Punya anak yang sedang aktif-aktifnya bermain di luar rumah pasti sering membuat Mama merasa khawatir, apalagi jika mendengar kabar ada penyakit menular yang sedang mewabah.
Waspada Flu Singapura, Mama Harus Tahu Cara Lindungi Anak!

Flu Singapura atau HFMD disebabkan virus Enterovirus yang berbeda dari PMK pada hewan, dan kini berisiko masuk ke Indonesia akibat tingginya mobilitas antarnegara.
Penyakit ini sangat mudah menular lewat cairan tubuh, droplet, serta kontak dengan benda terkontaminasi; anak-anak di lingkungan padat menjadi kelompok paling rentan tertular.
Belum ada vaksin untuk HFMD, sehingga pencegahan utama dilakukan lewat kebersihan diri, disinfeksi rutin, serta isolasi mandiri bagi si Kecil yang menunjukkan gejala agar penularan tidak meluas.
Rasa takut si Kecil tertular virus dan harus merasakan sakit tentu menjadi beban pikiran tersendiri bagi Mama dalam menjaga kesehatan buah hati setiap harinya.
Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau Flu Singapura dikabarkan tengah mewabah di negara tetangga, yang artinya risiko masuk ke Indonesia sangatlah besar.
Berikut Popmama.com rangkum informasi lengkap mengenai gejala, penularan, hingga cara mencegah HFMD agar si Kecil tetap terlindungi!
Table of Content
1. Memahami perbedaan antara HFMD dengan PMK pada hewan

Banyak orangtua yang merasa sangat panik dan salah kaprah saat mendengar istilah penyakit mulut dan kuku, karena menganggap HFMD atau Flu Singapura sama dengan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak.
Penting sekali untuk Mama pahami bahwa kedua penyakit ini sepenuhnya berbeda, baik dari jenis virus penyebabnya maupun sasaran korbannya.
Flu Singapura pada manusia disebabkan oleh virus dari genus Enterovirus, paling sering adalah jenis Coxsackievirus dan Human Enterovirus 71 (HEV 71). Di sisi lain, PMK pada hewan disebabkan oleh Apthovirus yang berasal dari keluarga Picornaviridae.
Kedua penyakit ini tidak saling menularkan antara manusia ke hewan ataupun sebaliknya, sehingga Mama tidak perlu khawatir jika ada kabar PMK pada ternak di sekitar lingkungan.
Namun, kewaspadaan terhadap Flu Singapura tetap harus ditingkatkan karena mobilitas antarnegara yang sangat tinggi belakangan ini berpotensi membawa virus tersebut masuk ke Indonesia melalui perjalanan internasional dalam waktu yang sangat singkat.
2. Berbagai jalur penularan virus yang wajib Mama antisipasi

Flu Singapura dikenal sebagai salah satu penyakit yang sangat mudah menular secara masif, terutama pada anak-anak yang berada di lingkungan padat seperti tempat penitipan anak (daycare), sekolah, atau taman bermain umum.
Virus penyebab penyakit ini hidup dan berkembang biak di dalam berbagai cairan tubuh penderita, mulai dari ingus, dahak, air liur, hingga cairan dari lepuh kulit yang pecah dan kotoran atau tinja.
Penularan bisa terjadi melalui skenario sehari-hari yang sangat sepele, seperti ketika si Kecil berbagi botol minum atau alat makan dengan teman yang ternyata sudah terinfeksi. Selain itu, menghirup percikan droplet saat penderita bersin atau batuk di dekat si Kecil juga menjadi jalur utama masuknya virus ke sistem pernapasan.
Mama juga harus ekstra hati-hati saat membantu mengganti popok, selalu pastikan untuk mencuci tangan dengan sabun setelahnya karena menyentuh benda yang terkontaminasi feses penderita lalu memegang area wajah tanpa cuci tangan bisa langsung memicu infeksi pada anggota keluarga lainnya.
3. Gejala awal dan tahapan penyakit Flu Singapura

Gejala Flu Singapura biasanya tidak langsung muncul secara bersamaan di hari pertama infeksi, melainkan berkembang secara bertahap dalam kurun waktu beberapa hari setelah terpapar virus.
Fase awal infeksi umumnya akan ditandai dengan kondisi tubuh si Kecil yang mendadak mengalami demam tinggi, disertai rasa nyeri yang hebat di tenggorokan yang membuat mereka jadi malas atau kesakitan saat mencoba menelan makanan atau minuman.
Si Kecil seringkali merasa tidak enak badan secara keseluruhan (malaise) dan kehilangan nafsu makan secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas.
Setelah demam berlangsung selama satu hingga dua hari, barulah muncul tanda khas berupa bintik-bintik merah di dalam rongga mulut, biasanya berawal di bagian belakang langit-langit mulut, yang kemudian pecah menjadi sariawan yang sangat perih.
Mama harus sangat peka memantau kondisi mulut si Kecil jika mereka mulai rewel, karena seringkali rasa sakit dari sariawan inilah yang membuat si Kecil merasa sangat menderita dan kesulitan untuk beristirahat dengan tenang.
4. Lokasi ruam dan bintik merah yang muncul di kulit anak

