Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Haru! Perjuangan Anak Jalani Terapi Demi Bisa Berjalan Normal
Instagram.com/ayubeninggg
  • Irenna Nurashava menjalani terapi hampir tiga tahun akibat kelainan posisi kaki, termasuk terapi okupasi, ultrasound, laser, splint, penguatan otot, berenang, bersepeda, dan memanjat.
  • Berkat latihan konsisten, pendampingan tenaga medis, serta dukungan keluarga, Irenna kini mampu berjalan stabil, berlari, melompat, memanjat, dan mengendarai sepeda roda dua.
  • Kaki bengkok pada anak dapat terkait pertumbuhan normal atau kondisi medis tertentu; diagnosis dan penanganan, seperti pemantauan, rehabilitasi, brace, hingga operasi, perlu disesuaikan dokter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Melihat anak tumbuh sehat dan aktif tentu menjadi harapan setiap orangtua. Namun, perjalanan menuju tumbuh kembang yang optimal terkadang tidak selalu mudah.

Ada kalanya anak harus melalui berbagai pemeriksaan dan terapi untuk membantu kemampuan motoriknya berkembang dengan baik.

Hal tersebut dialami oleh Irenna Nurashava. Melalui unggahan di media sosial @ayubeninggg, sang mama membagikan kisah perjuangan putrinya yang menjalani berbagai terapi selama hampir tiga tahun akibat kelainan pada posisi kakinya.

Berkat konsistensi menjalani pengobatan, dukungan tenaga medis, semangat Irenna, serta doa keluarga, kini ia sudah mampu berjalan, berlari, melompat, memanjat, hingga bersepeda roda dua layaknya anak-anak seusianya.

Berikut Popmama.com telah merangkum kisah perjuangan Irenna.

1. Hampir tiga tahun menjalani berbagai terapi demi bisa berjalan normal

Instagram.com/ayubeninggg

Perjalanan menuju langkah pertama yang normal bukanlah hal yang mudah bagi Irenna Nurashava. Sejak masih kecil, ia harus menjalani berbagai terapi secara rutin karena mengalami kelainan pada posisi kakinya.

Dalam unggahan sang mama @ayubeninggg, dijelaskan bahwa sudut kaki Irenna sempat berada di angka minus 20 derajat sehingga memerlukan penanganan secara bertahap dari tim medis.

Selama hampir tiga tahun, Irenna menjalani beragam metode terapi yang bertujuan membantu memperbaiki fungsi gerak dan kekuatan ototnya.

Mulai dari terapi okupasi, terapi ultrasound, terapi laser, hingga penggunaan splint untuk membantu menjaga posisi kaki.

Tak hanya itu, ia juga rutin melakukan latihan penguatan otot, belajar mengangkat beban sesuai arahan tenaga medis, mengikuti les berenang, berlatih mengayuh sepeda, hingga menjalani latihan memanjat sebagai bagian dari rehabilitasi medik di RSCM.

Seluruh proses tersebut tentu membutuhkan kesabaran dan konsistensi yang luar biasa, baik dari Irenna maupun kedua orangtuanya.

Dalam keterangannya, sang mama mengaku menjadi saksi bagaimana putrinya berjuang melewati setiap tahapan terapi, lengkap dengan suka dan duka yang menyertainya.

2. Kini sudah bisa berlari, melompat, memanjat, hingga bersepeda roda dua

Instagram.com/ayu

Perjuangan panjang yang dijalani Irenna akhirnya membuahkan hasil yang membahagiakan.

Melalui unggahan di media sosial, Mama memperlihatkan perubahan besar pada kemampuan motorik putrinya.

Jika sebelumnya Irenna harus menjalani berbagai terapi karena kondisi kakinya, kini ia sudah dapat beraktivitas dengan lebih leluasa layaknya anak-anak seusianya.

Dalam video yang dibagikan, Irenna tampak percaya diri berjalan dengan langkah yang stabil.

Ia juga sudah mampu berlari, melompat, dan memanjat tanpa menunjukkan rasa takut. Kemampuan tersebut tentu tidak didapatkan secara instan, melainkan melalui latihan yang dilakukan secara konsisten selama hampir tiga tahun bersama para tenaga medis yang mendampinginya.

Tak hanya itu, sesuai anjuran dokter, Irenna juga mulai belajar bersepeda untuk membantu melatih keseimbangan dan kekuatan otot kakinya.

Usaha tersebut pun membuahkan hasil karena kini ia sudah lancar mengendarai sepeda roda dua. Sang mama juga mengungkapkan rasa syukurnya melihat perkembangan sang putri yang kini dapat bergerak lebih bebas.

