Pernah tidak tiba-tiba muncul ruam merah, kulit melepuh, atau bercak kasar yang tidak kunjung hilang, padahal kamu tidak habis alergi apa pun? Bisa jadi itu bukan sekadar iritasi kulit biasa, melainkan tanda dari autoimun kulit.
Autoimun Kulit: Penyebab, Gejala, dan Cara Pengobatannya

- Autoimun kulit terjadi ketika sistem imun keliru menyerang sel kulit sehat, memicu peradangan, ruam, penebalan, luka, atau lepuhan; kondisi ini juga dapat terkait gangguan organ lain.
- Penyebab pastinya belum diketahui, tetapi risiko dikaitkan dengan faktor genetik, infeksi, hormon, obat tertentu, jenis kelamin perempuan, riwayat keluarga, serta pemicu seperti matahari dan stres.
- Jenisnya mencakup pemfigus, pemfigoid, lupus kulit, skleroderma, dermatomiositis, dermatitis herpetiformis, dan vaskulitis; gejala dikendalikan melalui diagnosis dokter serta kortikosteroid, imunosupresan, biologik, atau IVIG.
Kondisi ini terjadi saat sistem imun yang seharusnya melindungi tubuh justru salah sasaran dan menyerang sel-sel kulit yang sehat sehingga mengakibatkan perubahan pada kulit.
Untuk mengenal lebih jauh tentang penyakit ini, berikut Popmama.com mengulas autoimun kulit: penyebab, gejala dan pengobatan. Yuk, simak sampai habis!
Table of Content
Apa Itu Autoimun Kulit?

Pexels/www.kaboompics.com Sebelum masuk lebih jauh, penting untuk memahami dahulu bagaimana sistem imun bekerja. Secara normal, sel darah putih memproduksi antibodi untuk melawan zat asing yang berbahaya bagi tubuh.
Melansir dari Healthcare University of Utah, pada penyakit autoimun, yang terjadi justru sebaliknya, antibodi menyerang jaringan sehat, bukan zat berbahaya.
Nah, ketika "kesalahan" sistem imun ini menyasar kulit, munculah yang disebut autoimun kulit. Mengutip Charlotte Dermatology, autoimun kulit berkembang ketika sistem imun tubuh mulai salah mengenali dan menyerang sel-sel kulit yang sehat, sehingga menimbulkan peradangan, ruam, penebalan kulit, luka, atau lepuhan tergantung pada jenis kondisinya.
Karena kulit adalah organ yang paling terlihat, gejala autoimun sering kali pertama kali muncul di sana, jauh sebelum organ lain ikut terdampak.
Dikutip dari Duke Health, autoimun kulit erat kaitannya dengan gangguan lain di tubuh, mulai dari saluran pencernaan hingga persendian, tergantung pada jenis autoimunnya.
Apa Penyebab Autoimun Kulit?

Pexels/Monstera Production Sampai sekarang, penyebab pasti autoimun kulit sebenarnya belum sepenuhnya dipahami oleh para ahli. Namun, menurut DermNet NZ, ada beberapa faktor yang diduga berperan dalam memicu munculnya kondisi ini, di antaranya:
Faktor genetik: Kebanyakan bersifat poligenik, artinya kombinasi beberapa gen sekaligus yang meningkatkan risiko seseorang terkena autoimun.
Infeksi tertentu: Infeksi bisa memicu proses autoimun dengan cara "meniru" struktur sel tubuh sendiri, sehingga sistem imun jadi bingung membedakan mana musuh, mana bagian dari tubuh sendiri.
Faktor hormon: Gen pada kromosom Y diduga dapat melindungi laki-laki dari autoimun, sementara hormon estrogen pada perempuan justru meningkatkan kerentanan terhadap autoimun.
Penggunaan obat tertentu: Beberapa jenis obat, seperti penicillamine, captopril, dan vancomycin, diketahui dapat memicu munculnya pemfigus.
Selain empat hal di atas, dikutip dari Duke Health, penyebab autoimun kulit memang belum diketahui pasti, tetapi diduga berkaitan dengan masalah pada respons sistem imun tubuh itu sendiri.
Gejala Autoimun Kulit yang Perlu Diwaspadai

