolisian Ampang.

"Polisi juga menyelidiki rumah, yang terletak di sepanjang Tasik Tambahan Ampang," jelas Noor Azmi Yusof dalam sebuah pernyataan, Rabu (19/6).

Kasus ini sedang diselediki dan pelaku dijerat Bagian 31 (1) (a) Undang-Undang Anak 2001, UU setempat. Pelaku juga akan menjalani penahanan awal selama 7 hari.

3. Bahaya bermain lempar tangkap dengan anak-anak

3. Bahaya bermain lempar tangkap anak-anak
Freepik/v.ivash

Tak hanya mengakibatkan kematian seperti kasus di atas, ternyata secara medis, bermain lempar tangkap bayi ke udara memang sangat tidak dianjurkan.

Menurut Jeffrey Barth, PhD, dari Department of Neurological Surgery, University of Virginia School of Medicine, menggoyangkan anak ke atas dan ke bawah bisa menimbulkan guncangan keras dan cedera pada kepala.

Apalagi ketika si Anak agak besar, orang tua kerap 'melempar' anak ke atas lalu menangkapnya. Padahal, struktur otak anak sangat berbeda dengan otak orang dewasa.

Gerakan sentrifugal dapat menyebabkan cedera pada otak anak khususnya kerusakan pada bagian pembuluh darah di bagian atas otak. Saat cedera sangat parah, anak bisa saja mengalami perdarahan di otak.

Ketika diguncang-guncangkan apalagi dilempar ke udara, otak anak yang ukurannya relatif lebih kecil akan mengalami pergerakan dan ketika goncangan terlalu keras, otak bisa membentur tengkorak dan akhirnya timbulah trauma yang disebut dengan shaken baby syndrome.

Gejala shaken baby syndrome dapat bervariasi tergantung usia anak saat guncangan terjadi, seberapa sering dan berapa lama mereka mengalaminya, juga seberapa kuat guncangan yang mereka terima.

Cedera ringan dapat menyebabkan gejala yang halus. Misalnya:

  • Anak menjadi rewel, kesal, atau lamban
  • Muntah-muntah
  • Tidak lapar

Seorang anak dengan cedera yang lebih parah mungkin memiliki gejala seperti:

  • Kejang-kejang
  • Detak jantung lambat
  • Sulit mendengar
  • Pendarahan di dalam satu atau kedua mata

Gejala-gejala tersebut dapat terjadi dengan cepat, terutama pada anak yang cedera parah. Namun pada banyak kasus, diperlukan beberapa hari sampai gejala terlihat karena terjadi pembengkakan pada otak.

Kadang setelah menerima guncangan, bayi yang menangis akan diam dan tertidur. Sehingga pengasuh atau orangtua tidak menyadari bahaya yang terjadi pada bayi mereka.

Pada saat bayi akhirnya dibawa ke dokter, seringkali bayi sudah dalam keadaan koma.

Nah, itulah ketiga fakta penting mengenai kasus meninggalnya seorang bocah 2 tahun akibat bermain lempar tangkap di udara.

Semoga dengan adanya kejadian ini, orangtua di luar sana jadi lebih sadar akan bahayanya permaianan ini bagi anak-anak.

Baca juga:

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!