7 Cara Ganti "It's Okay" ke Anak Saat Emosi Meledak Menurut Ahli

- Ahli terapi wicara menilai ucapan “it’s okay” bisa membuat anak merasa diabaikan saat emosi, karena tidak memvalidasi perasaan yang sedang mereka alami.
- Artikel ini menawarkan tujuh cara alternatif untuk menenangkan anak tantrum, seperti menamai emosi, memberi pilihan sederhana, dan menggunakan kalimat pendek yang menenangkan.
- Pendekatan konsisten dan empatik membantu anak belajar mengenali emosinya, merasa aman, serta memperkuat hubungan antara orangtua dan anak dalam situasi penuh emosi.
Pernah nggak, Mama melihat Si Kecil menangis histeris, lalu refleks berkata, "Udah, nggak papa, sayang."
Tenang, Mama nggak sendirian. Banyak dari kita mungkin akan melakukan hal yang sama pada anak, sebagai bukti kehadiran untuk menenangkan mereka.
Tapi menurut seorang speech therapist, kalimat "it's okay" justru bisa terasa seperti mengabaikan apa yang sedang anak rasakan, lho.
Anak yang sedang sedih atau marah memang sedang tidak baik-baik saja. Jika kita terus mengatakan nggak papa, komunikasi bisa terhenti, Ma. Alih-alih menenangkan, mereka jadi merasa tidak dipahami.
Nah, berikut ini Popmama.com rangkumkan 7 cara mengganti kata "it's okay" menurut ahli, untuk menenangkan anak yang sedang tantrum.
1. Validasi dulu perasaan anak

Anak butuh tahu kalau emosinya itu wajar. Jadi, alih-alih menenangkan anak dengan lansgung bilang nggak apa, coba bantu ia mengenali apa yang sedang dirasakan dengan menamai emosi tersebut.
Misalnya, "Kamu marah ya kita harus pulang?" atau "Kamu sedih karena mainannya rusak?" atau bisa juga "Kamu kecewa karena belum mau pergi?"
Menamai setiap perasaan anak tersebut bisa membuat mereka memahami bahwa perasaan tersebut valid dan wajar kok mereka rasakan.
2. Beri contoh kata yang bisa anak ucapkan

Untuk si Kecil yang usianya masih di bawah 5 tahun, wajar kok Ma kalau mereka belum sepenuhnya mengenali kata yang harus diutarakan.
Daripada hanya menenangkan, ajari anak kata-kata yang bisa ia pakai untuk mengungkapkan keinginannya. Contoh, "Sini bantu Mama, yuk?" atau "Kamu mau susu?". Ini akan membantunya di lain waktu.
3. Gunakan kalimat pendek yang menenangkan

Saat emosi anak memuncak, otaknya sulit memproses kalimat panjang. Terlebih anak usia dini yang belum bisa memahami sepenuhnya setiap kata.
Jadi, daripada menenangkan dengan kata yang terlalu berat, gunakan frasa sederhana yang membuatnya merasa aman.
Contohnya, "Kamu aman, kok. Mama di sini." atau "Nanti kita cari jalan keluarnya, ya."
4. Beri pilihan sederhana

Saat anak tantrum, orangtua seringkali memberikan pilihan untuk mengembalikan rasa kontrol pada anak yang sedang kewalahan.
Meski begitu, pastikan pilihannya sederhana dan aman untuk mereka ya, Ma. Seperti, "Mau duduk sama Mama atau duduk sendiri?" atau bisa juga "Mama peluk atau nggak?"
Dengan begitu, anak bisa merasa dirinya tak sendiri dan perasaannya tervalidasi.
5. Bantu ucapkan yang mungkin anak sulit katakan

Di usia balita, anak mungkin masih sangat terbatas kosakatanya. Jadi, saat ia sedang tantrum sembari menunjuk sesuatu, coba tebak dan ucapkan apa yang mungkin ingin ia sampaikan.
Misalnya saat anak menunjuk sesuatu, Mama bisa coba menerjemahkannya, seperti "Oh, kamu mau yang gelas merah, ya." atau "Kamu nggak suka itu, ya."
Ini mengajarkannya kosakata baru dan membuatnya merasa dimengerti, Ma.
6. Beri waktu anak untuk merespons

Anak butuh waktu memproses apa yang Mama katakan, apalagi saat emosinya sedang meledak. Coba jeda sejenak dan beri kesempatan ia merespons dengan caranya sendiri.
Misalnya setelah Mama bilang, "Kamu marah, ya?" jangan langsung memeberikan pertanyaan baru, tapi tunggu sejenak 3-5 detik, biarkan ia mengangguk atau menunjuk.
Sama seperti kita orang dewasa, anak juga butuh waktu untuk berpikir atas apa yang sedang dialaminya, Ma. Jadi, biarkan anak memproses apa yang Mama tawarkan untuk merespons, ya.
7. Gunakan kata yang sama setiap kali

Anak belajar dari rutinitas, Ma. Saat menghadapi situasi emosi yang sama, coba gunakan kalimat yang konsisten.
Misalnya, setiap kali anak tantrum, Mama bisa coba mengulangi kalimat yang sama, seperti "Kamu marah, ya? Mama bisa bantu, kok"
Kalimat sederhana yang diulang secara konsisten ini akan membuatnya merasa aman karena tahu apa yang akan terjadi, dan orangtua nya akan selalu ada di sampingnya.
Emosi besar pada anak sebenarnya adalah kesempatan untuk mempererat hubungan, bukan menjauhkannya. Dengan mengganti "it's okay" dengan kata-kata yang lebih mendukung, Mama sedang mengajarkan anak cara berkomunikasi sambil tetap merasa dicintai.
Semangat selalu dalam memberikan pengasuhan terbaik untuk si Kecil ya, Ma.

















