Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Fake Crying pada Anak Bukan Berarti Pura-pura, Ini 5 Hal yang Perlu Diketahui
Freepik

Pernah nggak, Ma, melihat si Kecil tiba-tiba merengek dengan suara tangisan yang terdengar sedikit “dipaksakan”?

Kadang matanya masih kering, tapi suaranya sudah sengaja dibuat merengek. Sebagai orangtua, reaksi pertama mungkin kesal atau berpikir si Kecil sedang cari perhatian.

Namun, tahukah Mama? Di balik tangisan yang terlihat “palsu” itu, ada perasaan yang sangat nyata, lho.

Si Kecil sebenarnya sedang berusaha menyampaikan sesuatu, tapi belum punya kemampuan untuk mengungkapkannya dengan kata-kata.

Nah, biar Mama lebih memahami yang sedang anak rasakan, berikut Popmama.com rangkumkan informasi selengkapnya.

1. Meski tangisannya "palsu", tapi perasaannya nyata

Freepik/drobotdean

Mama mungkin tergoda untuk berkata, “Ah, itu mah cuma pura-pura” ketika si Kecil terlihat menangis yang dipaksakan.

Tapi bagi si Kecil, perasaan yang mendorongnya menangis itu benar-benar ada, Ma.

Entah itu rasa frustrasi karena mainannya jatuh, lelah, atau sekadar merasa kurang diperhatikan. Alih-alih mengabaikan, cobalah untuk memvalidasi perasaan mereka agar anak juga merasa dipahami.

2. Kode anak butuh sesuatu

Freepik/user15285612

Bukan sekadar cari perhatian, cobalah anggao bahwa tangisan palsu ini sebagai kode darurat dari si Kecil.

Di usia balita, kosakata anak mungkin masih belum sempurna dan terbatas. Nah, menangis adalah cara paling efektif untuk mereka agar Mama atau Papa segera merespons.

Si Kecil sebenarnya sedang berkata, “Ma, aku butuh sesuatu, tapi aku nggak tahu caranya minta.”

Tugas kita sebagai orangtua bukanlah marah karena caranya “salah”, melainkan menerjemahkan apa kebutuhan di balik tangisan itu.

3. Tanda pertumbuhan si Kecil

Freepik

Percaya atau tidak, ketika si Kecil mulai melakukan fake crying, itu pertanda perkembangan otaknya sedang berjalan baik, Ma.

Ia sedang belajar sebab-akibat, seperti, “Jika aku melakukan ini, Mama akan mendekat.”

Nah, ini adalah bagian dari proses anak balita yang sedang “berakting seusianya”. Jadi, jangan dianggap sebagai perilaku buruk, Ma. Anggap saja ini latihan komunikasi pertama yang masih kaku.

4. Belum punya perangkat untuk mengekspresikan perasaan

Freepik

Kita sering lupa bahwa si Kecil baru beberapa tahun hidup di dunia. Mereka belum punya perangkat lengkap seperti orang dewasa yang lebih bisa mengelola emosinya.

Saat dirinya sedang marah, sedih, atau kecewa, yang muncul di otak mereka adalah sinyal “bahaya” yang harus segera diatasi.

Fake crying adalah bentuk perlindungan diri agar orangtua nya bisa segera datang membantu. Mereka butuh kita untuk menjadi “alat” yang membantu mereka menenangkan diri, Ma.

5. Jangan diabaikan, dekati dengan tenang

senivpetro

Mengabaikan fake crying justru bisa membuat si Kecil panik dan memperburuk keadaan, Ma. Tapi meski begitu, bukan berarti Mama harus selalu menuruti keinginannya, ya.

Cobalah untuk mendekati anak dengan tetap tenang. Mama bisa menebak kebutuhan si Kecil, “Kamu capek, ya? Atau sedih karena mainannya jatuh?”

Dengan merespons, Mama mengajarkan bahwa meskipun tangisannya terdengar dibuat-buat, Mama tetap ada untuk membantunya menemukan solusi.

Jadi, Ma, ketika si Kecil mulai mengeluarkan suara tangisan yang terdengar “dipaksakan”, tarik napas sejenak, yuk.

Ingatlah bahwa ini bukan tentang dramanya, melainkan tentang usahanya yang masih belum bisa berkomunikasi dengan baik untuk meminta bantuan.

Dengan menemani si Kecil melewati fase ini tanpa frustrasi, Mama sedang membangun fondasi komunikasi yang sehat untuk masa depannya.

Editorial Team