Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Anak Suka Memotong Pembicaraan? Ini 7 Cara Mengatasinya, Ma!
Popmama.com/Violin Heldina/AI
  • Anak sering memotong pembicaraan karena masih belajar mengendalikan impuls dan memahami aturan bergantian berbicara, bukan karena ingin bersikap tidak sopan.
  • Orangtua disarankan tetap tenang, memberi contoh yang baik, serta melatih anak menunggu giliran melalui kode khusus, permainan peran, dan apresiasi positif.
  • Konsistensi dan kesabaran orangtua menjadi kunci agar anak perlahan memahami pentingnya menghargai giliran berbicara dalam setiap interaksi sosial.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah ketika Mama sedang mengobrol dengan Papa, atau teman, lalu anak tiba-tiba menyela pembicaraan? Bahkan, sebelum Mama selesai berbicara, ia sudah buru-buru menceritakan sesuatu yang menurutnya sangat penting.

Situasi seperti ini memang bisa membuat Mama merasa kesal, apalagi jika terjadi berulang kali. Namun, kebiasaan anak memotong pembicaraan tidak selalu berarti ia bersikap tidak sopan.

Menurut Triple P (Positive Parenting Program), anak sering menyela karena mereka masih belajar mengendalikan impuls, memahami aturan dalam percakapan, dan mencari perhatian dari orangtuanya.

Oleh karena itu, kemampuan menunggu giliran berbicara perlu diajarkan secara bertahap melalui latihan dan respons orangtua yang konsisten.

Kabar baiknya, kebiasaan ini bisa diarahkan sejak dini.

Lalu, bagaimana cara menghadapi anak yang suka memotong orangtua ketika berbicara? Yuk, simak penjelasan yang telah Popmama.com berikan berikut ini.

1. Tetap tenang dan jangan langsung memarahi anak

Pexels/ Pavel Danilyuk

Saat anak tiba-tiba memotong pembicaraan, reaksi pertama yang sering kali muncul adalah kesal. Apalagi jika Mama sedang berbicara dengan orang lain mengenai hal penting.

Namun, usahakan untuk tidak langsung membentak atau memarahi anak di depan banyak orang. Anak yang masih berusia dini umumnya belum memahami aturan bergantian berbicara atau turn-taking.

Mereka cenderung menyampaikan apa yang ada di pikirannya saat itu juga karena khawatir akan lupa atau merasa apa yang ingin disampaikan sangat penting.

Jadi, perilaku tersebut lebih sering terjadi karena kemampuan mengendalikan diri yang masih berkembang, bukan karena sengaja tidak menghargai orang lain.

Mama bisa memberikan respons dengan tetap tenang, misalnya sambil menyentuh lembut tangan anak dan berkata:

"Mama sedang berbicara dulu, ya. Nanti setelah selesai, Mama akan mendengarkan cerita kamu."

Kalimat sederhana seperti ini membuat anak merasa didengar tanpa harus langsung mendapatkan perhatian saat itu juga. Lama-kelamaan, ia akan memahami bahwa setiap orang memiliki kesempatan berbicara secara bergantian.

2. Ajarkan anak untuk menunggu giliran berbicara

Pexels/kaboompics

Kemampuan menunggu giliran bukanlah keterampilan yang muncul secara alami. Anak perlu belajar dan berlatih secara berulang agar memahami bahwa setiap percakapan memiliki aturan yang perlu dihormati.

Mama dapat mulai mengenalkan konsep bergantian berbicara sejak di rumah. Misalnya, ketika sedang makan bersama atau bermain, berikan kesempatan setiap anggota keluarga untuk berbicara tanpa dipotong.

Setelah satu orang selesai, barulah orang berikutnya menyampaikan pendapatnya.

Saat anak berhasil menunggu beberapa detik sebelum berbicara, jangan lupa berikan apresiasi. Pujian sederhana seperti,

"Terima kasih sudah menunggu Mama selesai bicara."

Dapat membuat anak merasa usahanya dihargai.

Semakin sering anak mendapatkan pengalaman positif ketika berhasil menunggu giliran, semakin mudah pula ia membentuk kebiasaan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

3. Berikan kode khusus agar anak tahu kapan harus menunggu

Popmama.com/Violin Heldina/AI

Daripada terus mengatakan:

"Jangan memotong pembicaraan!",

Mama bisa membuat kesepakatan sederhana dengan anak berupa kode khusus. Cara ini sering kali lebih efektif karena tidak membuat anak merasa dimarahi.

Sebagai contoh, Mama dapat mengajarkan anak untuk menyentuh tangan atau lengan Mama ketika ingin mengatakan sesuatu. Setelah itu, Mama membalas sentuhan tersebut sebagai tanda bahwa Mama mengetahui ia ingin berbicara. Anak kemudian diminta menunggu hingga pembicaraan selesai.

Metode ini membantu anak merasa diperhatikan meskipun belum langsung mendapatkan kesempatan berbicara.

