Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa Itu Fibrilasi Atrium? Ternyata Laki-Laki Lebih Berisiko
Freepik/rawpixel.com
  • Fibrilasi atrium adalah aritmia dengan detak jantung tidak teratur dan sering terlalu cepat; laki-laki cenderung lebih berisiko karena hormon, stres, usia, merokok, serta konsumsi alkohol.
  • Gejalanya meliputi lemas, jantung berdebar, sesak napas, nyeri atau tekanan dada. FA dapat memicu penggumpalan darah, gagal jantung, dan meningkatkan risiko stroke hingga 4–5 kali lipat.
  • Risiko FA dapat ditekan lewat olahraga, pola makan sehat, tidur cukup, serta menghindari rokok dan alkohol berlebihan. Teknologi PFA menargetkan jaringan bermasalah dengan medan listrik secara presisi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Fibrilasi atrium adalah aritmia umum dengan detak jantung tidak teratur dan sering terlalu cepat, yang dapat meningkatkan risiko penggumpalan darah, gagal jantung, dan stroke.
  • Who?
    Laki-laki dan lansia lebih sering ditangani sebagai pasien fibrilasi atrium. Dr. dr. Dicky Armein Hanafy dan dr. Sunu Budhi Raharjo membagikan pengalaman penanganannya.
  • Where?
    Informasi disampaikan dalam acara “Revolusi Tatalaksana Fibrilasi Atrium dengan Teknologi PFA” yang digelar Heartology Cardiovascular Hospital.
  • When?
    Acara berlangsung pada Rabu, 8 Januari 2025. Risiko pada laki-laki disebut lebih tinggi pada usia muda, sedangkan sekitar usia 70 tahun kemungkinan perempuan setara.
  • Why?
    Risiko laki-laki dikaitkan dengan testosteron, kortisol saat stres, kebiasaan merokok, dan konsumsi alkohol. Usia, pola tidur buruk, serta gaya hidup juga memengaruhi risiko fibrilasi atrium.
  • How?
    Pencegahan dilakukan melalui olahraga, pola makan sehat, tidur cukup, serta menghindari rokok dan alkohol berlebihan. Penanganan dapat menggunakan Pulsed Field Ablation, yang memakai medan listrik untuk menargetkan jaringan bermasalah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Fibrilasi atrium adalah saat jantung berdetak tidak rapi dan terlalu cepat. Laki-laki lebih sering kena, terutama karena hormon, stres, merokok, dan minum alkohol. Orang bisa lemas, berdebar, atau sesak. Ini bisa bikin stroke. Dokter memakai alat PFA untuk membantu jantung berdetak normal lagi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Aritmia atau gangguan irama pada detak jantung, menjadi salah satu masalah kesehatan yang sering kali tak terdeteksi sejak dini. Adapun fibrilasi atrium (FA) adalah jenis aritmia paling umum yang ditandai dengan detak jantung tidak teratur, dan sering kali terlalu cepat.

Menariknya, laki-laki memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan perempuan untuk mengalami gangguan ini, yang dapat berdampak fatal jika tidak ditangani dengan tepat.

Dalam acara "Revolusi Tatalaksana Fibrilasi Atrium dengan Teknologi PFA" yang digelar oleh Heartology Cardiovascular Hospital, pada Rabu (08/01/25) lalu.

Dr. dr. Dicky Armein Hanafy dan dr. Sunu Budhi Raharjo, membagikan pengalaman mereka dalam menangani pasien penderita fibrilasi atrium, yang cenderung lebih banyak berjenis kelamin laki-laki dan lansia.

Untuk itu, Mama dan Papa perlu mengetahui apa itu fibrilasi atrium? Berikut Popmama.com telah merangkumnya lebih lanjut.

1. Faktor penyebab risiko laki-laki cenderung lebih tinggi

Express.co.uk

Dr. dr. Dicky Armein Hanafy menjelaskan, laki-laki memiliki risiko aritmia lebih tinggi karena pengaruh hormon testosteron yang dapat memengaruhi fungsi listrik jantung. Gaya hidup seperti kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol yang lebih tinggi bisa memperburuk kondisi jantung.

"Selain testosteron, kortisol hormon pada laki-laki yang dilepaskan tubuh saat stress juga berpengaruh terhadap risiko FA. Stres kronis meningkatkan kadar kortisol, yang dapat menyebabkan lonjakan tekanan darah, detak jantung tidak teratur, dan peradangan pada jaringan jantung," terangnya.

Faktor usia juga bisa memengaruhi peningkatan terjadinya fibrilasi atrium (FA). Pada usia muda, laki-laki akan lebih cenderung berpotensi, namun pada usia lanjut sekitar 70 tahun, perempuan memiliki kemungkinan yang setara.