3. Kaki bengkok pada anak dapat disebabkan oleh berbagai kondisi

Pexels/cottonbro studio

Kondisi kaki yang tampak bengkok pada anak tidak selalu disebabkan oleh satu jenis penyakit.

Menurut para ahli ortopedi, bentuk kaki yang tidak lurus dapat terjadi karena berbagai faktor, mulai dari proses pertumbuhan yang masih normal hingga kondisi medis tertentu yang memerlukan penanganan khusus.

Oleh karena itu, pemeriksaan langsung oleh dokter menjadi langkah penting untuk mengetahui penyebabnya.

Pada bayi dan balita, bentuk kaki yang menyerupai huruf O (genu varum) atau huruf X (genu valgum) sering kali merupakan bagian dari proses pertumbuhan.

Seiring bertambahnya usia, bentuk kaki umumnya akan berubah dan menjadi lebih lurus dengan sendirinya.

Namun, apabila kelengkungan tampak cukup berat, hanya terjadi pada satu kaki, semakin memburuk, atau disertai kesulitan berjalan, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Selain faktor pertumbuhan, kaki bengkok juga dapat disebabkan oleh penyakit Blount yang memengaruhi pertumbuhan tulang kering, rakhitis akibat kekurangan vitamin D, kalsium, atau fosfor, kelainan bawaan pada tulang, hingga gangguan pertumbuhan lainnya.

Setiap kondisi memiliki penyebab dan penanganan yang berbeda, sehingga diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan bentuk kaki atau foto yang beredar di media sosial.

4. Penanganan kaki bengkok pada anak disesuaikan dengan penyebabnya

Pexels/Antonius Ferret

Penanganan kaki bengkok pada anak tidak bisa disamaratakan karena setiap kondisi memiliki penyebab yang berbeda.

Setelah melakukan pemeriksaan fisik dan, bila diperlukan, pemeriksaan penunjang seperti foto rontgen, dokter akan menentukan terapi yang paling sesuai dengan usia anak, tingkat keparahan kelainan, serta penyebab yang mendasarinya.

Pada beberapa anak, terutama yang masih berada dalam fase pertumbuhan normal, dokter mungkin hanya menyarankan pemantauan secara berkala.

Namun, jika kelengkungan kaki disebabkan oleh kondisi tertentu, penanganan dapat melibatkan fisioterapi atau rehabilitasi medik untuk membantu meningkatkan kekuatan otot, keseimbangan tubuh, dan kemampuan berjalan.

Pada kasus tertentu, dokter juga dapat merekomendasikan penggunaan brace atau splint sebagai alat penyangga guna membantu memperbaiki posisi tungkai selama masa pertumbuhan.

Selain terapi di fasilitas kesehatan, anak biasanya juga dianjurkan melakukan latihan fisik yang disesuaikan dengan kemampuannya. Aktivitas seperti:

  • berenang,

  • bersepeda, latihan keseimbangan,

  • permainan yang melatih koordinasi tubuh.

Dapat menjadi bagian dari program rehabilitasi apabila direkomendasikan oleh tenaga medis.

Pada kondisi yang lebih berat atau tidak membaik dengan terapi konservatif, tindakan operasi dapat menjadi pilihan untuk memperbaiki posisi tulang dan mengembalikan fungsi kaki secara optimal.

5. Dukungan orangtua menjadi bagian penting dalam proses pemulihan anak

Instagram.com/ayubeninggg

Kisah Irenna menjadi salah satu contoh bahwa setiap kemajuan, sekecil apa pun, patut disyukuri.

Hampir tiga tahun menjalani berbagai terapi bukanlah waktu yang singkat. Namun, berkat kerja sama antara keluarga, tenaga medis, dan semangat luar biasa yang dimiliki Irenna, kini ia sudah dapat berlari, melompat, memanjat, hingga bersepeda roda dua dengan percaya diri.

Perjalanan setiap anak tentu berbeda.

Ada yang menunjukkan perkembangan dalam hitungan bulan, ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama. Karena itu, penting bagi orangtua untuk tidak membandingkan tumbuh kembang anak dengan anak lain.

Fokuslah pada setiap kemajuan yang berhasil dicapai dan terus ikuti arahan dokter maupun terapis yang mendampingi proses pemulihan.

Semoga kisah perjuangan ini dapat menjadi inspirasi sekaligus penyemangat bagi para Mama dan Papa yang sedang mendampingi buah hati menjalani terapi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article