Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Moluskum Kontagiosum, Penyakit Kulit pada Anak yang Bintilnya seperti Nasi
Medicinenet.com

Pernahkah Mama melihat bintil-bintil bulat pada kulit si Kecil, seperti berisi butiran nasi di dalamnya, dan anak terus menggaruk karena terasa gatal?

Bisa jadi itu adalah moluskum kontagiosum, infeksi kulit akibat virus yang cukup umum terjadi pada anak-anak, Ma. Seperti belum lama ini, dr. Ian Suryadi Suteja, Sp.A, seorang dokter spesialis anak, membagikan sebuah kasus tentang pasiennya yang mengalami kondisi ini.

Dalam unggahannya, dr. Ian menjelaskan bahwa pasien anak tersebut memiliki bintil putih seperti nasi yang justru semakin bertambah banyak dan terasa gatal seiring waktu.

Hal ini terjadi karena si Kecil sering menggaruk area yang terkena, yang kemudian menyebarkan virus ke area kulit lainnya. Kondisi ini dikenal dengan istilah autoinokulasi.

Nah, untuk membantu Mama lebih memahami penyakit kulit yang satu ini, Popmama.com telah merangkum informasi lengkap seputar moluskum kontagiosum, mulai dari penyebab, gejala, cara penularan, hingga pengobatannya.

1. Apa Itu moluskum kontagiosum?

Healthclinicgroup.com

Dalam paparan yang dibagikan dr. Ian dalam unggahannya, disebutkan bahwa moluskum kontagiosum adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh virus dari kelompok Poxvirus.

Virus ini hanya menginfeksi lapisan teratas kulit dan tidak menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Pada dasarnya, penyakit ini bersifat jinak, Ma, tidak berbahaya, dan sering kali disebut sebagai penyakit yang dapat sembuh sendiri.

Meski tidak berbahaya, sayangkan moluskum kontagiosum sangat menular dan bisa bertahan lama di kulit.

Pada anak-anak dengan sistem kekebalan tubuh yang normal, bintil-bintil ini biasanya akan hilang dengan sendirinya, tetapi proses penyembuhannya bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan hingga 6–12 bulan.

"Sebenarnya bisa sembuh sendiri sih tapi butuh waktu berbulan-bulan, bisa 4-6 bulan. Tidak berbahaya sama sekali, tapi menularkan orang," penjelasan dr. Ian dalam video yang diunggahnya.

2. Gejala dan ciri-ciri bintil moluskum kontagiosum

Nhs.uk

Ciri khas utama dari moluskum kontagiosum adalah munculnya benjolan atau papul pada kulit yang berbentuk bulat seperti kubah dan berukuran kecil, umumnya sekitar dua hingga lima milimeter.

Salah satu keunikan dari bintil ini adalah adanya cekungan kecil di bagian tengahnya, yang membedakannya dari benjolan kulit lainnya. Dr. Ian menjelaskan bahwa wana bintilnya bisa bervariasi, mulai dari merah muda dan putih mutiara.

Jika bintil ditekan atau pecah, akan keluar cairan kental atau massa berwarna putih seperti nasi, yang disebut dengan badan moluskum dan mengandung banyak virus.

Pada anak-anak, bintil ini paling sering ditemukan di wajah, leher, ketiak, lengan, perut, dan paha. Meskipun umumnya tidak terasa nyeri, bintil bisa menimbulkan rasa gatal, terutama jika kulit di sekitarnya meradang sebagai reaksi tubuh terhadap virus.

3. Cara penularan moluskum kontagiosum

Emedicinehealth.com

Penularan moluskum kontagiosum terjadi melalui kontak langsung maupun tidak langsung, dan virus ini sangat mudah menyebar, terutama pada anak-anak.

Cara penularan yang paling umum adalah melalui kontak skin-to-skin secara langsung dengan pengidap, misalnya saat bermain, berpelukan, atau sekadar bersentuhan.

Selain itu, virus juga dapat menular melalui benda-benda yang terkontaminasi, seperti handuk, pakaian, atau peralatan olahraga yang digunakan secara bergantian.

Kalau anak suka berenang di tempat umum, ini juga perlu diwaspadai, Ma, karena air kolam renang yang terkontaminasi virus juga bisa menjadi media penularan, sehingga anak-anak yang sering berenang memiliki risiko lebih tinggi.

Yang perlu diwaspadai oleh orangtua adalah proses autoinokulasi, yaitu penyebaran virus dari satu bintil ke area kulit lainnya pada orang yang sama akibat kebiasaan menggaruk atau memencet bintil tersebut.

Inilah yang membuat kasus pasien anak yang dibagikan dr. Ian semakin parah, karena ia sering menggaruk area yang gatal sehingga bintilnya justru bertambah banyak.

4. Terapi dan pengobatan yang diperlukan

Magnific/pressfoto

Pendekatan pengobatan untuk moluskum kontagiosum sangat tergantung pada kondisi pasien, jumlah bintil, serta usia anak.

Pada kasus yang ringan, pilihan terbaik yang paling dianjurkan oleh dokter adalah menunggu hingga bintil sembuh dengan sendirinya melalui proses observasi, karena tubuh yang sehat pada akhirnya akan mampu melawan virus tersebut.

Selama masa tunggu yang bisa mencapai 6-12 bulan ini, orangtua hanya disarankan untuk menjaga kebersihan kulit dan mengingatkan anak agar tidak menggaruk bintil agar virus tidak menyebar.

Namun, jika bintil dirasa sangat mengganggu, jumlahnya banyak, atau untuk mencegah penularan ke orang lain, dokter kulit dapat melakukan beberapa tindakan, seperti:

  • Krioterapi, yaitu membekukan bintil dengan nitrogen cair.

  • Kuretase yang bertujuan mengikis dan mengeluarkan inti bintil secara langsung.

  • Obat oles, berupa krim atau salep resep untuk mempercepat proses pengelupasan kulit yang terinfeksi.

Penyakit kulit ini memang tidak berbahaya, tapi dapat mengganggu penampilan dan berpotensi menular ke orang-orang di sekitar si Kecil.

Kesabaran adalah kunci utama, karena penyembuhannya memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar, Ma.

Jika Mama melihat muncul bintil-bintil aneh pada kulit si Kecil, jangan ragu segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak atau dokter kulit untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan mencegah penyebarannya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article