Skin Booster dari Mayat Viral di Korea, Ini Fakta dan Kontroversinya

- ECM skin booster memakai matriks ekstraseluler dari kulit donor meninggal yang telah dihilangkan selnya, lalu diolah untuk injeksi estetika; bukti efektivitas dan keamanan jangka panjang masih terbatas.
- Meski viral di Korea Selatan, jaringan untuk produk ini diimpor dari luar negeri. Sejak diperkenalkan pada 2024, pasar berkembang dan diperkirakan memiliki sekitar tujuh produk pada 2026.
- Penggunaan jaringan jenazah untuk kecantikan memicu isu persetujuan donor, etika, dan regulasi. Pemerintah Korea Selatan mempertimbangkan aturan lebih jelas serta pembatasan pemasaran kosmetik.
Tren perawatan estetika di Korea Selatan kembali menjadi sorotan setelah munculnya extracellular matrix (ECM) skin booster. Sebenarnya kehebohan ini sudah terjadi di sana sejak April 2026, tetapi baru diperdebatkan di Indonesia beberapa bulan kemudian tepatnya September.
ECM skin booster adalah perawatan yang memanfaatkan material dari jaringan kulit manusia yang berasal dari donor yang telah meninggal atau cadavers. Teknologi ini sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru dalam dunia medis.
Jaringan manusia yang telah diproses sebelumnya telah digunakan untuk membantu menangani luka bakar hingga kebutuhan rekonstruksi. Namun, penggunaannya dalam prosedur kecantikan kini memunculkan perdebatan mengenai keamanan, regulasi, persetujuan donor, hingga etika.
Berikut Popmama.com rangkum fakta dan kontroversi mengenai skin booster dari mayat atau ECM skin booster yang tengah menjadi perhatian.
Table of Content
1. Memanfaatkan struktur kulit jenazah manusia yang telah diproses

Pexels/https://kaboompics.com/ ECM skin booster menggunakan extracellular matrix atau ECM yang berasal dari jaringan kulit manusia. Jaringan tersebut diproses dengan menghilangkan sel-selnya atau disebut deselularisasi, sehingga menghasilkan acellular dermal matrix (ADM).
Material yang tersisa kemudian diproses agar dapat digunakan dalam prosedur injeksi. ECM sendiri merupakan struktur yang berada di antara sel dan membantu memberikan dukungan bagi jaringan tubuh, termasuk kulit.
Pendekatan ini berbeda dengan skin booster seperti Rejuran yang menggunakan polinukleotida berbahan dasar DNA salmon untuk merangsang proses regenerasi kulit. Pada ECM skin booster, material dari jaringan manusia yang telah diproses digunakan sebagai bagian dari upaya memperbaiki lingkungan dan struktur jaringan kulit.
Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Molecular Sciences pada 2026 juga telah menguji salah satu produk berbasis human acellular dermal matrix untuk prosedur estetika wajah. Namun, penelitian tersebut masih dilakukan dalam skala kecil sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui efektivitas dan keamanan jangka panjangnya.
2. Jaringan kulit jenazah itu bukan berasal dari donor Korea Selatan

Pexels/준섭 윤 Meski viral di Korea Selatan rupanya bahan jaringan kulit dari mayat atau cadavers ini merupakan barang impor. Hal ini yang membuat penggunaan jaringan manusia dalam perawatan ini lantas menimbulkan pertanyaan mengenai asal bahan bakunya.
Dikutip dari The Straits Times, Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan menyatakan bahwa jaringan manusia yang digunakan untuk ECM skin booster saat ini diimpor dari luar negeri.
Artinya, produk tersebut tidak menggunakan jasad donor domestik Korea Selatan sebagai sumber jaringan.
Salah satu perusahaan yang menjadi pelopor kategori ini adalah L&C Bio melalui produk Elravie Rituo yang diperkenalkan pada 2024. Perusahaan tersebut mengatakan jaringan yang digunakan telah melalui proses pengelolaan dan pencatatan sehingga dapat ditelusuri dari donor hingga penggunaannya.
3. Banyak pengembangan dari perusahaan lain di Korea Selatan