Salah satu cara paling efektif bagi orangtua untuk mengidentifikasi apakah si Kecil terkena Flu Singapura adalah dengan memperhatikan secara detail lokasi munculnya ruam pada kulit.
Dalam waktu satu hingga dua hari setelah sariawan muncul di dalam mulut, biasanya akan menyusul timbulnya ruam merah atau bintik-bintik kecil di area telapak tangan dan juga telapak kaki.
Ruam ini sebenarnya tidak hanya terbatas pada tangan, kaki, dan mulut saja. Pada banyak kasus klinis, bintik merah dan lepuhan berisi cairan juga sering ditemukan di area bokong, tungkai kaki, lengan, bahkan hingga di sekitar kulit area kemaluan si Kecil.
Ruam ini memiliki karakteristik yang unik karena pada umumnya tidak menimbulkan rasa gatal yang hebat, namun pada beberapa kondisi bisa terasa sedikit nyeri jika bintik merah tersebut berubah menjadi lepuhan.
Mama perlu mendokumentasikan setiap perubahan ruam ini untuk membantu tenaga medis memberikan diagnosis yang tepat, sehingga penanganan bisa dilakukan sebelum kondisi fisik si Kecil semakin menurun akibat serangan virus Enterovirus tersebut.
5. Risiko orang dewasa sebagai pembawa virus

Satu fakta yang sering kali luput dari perhatian para Mama adalah bahwa Flu Singapura tidak hanya menyerang anak-anak di bawah usia 10 tahun, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menginfeksi orang dewasa.
Bahayanya, orang dewasa dengan sistem kekebalan tubuh yang sangat kuat sering kali bersifat asimtomatik saat terinfeksi, yang berarti mereka membawa virus di dalam tubuhnya namun tidak menunjukkan gejala klinis seperti demam, sariawan, ataupun ruam merah sama sekali.
Kelompok ini disebut sebagai pembawa atau carrier yang sangat potensial menyebarkan virus ke lingkungan rumah dan menulari anak-anak tanpa pernah disadari.
Sebagai contoh, Mama atau Papa yang baru saja pulang bekerja bisa saja membawa partikel virus di tangan, pakaian, atau barang bawaan setelah berinteraksi di tempat umum yang terpapar.
Itulah sebabnya, sangat krusial bagi orang dewasa di rumah untuk tetap menjalankan protokol kebersihan yang sangat ketat, seperti segera mandi dan berganti pakaian setelah beraktivitas di luar, guna memutus rantai penularan yang bisa membahayakan anggota keluarga yang lebih rentan.
6. Waspadai bahaya komplikasi serius hingga risiko dehidrasi

Walaupun sebagian besar kasus Flu Singapura menunjukkan gejala yang cenderung ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya, Mama tidak boleh meremehkan potensi komplikasi yang mungkin terjadi selama masa infeksi.
Masalah yang paling sering muncul adalah dehidrasi berat, karena rasa perih dari sariawan di mulut membuat si Kecil merasa sangat kesakitan saat mencoba minum, sehingga mereka sering menolak asupan cairan sama sekali.
Selain itu, terdapat risiko komplikasi yang jauh lebih berbahaya jika infeksi disebabkan oleh strain virus Human Enterovirus 71 (HEV 71), yang dilaporkan dapat memicu terjadinya meningitis atau radang selaput otak hingga ensefalitis yang menyerang sistem saraf pusat.
Gejala komplikasi berat ini melibatkan gangguan fungsi saraf yang mengharuskan si Kecil segera mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit karena risiko kematiannya yang cukup tinggi.
Ada juga laporan mengenai komplikasi berupa lepasnya kuku jari tangan atau kaki beberapa minggu setelah fase akut berakhir. Meskipun kuku tersebut nantinya dapat tumbuh kembali secara normal, kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan dan memerlukan pengawasan medis yang intensif dari dokter spesialis.
7. Strategi pencegahan melalui protokol isolasi mandiri

Hingga saat ini, dunia medis belum menemukan vaksin khusus yang dapat mencegah infeksi virus Flu Singapura secara total, sehingga langkah pencegahan mandiri di rumah menjadi senjata utama bagi setiap keluarga.
Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara konsisten dan disiplin, dimulai dari mengajarkan si Kecil cara mencuci tangan yang benar menggunakan sabun dan air mengalir setelah bermain, sebelum makan, dan setelah dari toilet.
Hindari juga kebiasaan berbagi alat pribadi seperti sendok, gelas, handuk, atau sikat gigi dengan anggota keluarga lain yang sedang menunjukkan gejala sakit.
Rutin melakukan disinfeksi pada benda-benda yang sering disentuh bersama di rumah, seperti gagang pintu, permukaan meja, remote TV, hingga mainan favorit si Kecil guna mematikan virus yang mungkin menempel.
Jika si Kecil mulai menunjukkan tanda-tanda Flu Singapura, sangat disarankan untuk segera melakukan isolasi mandiri dan tidak membiarkan mereka pergi ke sekolah atau tempat penitipan anak sampai kondisi fisik benar-benar pulih total, demi mencegah terjadinya ledakan kasus atau Kejadian Luar Biasa (KLB) di lingkungan sosial mereka.
Jadi, langkah proteksi apa yang akan Mama terapkan secara konsisten ke si Kecil saat mereka sedang asyik main sama teman-temannya?


















