- Faktor keturunan.
Menurut WebMD, sejumlah ahli meyakini lip tie bisa diturunkan dalam keluarga, sehingga jika salah satu orangtua pernah mengalaminya, si Kecil berpeluang lebih besar mengalami hal serupa. - Kondisi bawaan lahir (kongenital).
Menurut Make Your Kids Smile, lip tie sudah ada sejak bayi lahir sebagai bagian dari perkembangan jaringan mulut, bukan sesuatu yang muncul belakangan. - Penyebab pasti belum diketahui.
Dikutip dari WebMD, penyebab utama lip tie masih belum dapat dipastikan secara ilmiah. - Faktor jenis kelamin.
Mengutip Make Your Kids Smile, kondisi ini cenderung sedikit lebih sering ditemukan pada bayi laki-laki dibandingkan dengan perempuan.
Apa Itu Lip Tie pada Bayi? Kenali Ciri dan Cara Mengatasinya

- Lip tie adalah kondisi bawaan ketika frenulum bibir atas terlalu kencang, membatasi gerak bibir dan pelekatan saat menyusu; kondisi ini bukan penyakit serta sering tidak perlu tindakan bila tanpa keluhan.
- Tandanya meliputi bunyi klik, bayi lelah atau rewel saat menyusu, berat badan sulit naik, serta nyeri, puting lecet, payudara bengkak, atau saluran ASI tersumbat pada ibu.
- Diagnosis dilakukan tenaga medis melalui pemeriksaan bibir dan observasi menyusu; penanganan dapat berupa perbaikan posisi, pendampingan laktasi, pemantauan, atau frenektomi bila gejala mengganggu.
Momen menyusui semestinya menjadi waktu paling hangat antara Mama dan si Kecil. Tapi bagaimana jika setiap sesi menyusui justru berubah menjadi drama air mata, puting lecet, dan berat badan bayi yang susah naik?
Salah satu masalah yang sering luput dari perhatian adalah lip tie, kondisi bawaan lahir yang membuat gerakan bibir atas bayi Mama menjadi terbatas. Sekilas terlihat sepele, tapi dampaknya bisa membuat proses menyusui menjadi perjuangan tersendiri, baik bagi Mama maupun si Kecil.
Buat bayi mama yang mengalami kondisi tersebut dan penasaran dengan kondisi si Kecil, berikut Popmama.com mengulas apa itu lip tie pada bayi? Yuk, simak sampai habis!
Table of Content
Pengertian Lip Tie pada Bayi

Popmama.com/Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya/AI Melansir WebMD, lip tie adalah kondisi ketika kulit bibir atas bayi menempel erat pada gusi sehingga membatasi pergerakan bibir dan dapat menyulitkan proses menyusui. Jaringan penghubung ini disebut frenulum.
Jika jaringan tersebut terlalu tebal atau kaku, gerakan bibir atas bayi menjadi tidak leluasa untuk membentuk pelekatan yang baik pada payudara maupun dot.
Menurut Make Your Kids Smile, frenulum labial atas (maxillary labial frenulum) adalah jaringan yang menghubungkan bagian tengah bibir atas dengan gusi tepat di atas dua gigi depan. Kehadiran frenulum ini sebenarnya normal dan dimiliki oleh hampir semua bayi.
Nah, kondisi baru disebut lip tie kalau jaringan tersebut terlalu kencang hingga membatasi gerak bibir. Menariknya, kondisi ini cukup umum terjadi, diperkirakan memengaruhi hingga 10% bayi dan sedikit lebih sering ditemukan pada bayi laki-laki.
Perlu Mama ketahui juga, lip tie bukanlah penyakit atau tanda adanya masalah serius, melainkan sekadar perbedaan anatomi. Jika si Kecil tidak mengalami kesulitan menyusu dan proses menyusui tidak terasa nyeri bagi Mama, kondisi ini biasanya tidak memerlukan penanganan khusus.
Penyebab Lip Tie pada Bayi

Popmama.com/Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya/AI Sampai saat ini, penyebab pasti lip tie masih menjadi perdebatan di kalangan ahli. Namun, ada beberapa faktor yang diduga berperan dalam munculnya kondisi ini pada bayi.
Gejala Lip Tie yang Perlu Mama Waspadai

Popmama.com/Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya/AI Gejala lip tie umumnya paling terlihat jelas saat bayi Mama sedang menyusu, baik dari sisi si Kecil maupun dari sisi Mama sendiri.
- Kesulitan melekat sempurna.
Menurut Healthline, bayi dengan lip tie sering mengeluarkan bunyi decak atau klik saat menyusu, tanda pelekatan yang tidak sempurna pada payudara. - Tampak kelelahan atau rewel saat menyusu.
Si Kecil bisa tertidur di tengah sesi menyusui, terlihat sangat lelah, atau justru rewel karena frustrasi tidak mendapat cukup ASI, seperti dikutip dari Healthline. - Berat badan sulit naik.
Karena transfer ASI tidak efektif, menurut Medical News Today, bayi dengan lip tie berisiko mengalami kenaikan berat badan yang lambat. - Keluhan pada Mama saat menyusui.
Dikutip dari WebMD, Mama bisa mengalami nyeri, puting lecet, perubahan bentuk puting, payudara bengkak, hingga saluran ASI tersumbat akibat pelekatan yang kurang optimal.
- Kesulitan melekat sempurna.
Tingkatan Lip Tie pada Bayi