Anak juga belajar bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi saat itu juga.

Agar berhasil, Mama perlu konsisten. Setelah selesai berbicara dengan orang lain, segera kembali kepada anak dan tanyakan apa yang ingin disampaikan. Dengan begitu, anak belajar bahwa menunggu tidak berarti diabaikan.

4. Jadilah contoh yang baik saat berbicara

Pexels/Yan Krukau

Anak adalah peniru yang ulung. Mereka belajar lebih banyak dari apa yang dilakukan orangtuanya dibandingkan dari apa yang dikatakan.

Karena itu, jika Mama ingin anak tidak memotong pembicaraan, usahakan untuk memberikan contoh yang sama. Hindari menyela ketika anak sedang bercerita, meskipun ceritanya terdengar bertele-tele atau berulang.

Tatap matanya, dengarkan hingga selesai, lalu berikan tanggapan.

Dari pengalaman tersebut, anak akan memahami bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan berbicara sampai selesai. Selain itu, biasakan menggunakan kalimat yang sopan ketika ingin menyela orang lain, misalnya dengan mengucapkan:

"Maaf, boleh aku menambahkan sedikit?" atau "Permisi, sebentar ya."

Lama-kelamaan, anak akan meniru kebiasaan tersebut dalam berbagai situasi sosial.

5. Berikan pujian ketika anak berhasil menunggu

Pexels/olia danilevich

Orangtua biasanya baru akan memberikan perhatian ketika anak melakukan kesalahan. Padahal, memberikan apresiasi saat anak menunjukkan perilaku yang baik justru dapat memperkuat kebiasaan positif tersebut.

Ketika anak berhasil menunggu Mama selesai berbicara sebelum menyampaikan keinginannya, berikan pujian yang spesifik. Misalnya,

"Mama bangga karena tadi kamu sabar menunggu giliran bicara."

Pujian yang jelas membantu anak memahami perilaku mana yang diharapkan oleh orangtua. Anak pun akan lebih termotivasi untuk mengulanginya di kesempatan berikutnya.

Sesekali, Mama juga bisa memberikan pelukan, senyuman, atau high five sebagai bentuk penghargaan.

Bentuk apresiasi sederhana ini sering kali jauh lebih bermakna bagi anak dibandingkan hadiah berupa barang.

Penting untuk diingat bahwa perubahan perilaku tidak terjadi dalam semalam. Konsistensi orangtua dalam memberikan apresiasi akan membantu anak membangun kebiasaan yang baik secara perlahan.

6. Latih melalui permainan peran atau aktivitas sehari-hari

Pexels/Yan Krukau

Belajar tidak harus selalu melalui nasihat. Anak justru lebih mudah memahami sesuatu ketika belajar sambil bermain.

Mama dapat mengajak anak melakukan permainan peran, misalnya berpura-pura menjadi guru, dokter, kasir, atau pembawa acara. Dalam permainan tersebut, setiap orang bergantian berbicara dan mendengarkan hingga lawan bicara selesai.

Selain bermain peran, Mama juga bisa memanfaatkan waktu membaca buku cerita bersama. Setelah Mama selesai membaca satu bagian, berikan kesempatan kepada anak untuk memberikan pendapatnya.

Kemudian, gantian Mama yang berbicara kembali.

Aktivitas sederhana seperti ini membantu anak memahami bahwa percakapan yang menyenangkan terjadi ketika semua orang saling menghargai giliran berbicara.

7. Bersabar karena kemampuan ini berkembang seiring bertambahnya usia

Pexels/Gustavo Fring

Tidak semua anak langsung mampu mengendalikan keinginannya untuk berbicara.

Bahkan, beberapa anak membutuhkan waktu lebih lama untuk mempelajari keterampilan sosial ini. Oleh karena itu, Mama tidak perlu berkecil hati jika anak sesekali masih memotong pembicaraan meskipun sudah sering diingatkan.

Hal yang terpenting adalah tetap konsisten memberikan arahan dengan cara yang tenang dan penuh kasih sayang.

Jika setiap kali anak menyela, Mama tetap mengingatkan dengan kalimat yang sama.

Memberikan contoh yang baik, serta mengapresiasi setiap kemajuannya, lama-kelamaan anak akan memahami kapan waktu yang tepat untuk berbicara.

Ingat, tujuan utamanya bukan membuat anak langsung diam, melainkan membantu mereka belajar menghargai orang lain sekaligus mengungkapkan pendapat dengan cara yang sopan.

Itulah 7 cara menghadapi anak yang suka memotong pembicaraan orangtua. Meski terkadang membuat Mama merasa kesal, kebiasaan ini sebenarnya merupakan bagian dari proses anak belajar berkomunikasi dan memahami aturan dalam bersosialisasi.

Semoga informasi ini bisa membantu Mama mendampingi anak membangun kebiasaan berkomunikasi yang baik sejak dini, ya!

Curated For You

Editorial Team

Related Article