Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa Itu Akalasia? Ini Penyebab, Gejala dan Cara Mengatasinya
Pexels/Picas Joe
  • Akalasia adalah gangguan langka pada kerongkongan yang membuat makanan sulit turun ke lambung karena otot tidak berkontraksi normal dan LES gagal terbuka.
  • Gejalanya meliputi sulit menelan, nyeri dada, heartburn mirip GERD, batuk malam hari, serta penurunan berat badan tanpa sebab jelas.
  • Penanganan dilakukan lewat obat pereda otot, suntik botox, pelebaran balon, operasi Heller’s myotomy atau POEM, serta penyesuaian pola makan agar gejala terkendali.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah kamu, sehabis makan, merasa ada yang nyangkut di dada, padahal makanannya sudah ditelan dengan baik? Kalau sensasi ini sering terjadi dan nggak kunjung hilang, jangan langsung menyimpulkan itu cuma maag atau asam lambung naik.

Bisa jadi yang kamu alami adalah akalsia, gangguan langka pada kerongkongan yang membuat makanan dan cairan sulit turun ke lambung. 

Buat kamu yang penasaran dengan kondisi ini, berikut Popmama.com merangkum apa itu akalasia? Ini penyebab, gejala, dan cara mengatasinya. Yuk, simak sampai habis!

Pengertian Akalasia

Pexels/Tima Miroshnichenko

Akalasia adalah gangguan pada kerongkongan (esofagus), yaitu saluran otot yang menghubungkan mulut dengan lambung. 

Dalam keadaan normal, otot kerongkongan berkontraksi secara berirama untuk mendorong makanan turun, lalu otot cincin di ujung kerongkongan (disebut lower esophageal sphincter atau LES) akan terbuka agar makanan masuk ke lambung.

Dilansir dari Cleveland Clinic, gerakan dorong otot kerongkongan ini melemah atau bahkan tidak terjadi sama sekali, sementara LES juga gagal terbuka dengan baik. 

Akibatnya, makanan dan cairan menumpuk di kerongkongan, bukannya turun ke lambung. Kondisi ini tergolong jarang, hanya menyerang sekitar 1 dari 100.000 orang, dan paling sering ditemukan pada usia 25-60 tahun, meski anak-anak juga bisa mengalaminya.

Dikutip dari Mayo Clinic, akalsia kadang disalahartikan sebagai GERD atau asam lambung naik, padahal sumber masalahnya berbeda. Pada GERD, isi yang naik berasal dari lambung. 

Sementara pada akalasia, makanan yang naik balik justru belum sempat masuk ke lambung sama sekali karena tersangkut di kerongkongan.

Gejala Akalasia yang Perlu Diwaspadai

Pexels/cottonbro studio

Berikut beberapa tanda yang bisa diwaspadai, dirangkum dari Mayo Clinic:

  1. Sulit menelan (disfagia): Rasanya seperti makanan atau minuman tersangkut di tenggorokan atau dada.

  2. Makanan atau air liur naik kembali ke mulut: Kadang disertai rasa pahit karena makanan sempat terfermentasi di kerongkongan.

  3. Heartburn atau rasa terbakar di dada: Meski bukan disebabkan oleh asam lambung, rasanya mirip dengan penderita GERD.

  4. Nyeri dada: Rasanya terkadang terasa cukup berat dan hilang-timbul.

  5. Kesulitan bersendawa: Terjadi karena makanan masih menyangkut di kerongkongan atau justru malah sering cegukan.

  6. Batuk atau tersedak, terutama di malam hari: Ini dapat terjadi  akibat makanan yang masuk ke saluran napas.

  7. Berat badan turun tanpa sebab yang jelas: Terjadi karena tubuh kesulitan mendapatkan cukup nutrisi.

Apa yang Menyebabkan Akalasia?

Pexels/cottonbro studio

Sampai saat ini, penyebab pasti akalasia belum diketahui secara jelas. Namun, ada beberapa teori yang dipercaya para ahli, seperti dilansir Cleveland Clinic:

  1. Kerusakan sel saraf di kerongkongan: Terjadi karena kerongkongan seharusnya mengatur kontraksi otot untuk mendorong makanan turun.

  2. Reaksi autoimun: Di mana sistem kekebalan tubuh justru menyerang sel saraf kerongkongan milik tubuh sendiri.

  3. Infeksi virus: Terjadi, diduga pemicu munculnya reaksi autoimun tersebut.

  4. Faktor genetik atau bawaan: Meski kasus ini sangat jarang terjadi dibandingkan dengan teori lainnya.

Faktor Risiko yang Meningkatkan Kemungkinan Akalasia

Pexels/Kampus Production

Meski bisa terjadi pada siapa saja, ada beberapa faktor yang membuat seseorang lebih berisiko mengalami akalasia, seperti dikutip dari Mayo Clinic:

  1. Usia: Meski bisa menyerang segala usia, akalsia lebih sering ditemukan pada orang berusia 25-60 tahun.

  2. Memiliki kondisi medis tertentu: Seperti gangguan alergi, insufisiensi adrenal, atau sindrom Allgrove (kelainan genetik langka).

Cara Mengatasi dan Mengobati Akalasia

Pexels/Polina Tankilevitch

Kabar baiknya, meski belum ada obat yang bisa menyembuhkan dan mencegah akalasia secara total, gejalanya tetap bisa dikendalikan dengan beberapa metode berikut, berdasarkan rangkuman dari Cleveland Clinic:

  1. Obat-obatan: Seperti nifedipine atau golongan nitrat, digunakan untuk membantu merelaksasi otot kerongkongan agar makanan lebih mudah turun. Sayangnya, efeknya biasanya hanya sementara.

  2. Suntik botox: Dilakukan pada otot cincin kerongkongan agar lebih relaks. Cara ini cukup aman, tapi efeknya perlu diulang setiap beberapa bulan.

  3. Pelebaran balon (dilatasi): Yaitu prosedur memasukkan balon kecil ke kerongkongan lalu mengembangkannya untuk melebarkan saluran yang menyempit.

  4. Operasi Heller's myotomy atau POEM: Yaitu suatu tindakan memotong sebagian otot kerongkongan agar makanan bisa lewat lebih lancar. Cara ini cenderung memberi hasil yang lebih tahan lama.

  5. Penyesuaian pola makan: Misalnya, makan dengan porsi kecil, mengunyah lebih lama, banyak minum air saat makan, serta duduk tegak setelah makan agar gravitasi membantu makanan turun.

Nah, itulah pembahasan mengenai apa itu akalasia? Ini penyebab, gejala, dan cara mengatasinya. Semoga bermanfaat!

Editorial Team

Related Article