Persahabatan Sheila Dara dan Fita Anggriani, Kerap Matching Outfit

- Sheila Dara dan Fita Anggriani berbagi kisah persahabatan 13 tahun yang tumbuh alami sejak pertemuan pertama mereka di karaoke, tetap akrab meski jarang bertemu.
- Keduanya sering tampil dengan gaya fashion senada tanpa direncanakan, mencerminkan kedekatan dan nilai kebersamaan yang juga sejalan dengan kolaborasi UNIQLO x Cecilie Bahnsen.
- Fita membagikan pandangan tentang keseimbangan peran sebagai ibu dan perempuan, sementara koleksi ‘Shapes of Poetry’ merayakan ekspresi diri serta hubungan hangat antarperempuan.
Peluncuran koleksi UNIQLO x Cecilie Bahnsen “Shapes of Poetry” di The Dharmawangsa, Jakarta pada Rabu (20/5/2026) jadi hal menarik. Pasalnya di momen itu, dua orang sahabat lama yakni Sheila Dara dan Fita Anggriani berbagi cerita hangat tentang hubungan pertemanan kompak yang sudah terjalin 13 tahun.
Keduanya membagikan kisah kedekatan bahkan dari awal mereka bisa kenal karena momen karaoke bareng. Tidak hanya, mereka juga berbagi fun fact soal kebiasaan masing-masing! Salah satunya adalah gaya berpakaian yang punya selera sama.
Sebagai seorang ibu, Fita juga berbagi pengalamannya yang punya anak perempuan dan sudah mulai berekspresi lewat fashion.
Beriku Popmama.com rangkum informasi selengkapnya mengenai hal ini!
1. Persahabatan lebih dari 10 tahun yang terasa “mengalir saja”

Sheila Dara dan Fita Anggriani sudah bersahabat sejak 2012. Menariknya, keduanya mengaku hubungan mereka tidak dibangun dengan effort berlebihan, melainkan tumbuh natural dari waktu ke waktu.
Fita menceritakan momen awal pertemuan mereka dengan santai,
“Aku pertama kali ketemu Sheila tahun 2012, dikenalin sama teman, dan waktu itu kita karaokean bareng. Aku langsung mikir, ‘Wah, dia cantik banget, suaranya juga bagus.’ Dari situ jadi pengen temenan sama dia, hahaha. Setelah itu kita jadi sering ketemu dan terus dekat sampai sekarang,” kenang Fita Anggriani.
Sementara Sheila menegaskan kenapa hubungan mereka bisa awet karena Fita yang kerap mencari dirinya yang suka “ilang-ilangan”. Namun, dalam pernyataannya Sheila menyebut hubungan mereka meski tidak sering bertemu tetap berkualitas.
“Menurut aku pribadi, untuk menjaga pertemanan itu less effort is better, makanya sampai sekarang pertemanan kita masih awet. Yang aku suka dari berteman sama Fita itu walaupun kita sama-sama sibuk, tapi giliran ketemu rasanya nggak ada waktu yang terlewat. Jadi semuanya terasa effortless,” ujarnya.
2. Sering terlihat kompak dan “matching outfit” tanpa direncanakan

Salah satu hal yang paling menarik dari hubungan pertemanan Sheila dan Fita adalah gaya mereka yang sering terlihat senada. Meski tidak pernah direncanakan sebagai “couple outfit”, keduanya kerap tampil dengan vibe fashion yang mirip.
Sheila menjelaskan bahwa kedekatan mereka justru membuat gaya terasa menyatu. Namun, untuk masalah styling keduanya tetap punya ciri khas masing-masing yang tidak bisa diganggu gugat.
Hal ini membuat gaya mereka terasa natural, bukan dipaksakan, tapi muncul dari kenyamanan sebagai sahabat dekat.
Menanggapi cerita tersebut, Evy Christina Setiawan merespons dengan perspektif yang menarik: bahwa pola hubungan yang didasari shared values seperti itu jugalah yang tercermin pada proses kolaborasi antara UNIQLO dan Cecilie Bahnsen.
“Great partnerships, just like great friendships, are effortless dan memiliki nilai yang sama. Pada akhirnya, hubungan yang langgeng biasanya lahir karena memiliki shared values yang sama, sehingga semuanya terasa natural dan bisa berdampak. Hal itu juga yang kami rasakan dalam kolaborasi UNIQLO dan Cecilie Bahnsen. Kami sama-sama percaya bahwa fashion should serve the woman, dan pakaian seharusnya dapat bergerak bersama penggunanya untuk mendukung kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
3. Fita Anggriani belajar utuh sebagai perempuan dan ibu