Popmama.com/Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya/AI Untuk memudahkan diagnosis, tenaga medis biasanya membagi lip tie ke dalam 4 tingkat keparahan berdasarkan letak jaringan frenulum, seperti dikutip dari WebMD.
- Level 1 (Mukosal): Frenulum berukuran kecil dan hanya menempel pada jaringan gusi.
- Level 2 (Gingival): Frenulum menempel pada bagian dasar garis gusi.
- Level 3 (Papilar): Frenulum menempel pada garis gusi dan dapat meluas hingga ke jaringan di antara gigi.
- Level 4 (Menembus papila): Frenulum menempel jauh hingga ke jaringan langit-langit mulut.
Cara Diagnosis Lip Tie

Popmama.com/Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya/AI Jika Mama menduga si Kecil mengalami lip tie, langkah terbaik adalah memeriksakannya kepada tenaga profesional agar mendapat penanganan yang tepat.
- Konsultasi dengan ahli yang tepat.
Mengutip WebMD, Mama disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter anak, konsultan laktasi, atau dokter gigi yang berpengalaman menangani lip tie maupun tongue tie. - Pengamatan langsung saat menyusui.
Tenaga medis biasanya meminta untuk melihat si Kecil menyusu untuk mengamati tanda seperti pelekatan yang dangkal atau bunyi klik, seperti dikutip dari WebMD. - Pemeriksaan fisik pada bibir atas.
Menurut Make Your Kids Smile, dokter akan mengangkat bibir atas bayi secara perlahan untuk melihat dan menilai ketebalan serta titik tempel frenulum. - Diskusi menyeluruh soal gejala.
Menurut Make Your Kids Smile, dokter juga akan menggali informasi dari Mama seputar kesulitan yang dialami selama menyusui untuk melengkapi hasil pemeriksaan.
- Konsultasi dengan ahli yang tepat.
Cara Ibu Menyusui Bayi yang Memiliki Lip Tie

Pexels/Anna Shvets Kabar baiknya, Mama tetap bisa menyusui si Kecil dengan lip tie sambil menunggu keputusan penanganan lebih lanjut. Mengutip Medical News Today, berikut beberapa caranya.
- Menyusui lebih sering.
Frekuensi menyusui yang lebih rapat membantu memastikan asupan ASI si Kecil tetap cukup dan mencegah payudara Mama terlalu kencang atau bengkak. - Posisikan dagu bayi menunduk.
Posisi ini membantu si Kecil mendapatkan pelekatan yang lebih dalam meski gerakan bibir atasnya terbatas. - Buat lekukan di sekitar puting.
Menekan area sekitar puting sebelum bayi melekat dapat membantu menciptakan celah yang memudahkan si Kecil menempatkan dagunya dengan tepat. - Perah ASI sebagai cadangan.
Memerah ASI dengan tangan atau pompa membantu menjaga suplai ASI Mama sekaligus memberi opsi pemberian ASI lewat botol jika diperlukan.
- Menyusui lebih sering.
Perawatan Lip Tie pada Bayi

Pexels/Jonathan Borba Penanganan lip tie sangat bergantung pada seberapa besar dampaknya terhadap proses menyusui dan kenyamanan Mama maupun si Kecil.
- Pemantauan tanpa tindakan.
Menurut Medical News Today, jika lip tie tergolong ringan dan tidak menimbulkan gejala berarti, dokter biasanya menyarankan untuk memantaunya terlebih dahulu tanpa tindakan medis. - Pendampingan konsultan laktasi.
Mengutip Make Your Kids Smile, bekerja sama dengan konsultan laktasi untuk memperbaiki teknik dan posisi menyusui sebelum mempertimbangkan tindakan lain. - Prosedur frenektomi.
Jika gejala cukup mengganggu, dokter gigi dapat melakukan frenektomi, yaitu prosedur singkat untuk memotong jaringan frenulum menggunakan laser untuk melonggarkan bibir atas. - Peregangan rutin pascaprosedur.
Setelah frenektomi, Mama perlu melakukan peregangan lembut pada area bibir beberapa kali sehari agar jaringan tidak menyatu kembali.
Nah, itulah pembahasan mengenai apa itu lip tie pada bayi? Kondisi yang terdapat pada mulut si Kecil yang Mama harus segera sadari dan tangani jika kondisinya memberikan dampak buruk pada si Kecil. Semoga informatif dan bermanfaat!
- Pemantauan tanpa tindakan.





