Pexels/www.kaboompics.com Karena menyerang kulit secara langsung, gejala autoimun biasanya cukup mudah dikenali dari luar. Melansir dari Healthcare University of Utah, beberapa gejala yang umum muncul meliputi:
Ruam kemerahan di kulit
Lepuhan atau bula berisi cairan
Lesi atau luka pada kulit
Rasa lelah berlebihan (fatigue)
Bercak kulit yang kasar dan bersisik
Selain gejala pada kulit, mengutip Duke Health, autoimun kulit juga kerap memengaruhi selaput lendir, yaitu jaringan lembap di area mulut, hidung, mata, dan genital. Bahkan, luka di area-area ini terkadang menjadi satu-satunya tanda awal penyakit autoimun sebelum gejala lain muncul.
Faktor Risiko yang Meningkatkan Kemungkinan Autoimun Kulit

Pexels/Tim Mossholder Tidak semua orang punya peluang yang sama untuk mengalami autoimun kulit. Mengutip DermNet NZ, penyakit autoimun diperkirakan memengaruhi sekitar 5 persen populasi dunia, dan beberapa faktor berikut bisa meningkatkan risikonya:
- Jenis kelamin: Perempuan cenderung lebih rentan mengalami penyakit autoimun dibandingkan laki-laki.
- Riwayat keluarga: Seseorang dengan anggota keluarga yang punya riwayat autoimun berisiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa.
- Kelompok sosial ekonomi dan letak geografis: Beberapa studi menunjukkan autoimun lebih sering ditemukan pada kelompok dengan status sosial ekonomi lebih tinggi dan wilayah lintang utara.
- Faktor pemicu dari luar: Dilansir Charlotte Dermatology, gejala autoimun kulit bisa kambuh akibat paparan sinar matahari, stres, sakit, atau perubahan lingkungan.
Jenis-Jenis Autoimun Kulit yang Umum Terjadi

Pexels/Ron Lach Autoimun kulit ternyata bukan cuma satu jenis penyakit, melainkan payung besar yang menaungi banyak kondisi berbeda. Merangkum dari Healthcare University of Utah, berikut beberapa jenis autoimun kulit yang cukup umum ditemukan:
- Pemfigus (Pemphigus): Kkelompok penyakit langka yang menyebabkan lepuhan pada kulit dan area mulut akibat antibodi yang mengganggu ikatan antar sel kulit.
- Pemfigoid (Pemphigoid): Mirip pemfigus, tapi lepuhannya lebih besar, tegang, dan berisi cairan, umumnya dialami orang yang lebih tua.
- Lupus kulit (Cutaneous lupus): Memengaruhi kulit dengan ruam khas, terutama di area yang terpapar sinar matahari.
- Skleroderma dan morfea: Membuat kulit menjadi tebal dan kaku, bahkan bisa berdampak ke sistem pencernaan dan jantung pada kasus skleroderma.
- Dermatomiositis: Ditandai dengan ruam kulit yang disertai peradangan pada otot.
- Dermatitis herpetiformis: Lepuhan yang sangat gatal, biasanya muncul di siku, lutut, dan bokong, serta berkaitan erat dengan penyakit celiac.
- Vaskulitis: Peradangan pada pembuluh darah yang bisa memengaruhi kulit, ginjal, dan organ lain.
Perawatan dan Pengobatan Autoimun Kulit

Pexels/Anna Shvets Kabar baiknya, meski autoimun kulit belum bisa disembuhkan total, gejalanya bisa dikendalikan dengan penanganan yang tepat. Menurut Duke Health, berikut beberapa pilihan perawatan yang biasa diberikan dokter:
Kortikosteroid: Baik dalam bentuk topikal (dioles ke kulit) maupun sistemik (diminum), untuk menekan sistem imun dan meredakan peradangan pada kasus yang lebih ringan.
Obat imunosupresan dan imunomodulator: Mengubah respons imun tubuh dan mengontrol efek peradangan, biasanya perlu pemantauan dokter secara rutin.
Terapi biologik, seperti rituximab: Menyasar bagian tertentu dari sistem imun untuk menurunkan peradangan.
Immunoglobulin intravena (IVIG): Produk darah murni berisi antibodi sehat yang membantu menetralkan antibodi "nakal" penyebab kerusakan kulit.
Dikutip dari DermNet NZ, dermatitis herpetiformis punya penanganan khusus, yaitu kombinasi obat dapson dan pola makan bebas gluten.
Sebelum menentukan jenis perawatan, dokter biasanya juga melakukan pemeriksaan fisik, tes darah, hingga biopsi kulit untuk memastikan diagnosis yang tepat.
Nah, itulah pembahasan mengenai autoimun kulit: penyebab, gejala dan pengobatan. Semoga informatif dan bermanfaat!



