Pexels/Daniel & Hannah Snipes Sejak diperkenalkan pada tahun 2024 itu oleh satu perusahaan, akhirnya yang lain mulai mengembangkan produk serupa. Seoul Economic Daily melaporkan bahwa semakin banyak perusahaan memasuki pasar tersebut dan jumlah produk ECM skin booster di Korea Selatan diperkirakan dapat mencapai sekitar 7 produk pada 2026.
Perkembangan ini memperlihatkan bagaimana teknologi yang sebelumnya banyak digunakan dalam bidang rekonstruksi medis mulai masuk ke industri kecantikan.
Permintaan dari pasien juga disebut ikut mendorong pertumbuhan pasar. Sejumlah dokter bahkan mengungkapkan bahwa klinik estetika menghadapi permintaan yang cukup tinggi terhadap prosedur regeneratif tersebut.
4. Tujuan penggunaan untuk kecantikan masih diperdebatkan

Pexels/Daniel & Hannah Snipes Salah satu alasan ECM skin booster menuai kontroversi adalah perubahan konteks penggunaannya. Jaringan dermis manusia yang telah diproses sebelumnya telah digunakan dalam bidang medis yang paling umum misalnya penanganan luka bakar dan berbagai kebutuhan rekonstruksi.
Namun, ketika digunakan untuk tujuan estetika pasti muncul pertanyaan mengenai batas pemanfaatan jaringan donor.
Sejumlah pakar menilai perlu ada kejelasan mengenai apakah persetujuan donor mencakup penggunaan jaringan untuk kepentingan kecantikan dan bisnis. Ada pula kekhawatiran bahwa pemanfaatan tubuh atau jaringan jenazah untuk kepentingan komersial dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap sistem donasi.
Dikutip dari The Straits Times, survei yang dilakukan Profesor Lee Dong-han dari Sookmyung Women's University terhadap 1.034 responden dewasa, sebanyak 60,9 persen mendukung pelarangan atau pembatasan ketat penggunaan jaringan jenazah untuk tujuan estetika.
Kekhawatiran ini menjadi semakin besar karena jumlah donasi tubuh di Korea Selatan masih relatif terbatas, yakni sekitar 200 kasus per tahun menurut laporan The Korea Herald.
5. Popularitasnya lebih cepat daripada aturan yang mengawasinya

Unsplash/Tingey Injury Law Firm Selain persoalan etika, ECM skin booster juga menghadapi pertanyaan mengenai status regulasinya. Produk berbasis jaringan manusia tersebut berada dalam kerangka pengaturan jaringan manusia di Korea Selatan.
Jalur pengawasannya pun berbeda dengan obat atau alat kesehatan tertentu yang harus melalui proses pengujian dan persetujuan sebelum dipasarkan.Situasi ini menciptakan apa yang disebut sebagai regulatory gray area, terutama ketika material yang memiliki sejarah penggunaan medis mulai diberikan sebagai prosedur estetika.
L&C Bio membantah anggapan bahwa produknya tidak memiliki pengawasan, dari laporan The Straits Times. Perusahaan menegaskan bahwa proses dari donor hingga penggunaan jaringan memiliki sistem pencatatan dan keterlacakan. Mereka juga berpendapat bahwa produk berbahan jaringan manusia tidak dapat sepenuhnya disamakan dengan produk sintetis yang mengikuti mekanisme pengujian alat kesehatan biasa.
Di sisi lain, pemerintah Korea Selatan mulai mempertimbangkan aturan yang lebih jelas. Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan perlu membedakan penggunaan jaringan manusia untuk terapi medis dengan penggunaan untuk kepentingan estetika, sementara Kementerian Keamanan Pangan dan Obat-obatan (MFDS) tengah meninjau pembatasan pemasaran produk tersebut untuk tujuan kosmetik.
Perdebatan mengenai ECM skin booster pun akhirnya tidak hanya berkutat pada soal kulit yang lebih sehat atau tampak lebih muda.
Perawatan ini membawa pertanyaan yang jauh lebih besar: sejauh mana jaringan manusia dari donor yang telah meninggal dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan estetika dan industri kecantikan?






















