- Meningkatkan risiko obesitas pada anak karena umumnya tinggi gula, garam, dan lemak, tetapi rendah nutrisi penting untuk tubuh.
- Anak juga lebih rentan mengalami gangguan kesehatan seperti diabetes, tekanan darah tinggi, hingga masalah kesehatan jantung di kemudian hari apabila pola makan tidak sehat terus berlangsung.
- Memengaruhi energi serta konsentrasi anak akibat kandungan zat aditif dan pemanis buatan dalam makanan ultra-proses dapat, sehingga mereka lebih mudah lelah atau sulit fokus saat belajar.
- Membentuk kebiasaan makan yang kurang sehat. Anak menjadi lebih menyukai makanan manis, asin, dan instan dibanding makanan bergizi seperti sayur dan buah.
- Mengganggu tumbuh kembang anak dalam jangka panjang, karena tubuh tidak mendapatkan asupan vitamin, mineral, dan serat yang cukup.
UNICEF: Anak Indonesia Paling Banyak Konsumsi Makanan Ultra-Proses

- UNICEF melaporkan Indonesia menempati posisi tertinggi dunia dalam konsumsi makanan ultra-proses pada anak usia 0–5 tahun, dengan kontribusi sekitar 38% dari total kalori harian mereka.
- Makanan ultra-proses mencakup produk seperti mi instan, sosis, nugget, dan minuman manis yang tinggi gula, garam, serta lemak; konsumsi berlebihnya meningkatkan risiko obesitas dan penyakit metabolik sejak dini.
- UNICEF menyerukan kebijakan lebih ketat terkait pemasaran dan pelabelan makanan agar orangtua dapat memilih produk sehat serta mengurangi paparan anak terhadap makanan ultra-proses.
Berdasarkan temuan dari UNICEF, Indonesia menempati urutan pertama dalam konsumsi makanan ultra-proses di kategori anak usia 0-5 tahun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa anak-anak kini semakin akrab dengan makanan instan, camilan kemasan, hingga minuman manis yang praktis.
Jika dibiarkan terus-menerus, kebiasaan ini dapat berdampak pada kesehatan anak dalam jangka panjang, termasuk meningkatkan risiko obesitas dan berbagai penyakit metabolik sejak usia dini.
Berikut Popmama.com siap membahas informasi lebih lanjut mengenai anak Indonesia paling banyak konsumsi makanan ultra-proses.
Table of Content
1. Anak Indonesia tertinggi di dunia konsumsi makanan ultra-proses

Menurut data UNICEF, Indonesia tercatat sebagai negara dengan konsumsi UPF tertinggi di dunia pada anak usia 0–5 tahun. Bahkan, UPF mampu menyumbang sekitar 38% dari total kalori harian anak.
Temuan semakin diperkuat oleh paparan Dr. Neha Khandpur, MSc (Wageningen University, The Netherlands) dalam webinar internasional bertajuk ‘Eat Real Food and Minimally Processed Diets for Child and Youth Health’.
Data tersebut membandingkan pola konsumsi anak di 16 negara. Indonesia terlihat menonjol dengan kontribusi UPF yang tinggi di berbagai kelompok usia, mulai dari bayi hingga remaja.
2. Apa itu UPF (Ultra-Processed Food) dan contohnya?

Dalam dunia gizi, UPF adalah singkatan dari Ultra-Processed Food (Makanan ultra-proses). Ini merujuk pada makanan atau minuman kemasan yang telah melalui banyak proses industri dan mengandung banyak bahan tambahan seperti pengawet, pewarna, perasa buatan, serta tinggi gula, garam, dan lemak.
Beberapa contoh makanan yang kerap dikonsumsi anak Indonesia antara lain mi instan, sosis, nugget, keripik kemasan, hingga minuman manis dalam kemasan.
3. UNICEF menekankan baru demi melindungi anak-anak Indonesia dari paparan UPF

UNICEF menekankan pentingnya kebijakan yang lebih kuat untuk melindungi anak-anak dari paparan makanan ultra-proses.
Salah satu langkah yang dinilai perlu dilakukan ialah memperketat regulasi pemasaran makanan, terutama iklan produk tinggi gula, garam, dan lemak yang kerap menyasar anak-anak melalui televisi maupun media digital.
Selain itu, UNICEF juga menyoroti pentingnya pelabelan makanan yang lebih jelas dan mudah dipahami masyarakat.
Informasi kandungan gizi pada kemasan dinilai dapat membantu orangtua lebih bijak dalam memilih makanan untuk anak, sehingga konsumsi produk ultra-proses dapat dikurangi dan pola makan sehat anak lebih terjaga.
4. Dampak terlalu banyak mengonsumsi makanan ultra-proses bagi anak

Terlalu sering mengonsumsi makanan ultra-proses dapat memberikan berbagai dampak buruk bagi kesehatan anak, baik dalam jangka pendek maupun panjang. Berikut beberapa risiko kesehatan yang mengintai:
5. Tips agar anak terhindar dari makanan ultra-proses

Anak-anak saat ini semakin mudah menemukan makanan ultra-proses. Karena itu, orangtua perlu menerapkan kebiasaan makan sehat sejak dini agar anak tidak bergantung pada makanan ultra-proses.
Berikut beberapa tips agar anak terhindar dari makanan ultra-proses:
- Sediakan makanan rumahan yang lebih sehat
Biasakan menyajikan makanan rumahan dengan gizi seimbang agar anak terbiasa mengonsumsi makanan segar dan bernutrisi. Selain lebih sehat, makanan buatan rumah juga membantu mengontrol kadar gula, garam, dan minyak yang dikonsumsi anak. - Perbanyak stok camilan sehat di rumah
Sediakan buah, yogurt, kacang, atau camilan sehat lainnya agar anak memiliki pilihan yang lebih baik saat lapar. Cara ini dapat membantu mengurangi keinginan anak membeli camilan kemasan tinggi gula dan garam. - Batasi makanan instan dan minuman manis
Orangtua dapat mengurangi konsumsi makanan ultra-proses secara bertahap, misalnya dengan membatasi frekuensi jajan atau mengganti minuman manis dengan air putih dan jus tanpa gula tambahan. - Ajarkan anak membaca label makanan
Kenalkan anak pada informasi gizi sederhana di kemasan makanan, seperti kandungan gula, garam, dan lemak. Kebiasaan ini dapat membantu anak lebih bijak memilih makanan sejak dini. - Libatkan anak saat menyiapkan makanan
Mengajak anak memasak atau menyiapkan bekal dapat membuat mereka lebih tertarik mencoba makanan sehat. Anak juga jadi memahami bahwa makanan sehat bisa tetap enak dan menyenangkan. - Berikan contoh pola makan sehat
Anak cenderung meniru kebiasaan orangtua di rumah. Karena itu, penting bagi seluruh anggota keluarga untuk mulai menerapkan pola makan sehat bersama-sama. - Tetapkan jadwal makan yang teratur
Jadwal makan yang konsisten dapat membantu anak tidak terlalu sering ngemil makanan kemasan di luar waktu makan utama. Selain itu, anak juga belajar mengenali rasa lapar dan kenyang dengan baik.
Demikian informasi seputar anak Indonesia paling banyak konsumsi makanan ultra-proses beserta dampak dan tips menghindarinya. Yuk, ajak anak untuk makan makanan sehat!


















