7 Ucapan Efektif Menenangkan Anak Suka Berteriak, Tanpa Membentak

- Cobalah memberikan kepastian perhatian kepada anak
- Tarik napas untuk menenangkan sistem saraf anak
- Pengakuan emosi dan memberikan rasa aman merupakan hal penting yang perlu Mama lakukan
Menghadapi anak yang sering kali berteriak sering kali, menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua dalam mengurus si Kecil di rumah.
Berteriak adalah cara alami dan universal individu untuk mengekspresikan keresahan, kekhawatiran, atau frustrasi.
Seorang psikologi klinis, Dr. Becky Kennedy, menekankan bahwa teriakan anak adalah sebuah bentuk komunikasi, bukan sebuah serangan pribadi kepada orangtua.
Saat situasi terasa genting, bentakan agar anak diam bukanlah solusi yang mereka butuhkan.
Sebaliknya, si Kecil sangat mengharapkan rasa aman dan ketenangan dari orangtua yang hadir sebagai pelindung di saat mereka merasa emosional.
Berikut ini, Popmama.com telah merangkum ucapan efektif menenangkan anak berteriak tanpa bentakan yang dapat Mama praktikan di rumah.
Table of Content
1. “Mama mendengarkan kamu, cobalah berbicara dengan pelan.”

Sering kali, alasan utama seorang anak berteriak adalah karena mereka merasa suaranya sering kali tidak didengar oleh orang di sekitarnya.
Dengan mengucapkan kalimat ini, orangtua memberikan kepastian bahwa perhatian Mama sepenuhnya tertuju pada si Kecil.
Kalimat ini sangat efektif karena tidak mengandung nada larangan, melainkan sebuah undangan untuk berkomunikasi secara lebih tenang.
2. “Tarik nafas dan ucapkan kembali dengan nada yang lebih pelan."

Saat anak berteriak, kondisi fisik mereka biasanya sedang sangat tegang dengan napas yang memburu. Menginstruksikan anak untuk menarik napas adalah cara biologis yang paling cepat untuk menenangkan sistem saraf mereka yang sedang kewalahan.
Selain itu, latihan tarikan nafas juga terbukti efektif dalam menurunkan stres secara fisiologis.
Riset dari Stanford University menemukan bahwa pernapasan dalam dengan ritme lambat, meski dilakukan hanya sekitar satu menit, mampu menurunkan tingkat kewaspadaan fisiologis pada anak usia dini.
Dampak ini ditandai dengan melambatnya detak jantung serta meningkatnya respiratory sinus arrhythmia (RSA), indikator yang berkaitan dengan kemampuan anak dalam menghadapi dan mengelola stres dengan lebih baik.
3. “Mama tahu kamu sedang merasa tidak nyaman, apa yang bisa Mama lakukan agar kamu merasa lebih baik?”

Pada saat anak berteriak dan menunjukkan emosi yang meledak-ledak saat berbicara, sering kali yang mereka butuhkan bukanlah nasihat panjang melainkan rasa aman.
Dengan mengatakan, “Mama tahu kamu sedang merasa tidak nyaman,” membantu anak memahami emosinya. Pengakuan ini membuat anak merasa dilihat serta diterima, bukan dihakimi.
Lalu, saat Mama melanjutkan dengan pertanyaan, “Apa yang bisa Mama lakukan agar kamu merasa lebih baik?” anak diajak terlibat aktif dalam proses menenangkan dirinya sendiri agar perasaannya tetap tervalidasi.
Menurut para ahli perkembangan anak, pendekatan ini mendorong co-regulation, yaitu proses ketika anak belajar mengelola emosi dengan bantuan orang dewasa yang tenang.
4. "Kamu mau Mama peluk tidak?"

Memberikan pilihan sederhana, seperti menawarkan pelukan hangat atau waktu sejenak untuk duduk tenang, merupakan strategi yang sangat penting dalam mendukung perkembangan emosi anak.
Sebuah studi menyebutkan, berpelukan bisa membuat seseorang merasa tenang dan mengurangi perasaan kesepian.
Dengan mengutarakan kalimat ini, orangtua sebenarnya sedang memberikan rasa kendali yang sehat kepada anak.
5. “Kita lanjut besok ya, sekarang waktunya istirahat.”

Pada waktu tertentu, anak sering kali merasa sedang berada di puncak energinya dan merasa sangat tidak ingin untuk segera mengakhiri aktivitas serunya demi beristirahat.
Kondisi ini biasanya sering terjadi pada malam hari, di mana rasa lelah yang sebenarnya sudah dirasakan oleh tubuh si Kecil justru bermanifestasi menjadi perilaku yang sangat aktif atau bahkan tantrum yang meledak-ledak.
Dengan mengucapkan bahwa aktivitas tersebut akan dilanjutkan esok hari, orangtua sebenarnya sedang memberikan kepastian yang menenangkan bahwa kegembiraan mereka tidak akan hilang secara permanen, melainkan hanya tertunda sementara.
6. “Kita cari tiga benda berwarna biru di ruangan ini bersama-sama yuk.”

Mengajak anak untuk mencari benda dengan warna tertentu di lingkungan sekitarnya, merupakan salah satu teknik sederhana yang efektif untuk membantu menurunkan intensitas emosi yang tengah meluap pada anak.
Aktivitas ini bekerja dengan cara mengalihkan fokus perhatian anak secara halus menuju pengamatan lingkungan luar yang lebih konkret.
Ketika anak diminta untuk memperhatikan detail seperti warna, bentuk, atau jumlah benda di sekelilingnya, aktivitas saraf di otaknya mulai beralih dari mode emosi reaktif menuju proses kognitif yang lebih tenang dan teratur.
Tanpa anak sadari, detak jantung yang berpacu cepat perlahan melambat, napas menjadi lebih teratur, dan seluruh otot anak mulai merasa lebih nyaman.
7. “Kita cari solusinya bersama setelah suaramu sudah lebih tenang ya.”

Menawarkan kerja sama sebagai poin penutup, memberikan harapan kepada anak bahwa masalah yang mereka hadapi sejatinya memiliki jalan keluar.
Ucapan ini menunjukkan bahwa orangtua adalah mitra yang siap membantu, bukan lawan yang harus dilawan dengan teriakan.
Dengan menjanjikan solusi setelah situasi tenang, Mama sebenarnya sedang menanamkan pemahaman berharga kepada si Kecil bahwa komunikasi yang jernih dan tenang adalah kunci utama untuk mendapatkan bantuan serta menyelesaikan setiap konflik dengan aman.
Itulah ucapan efektif untuk menenangkan anak berteriak yang bisa Mama praktikan di rumah, tertarik untuk mencoba?


















