Kebiasaan Olahraga Orangtua Berpengaruh pada Aktivitas Fisik Anak

- Kebiasaan olahraga orangtua berhubungan erat dengan tingkat aktivitas fisik anak
- Semakin rutin orangtua berolahraga, terutama Mama, semakin besar peluang anak untuk aktif bergerak
- Peran orangtua sebagai teladan paling terasa di luar jam sekolah, saat anak mengisi waktu luangnya di rumah
Pernahkah Mama merasa frustrasi ketika melihat anak lebih suka bermain gadget atau berbaring di kamar daripada keluar rumah dan berolahraga?
Sudah diingatkan berkali-kali, tetapi tetap saja tidak mau bergerak. Ternyata, hal ini tidak hanya dipengaruhi kemauan anak, tetapi juga kebiasaan di rumah.
Penelitian “Active behaviour of parents is more associated with out-of-school physical activity in their children” oleh BMC Pediatrics (2025) yang melibatkan lebih dari 1.000 pasang orangtua–anak ini mengungkap hubungan antara kebiasaan olahraga orangtua dan aktivitas fisik anak di sekolah maupun di luar sekolah.
Berikut Popmama.com rangkum 3 fakta penting tentang bagaimana kebiasaan olahraga orangtua berpengaruh ke aktivitas fisik anak.
Simak sampai habis ya, Ma!
Table of Content
1. Durasi olahraga orangtua memengaruhi aktivitas anak

Anak yang orangtuanya rutin berolahraga selama 150–300 menit per minggu memiliki peluang 57% lebih besar untuk aktif bergerak dibandingkan anak dengan orangtua yang jarang berolahraga.
Hal ini karena orangtua berperan sebagai teladan, sekaligus memberi dukungan, fasilitas, dan dorongan emosional yang membentuk kebiasaan aktivitas fisik anak, terutama di luar jam sekolah.
150-300 menit per minggu setara dengan olahraga 30 menit selama 5 hari seminggu atau 45 menit selama 3-4 hari dalam seminggu. Aktivitasnya tidak harus yang rumit. Jogging, jalan cepat, bersepeda, berenang, senam aerobik, yoga dinamis, atau bermain badminton sudah cukup.
Yang penting adalah konsistensi yang dapat diamati anak setiap hari, bukan intensitas tinggi sesekali.
2. Peran Mama ternyata lebih dominan dari Papa

Mama yang rutin berolahraga membuat anak 3,48 kali lebih mungkin aktif bergerak, lebih besar dibandingkan pengaruh Papa.
Hal ini karena Mama cenderung memiliki lebih banyak waktu bersama anak di luar jam sekolah, sehingga anak lebih sering mengamati dan meniru kebiasaan aktif dalam keseharian, seperti berjalan kaki, naik tangga, atau berkebun.
Meski demikian, peran Papa tetap penting. Untuk aktivitas di luar sekolah, Papa justru dapat memberi dorongan yang kuat, terutama pada anak laki-laki.
Karena itu, keterlibatan kedua orangtua dalam aktivitas fisik dinilai ideal untuk membentuk kebiasaan aktif pada anak.
3. Pengaruh orangtua terlihat pada aktivitas di luar sekolah

Di lingkungan sekolah, anak memiliki jadwal pendidikan jasmani, waktu istirahat, serta aktivitas terstruktur lainnya. Artinya, terlepas dari kebiasaan olahraga orangtua, aktivitas fisik anak di sekolah berjalan mengikuti aturan yang berlaku.
Pengaruh kebiasaan olahraga orangtua mulai terlihat di luar sekolah, seperti pada sore hari setelah pulang sekolah dan akhir pekan.
Data menunjukkan, orangtua yang aktif berolahraga membuat anak 55% lebih mungkin aktif bergerak di luar jam sekolah.
Perbedaan ini muncul karena di luar sekolah anak tidak memiliki kewajiban berolahraga.
Anak dengan orangtua yang aktif berolahraga cenderung tetap melakukan aktivitas fisik, sementara anak dari orangtua yang jarang berolahraga lebih banyak melakukan aktivitas yang minim gerak.
Intinya Ma, kebiasaan olahraga orangtua pada akhirnya berpengaruh pada tingkat aktivitas fisik anak di luar sekolah. Waktu di rumah menjadi momen penting untuk membangun kebiasaan olahraga anak.
Saat sore hari dan akhir pekan, aktivitas apa yang akan Mama lakukan bersama anak agar kebiasaan olahraga orangtua ini bisa berdampak positif bagi anak?


