2. Gejala yang perlu diwaspadai

Freepik

Penderita fibrilasi atrium (FA) dapat merasakan gejala lemas, jantung berdebar, dan sesak napas. Kadang-kadang, gejala ini muncul bersamaan dengan nyeri dada atau tekanan, terutama saat aktivitas fisik pada laki-laki. 

Normalnya, jantung akan berdenyut sekitar 60-100 kali per menit saat sedang santai, namun pada kondisi FA, serambi jantung bisa berdenyut lebih dari 400 kali per menit. Kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko terjadinya penggumpalan darah dan gagal jantung.

Dengan demikian, jangan sesekali mengabaikan tanda-tanda ini, menganggapnya sebagai kelelahan biasa. Padahal, gejala tersebut bisa menjadi pertanda awal dari kondisi aritmia yang lebih serius.

3. Fibrilasi atrium meningkatkan risiko terjadinya stroke

Freepik/jcomp

Sebagai salah satu gangguan jantung paling banyak ditemukan di masyarakat, fibrilasi atrium (FA) memiliki risiko fatal jika tidak ditangani secara serius. Hal ini mengingat risiko penggumpalan darah dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke 4-5 kali lipat bagi pasien.

Laki-laki memiliki risiko lebih tinggi, namun stroke pada perempuan sering kali lebih fatal. Pasien stroke akibat komplikasi yang disebabkan oleh FA akan lebih berbahaya dibandingkan pasien stroke akibat faktor lainnya.

Jika risiko FA sampai menyebabkan stroke maka kasusnya akan berbeda dengan stroke yang terjadi karena faktor usia, ateroskoliosis pembuluh darah di kepala, ataupun perkapuran di kepala. 

Stroke yang disebabkan oleh FA akan mengakibatkan pembekuan pembuluh darah yang cukup besar, sehingga pembuluh darah otaknya akan tersumbat dan mengakibatkan lumpuh yang sangat fatal.

4. Pencegahan melalui gaya hidup sehat

Freepik/pressfoto

Membiasakan pola hidup sehat, seperti olahraga dan menjaga pola makan dapat membantu menurunkan risiko aritmia atau fibrilasi atrium (FA). Konsumsi makanan yang kaya akan kalium dan magnesium, seperti pisang dan kacang-kacangan juga penting untuk menjaga kesehatan jantung.

Dengan menghindari kebiasaan buruk, seperti merokok dan minum alkohol secara berlebihan, menjadi langkah awal untuk meminimalkan potensi gangguan detak jantung. Selain faktor hormonal dan genetik, gaya hidup atau kebiasaan adalah faktor utama dan paling berpengaruh terhadap risiko terjadinya FA.

Gaya hidup sehat juga mencakup tidur yang cukup dan berkualitas. Kurang tidur dapat memengaruhi keseimbangan hormon tubuh, termasuk kortisol, yang dapat meningkatkan risiko FA. Selain itu, tidur yang buruk dapat memicu gangguan tekanan darah dan mengganggu detak jantung.  

5. Pengobatan fibrilasi atrium dengan teknologi PFA

Pexels.com/Marta Branco

Pulsed Field Ablation (PFA) merupakan inovasi mutakhir dalam pengobatan fibrilasi atrium (FA). PFA memiliki keunggulan dibandingkan teknologi ablasi yang sebelumnya, dengan tingkat keamanan yang lebih tinggi serta tingkat keberhasilan mencapai hingga 84-85 persen.

Dr. Sunu Budhi Raharjo menjelaskan, pada kasus pasien laki-laki berusia 61 tahun, merasa jauh lebih baik setelah mendapatkan penanganan dengan teknologi PFA. Keterangan ini juga didukung dari hasil data yang menunjukan detak jantung yang kembali normal pada pasien. 

"Pulsed Field Ablation (PFA) adalah sebuah game changer dalam pengobatan fibrilasi atrium. Menggunakan mekanisme electroporation untuk menghancurkan jaringan target dengan presisi tinggi tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya," jelasnya.

Tidak seperti ablasi sebelumnya yang menggunakan panas (radiofrekuensi) atau dingin (cryotherapy), PFA bekerja dengan medan listrik untuk menargetkan jaringan yang bermasalah secara lebih presisi, serta mempercepat prosedur dan pemulihan pasien. 

Demikian informasi mengenai apa itu fibrilasi atrium. Semoga dengan adanya artikel ini, Mama dan Papa dapat mewaspadai serangan fibrilasi atrium dan segera melakukan pemeriksaan dini dengan dokter apabila merasakan gejalanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article