Anak Lebih Suka Scroll Video? Waspada Pembajakan Dopamin di Otaknya

- Fenomena 'pembajakan dopamin' dijelaskan Dr. Dono sebagai kondisi ketika otak anak terbiasa dengan kepuasan instan dari video dan game, membuat aktivitas seperti membaca terasa membosankan.
- Kebiasaan berlebihan pada layar membuat stamina kognitif anak menurun, sehingga mereka sulit fokus, cepat bosan, dan kurang sabar menghadapi aktivitas yang butuh konsentrasi seperti membaca buku.
- Opa Dono menyarankan detoks digital, pembiasaan transisi aktif lewat kegiatan fisik atau sosial, serta membaca bersama agar minat baca anak tumbuh kembali dan ketergantungan pada gadget berkurang.
Zaman sekarang, HP atau tablet sudah seperti teman baru yang selalu menemani anak sehari-hari. Mulai dari belajar online, nonton video edukasi, sampai sekadar hiburan, gadget memang serba bisa.
Tapi, pernah nggak Mama merasa khawatir kalau si Kecil mulai lebih betah berlama-lama di depan layar daripada main atau membaca buku?
Wajar sih, Ma, kalau Mama sering melihat anak lebih antusias menggeser layar HP dibandingkan membuka buku. Rasanya seperti ada yang salah, tapi Mama juga bingung harus mulai darimana.
Tenang, ini ternyata banyak dirasakan para Mama lainnya, kok. Bahkan, masalah ini ternyata juga menjadi perhatian para ahli lho, Ma.
Salah satunya, Dr. Dono Baswardono, Ph.D., pakar psikologi dan psikoanalis Indonesia yang akrab disapa Opa Dono. Lewat unggahan di Instagram-nya, Dr. Dono menjelaskan fenomena ini dengan istilah menarik, yaitu pembajakan dopamin.
Kira-kira maksudnya seperti apa ya, Ma? Melansir dari unggahan Dr. Dono Baswardono, berikut Popmama.com rangkumkan penjelasan selengkapnya.
1. Apa itu pembajakan dopamin?

Pernahkah Mama membelikan buku cerita bergambar untuk si Kecil, tapi hanya beberapa menit dilihat, lalu ditinggalkan begitu saja dan anak lebih memilih asyik dengan layar ponselnya?
Tenang, Mama bukan satu-satunya yang mengalami hal ini. Menurut pakar terkemuka Indonesia yang biasanya disapa Opa Dono ini, ternyata jawabannya ada pada cara kerja otak.
Video pendek dan game di gadget dirancang khusus untuk kasih kepuasan instan. Jadi, setiap kali anak menggeser layar, melihat animasi cerah, atau mendengar efek suara, otak langsung membanjiri tubuh dengan dopamin, hormon yang bikin senang.
Akibatnya, anak ingin terus menerus mencari hiburan serupa. Otak yang sudah terbiasa dengan banjir dopamin dari gadget pun bakal menganggap aktivitas lain, termasuk membaca buku, terasa super membosankan dan berat.
2. Stamina kognitif anak jadi memudar

Membaca itu bukanlah naluri alami manusia, Ma. Berbeda dengan berjalan atau berbicara, membaca butuh kerja keras otak.
Anak harus belajar memecahkan kode simbol, seperti huruf, untuk membayangkan cerita di kepalanya dan sabar menunggu alur cerita berkembang .
Nah, layar gadget ini yang justru bisa memanjakan otak. Semua pekerjaan yang terasa berat, sudah tersaji instan dalam satu layar, mulai dari gambar, suara, dan gerakan.
Hasilnya bikin otak anak jadi konsumen pasif, yang seiring waktu bisa bikin stamina kognitif anak melempem. Mereka jadi susah fokus duduk diam di kelas, susah mengikuti satu topik dalam buku, dan cepat bosan dengan teks yang terlalu statis.
3. Jangan hanya diceramahi, lakukan detoks digital

Opa Dono dalam unggahannya menegaskan kepada para orangtua bahwa jangan berharap ceramah atau nasihat logika ampuh melawan banjir dopamin dari gadget, ya.
Anak butuh pembiasaan baru yang konsisten dari Mama dan Papa. Salah satu langkah pertama yang paling penting adalah menerapkan jam malam digital atau detoks layar.
Buat aturan ketat pengurangan waktu layar pasif, seperti scrolling tanpa henti, dan berikan jatah waktu yang jelas. Nah, yang paling penting adalah larang total penggunaan gadget setidaknya satu jam sebelum tidur.
Hal ini perlu dilakukan karena blue light dari layar bisa menekan hormon melatonin yang mengatur tidur, Ma. Padahal, tidur berkualitas sangat penting untuk memperkuat ingatan dan proses belajar anak di sekolah.
4. Lakukan transisi secara aktif untuk mengembalikan minat membaca

Ketika Mama mengambil gadget dan langsung menyuruh anak membaca buku, besar kemungkinan si Kecil bakal ngamuk. Percaya deh, Ma. Tapi hal itu wajar karena level dopaminnya turun drastis.
Opa Dono juga menyarankan agar Mama melakukan transisi aktif. Maksudnya, Mama bisa mengalihkan dulu anak dengan aktivitas fisik atau sensorik. Jadi, jangan langsung merebut gadget-nya begitu saja.
Misalnya, bermain di luar, membuat Lego, atau memasak. Kalau sistem sarafnya mulai tenang dengan kegiatan fisik yang mengalihkan perhatiannya, baru Mama bisa memberikan buku untuk dibaca.
Selain itu, coba jadikan membaca sebagai aktivitas sosial yang seru, salah satunya dengan membaca dengan lantang yang disebut Opa Dono sangat ampuh, Ma.
Selain itu, Mama juga bisa duduk berdekatan, tunjuk gambar, ubah suara untuk tiap karakter, dan ajukan pertanyaan ketika membaca bersama anak.
Cara ini meniru kerja otak kanan yang kreatif dan nggak bisa disediakan oleh layar. Jadi, kebiasaan membaca buku pada anak pun akan perlahan ditumbuhkan kembali.
5. Kembalikan serunya membaca bersama teman lainnya

Anak-anak senang beraktivitas bersama, termasuk bermain game online. Kalau ini dicabut, Mama harus siapkan penggantinya.
Nah, salah satu cara yang disarankan Opa Dono adalah dengan mengikuti komunitas anak membaca. Ajak beberapa orangtua yang anaknya seumuran untuk mengadakan playdate.
Selain bermain bersama, di sini anak juga bisa membangun kembali minat membaca dengan baca buku bersama. Misalnya, minta setiap anak membawa satu buku favorit, lalu mereka bisa saling bertukar cerita atau membacakan satu sama lain.
Cara seperti ini cukup jitu untuk menumbuhkan kembali rasa cinta pada buku dan menggeser ketergantungan pada gadget, Ma.
Di era yang serba digital ini, menumbuhkan kembali minat baca anak memang butuh perjuangan ekstra dan kesabaran, Ma.
Selain cara di atas, orangtua juga perlu jadi contoh bagi anak karena mereka adalah peniru ulung. Kalau Mama dan Papa saja sibuk scroll video dari HP, anak pun akan melakukan hal yang sama.
Penggunaan layar di era serba digital ini memang udah tak mungkin dihindari ya, Ma, tapi sebagai orangtua kita tetap bisa kok mengajak anak menemukan keseimbangan yang tepat agar tumbuh kembangnya optimal di tengah gempuran teknologi.





