Fita Anggriani membagikan pandangannya tentang menjalani banyak peran sebagai perempuan, public figure, dan ibu yang menurutnya justru membuat dirinya semakin utuh dan berkembang. Ia menekankan bahwa berbagai peran tersebut bisa berjalan berdampingan tanpa harus saling dipilih, karena semuanya saling membentuk pengalaman hidup yang lebih kaya.
“Awalnya tentu ada banyak ‘trial and error’. Tapi sekarang aku lebih sadar bahwa berbagai peran dalam hidup bisa co-exist. Menjadi ibu justru membuatku lebih berani dalam karier, karena kita tahu untuk siapa kita berjuang. Buat aku, yang penting adalah bisa hadir sepenuhnya di setiap peran yang sedang dijalani,” ujarnya.
Senada dengan itu, Sheila Dara juga mengungkapkan bahwa perjalanannya sebagai aktris dan public figure membuat cara pandangnya terhadap fashion ikut berkembang menjadi lebih personal dan tidak lagi sekadar mengikuti tren.
“Fashion aku pasti berubah. Aku yang tahun 2013 jauh banget dibanding sekarang secara style. Persamaannya mungkin masih sama-sama melihat apa yang lagi tren, tapi dulu aku cenderung blindly follow the trend. Kalau sekarang, aku lebih bisa memilah mana yang memang sesuai dengan core identity aku,” tambahnya.
Keduanya merefleksikan bahwa fashion dan peran hidup sama-sama menjadi ruang untuk bertumbuh dan menemukan identitas diri yang lebih autentik.
4. Momen ibu dan anak mulai eksplorasi fashion bersama

Fita juga membagikan momen personal tentang perannya sebagai ibu dari putrinya, Emma, yang kini mulai tumbuh dengan selera fashion sendiri. Ia mengaku sejak awal memang ingin punya anak perempuan agar bisa berbagi momen seru, termasuk dalam hal berpakaian, meski kini sang anak sudah mulai menentukan pilihannya sendiri.
“Aku memang dari awal menikah pengen punya anak perempuan karena rasanya seru membayangkan bisa dandan bareng. Tapi ternyata semakin Emma besar, dia juga semakin punya opini sendiri soal fashion yang dia suka. Sekarang dia sudah bisa pilih sendiri mau pakai yang mana,” ceritanya.
Fita juga menilai koleksi ini cocok untuk anaknya karena nyaman dipakai sekaligus tetap punya detail feminin yang manis, “Aku yakin Emma bakal suka koleksi ini, karena dia sangat suka T-shirt. Yang aku suka dari koleksi T-shirt ini adalah karena nyaman dikenakan namun tetap memiliki detail floral yang feminin, jadi terasa manis tanpa berlebihan,” tambahnya.
Sementara itu, UNIQLO menegaskan bahwa koleksi childrenswear ini memang dirancang agar ibu dan anak bisa tampil serasi tanpa harus terlihat identik, sehingga tetap memberi ruang ekspresi masing-masing.
“Itulah intensi dari lini childrenswear dalam koleksi ini, yaitu bisa di-styling secara bebas. Jadi kalau mau tampil matching sama anak, styling-nya tetap bisa terasa harmonis dan manis tanpa harus benar-benar ‘copy paste’,” ujar Evy.
5. Koleksi yang merayakan perempuan di kehidupan

Melalui kolaborasi ini, UNIQLO dan Cecilie Bahnsen menghadirkan koleksi yang tidak hanya menyeimbangkan fungsi dan keindahan, tetapi juga merayakan hubungan, pertumbuhan, dan ekspresi diri perempuan dalam keseharian. Koleksi “Shapes of Poetry” dimaknai lebih dalam sebagai refleksi bahwa fashion bukan hanya soal siluet atau detail busana, tetapi juga tentang persahabatan, peran sebagai ibu, serta proses mengenal diri yang terus berkembang.
Pada akhirnya, pakaian dipahami sebagai bagian dari cara seseorang hidup, tumbuh, dan terhubung dengan orang-orang di sekitarnya. Koleksi UNIQLO and Cecilie Bahnsen Spring/Summer 2026 “Shapes of Poetry” akan tersedia mulai 27 Mei 2026 di seluruh toko UNIQLO Indonesia, termasuk Pondok Indah Mall 3, Senayan City, Plaza Indonesia (mulai 27 Mei 2026), serta online melalui UNIQLO Indonesia.


















