5 Jenis Bakteri Penyebab Keracunan Makanan, Sering Ditemukan!

Keracunan makanan terjadi akibat makanan atau minuman terkontaminasi bakteri selama pengolahan, penyimpanan, atau pemasakan tidak tepat, dengan gejala mual, muntah, diare, dan sakit perut.
Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, E. coli, Salmonella, dan Clostridium perfringens dapat mencemari nasi, makanan tersentuh tangan, bahan kurang matang, telur, daging, serta makanan tersimpan salah.
Pencegahan mencakup mencuci tangan dan bahan makanan, menghindari kontaminasi silang, memasak hingga matang, serta menyimpan dan mendinginkan makanan pada suhu tepat.
Keracunan makanan bisa terjadi ketika makanan atau minuman yang dikonsumsi telah terkontaminasi bakteri berbahaya. Kontaminasi ini dapat terjadi selama proses pengolahan, penyimpanan, maupun ketika makanan tidak dimasak dengan benar.
Beberapa jenis bakteri bahkan dapat berkembang biak dengan cepat pada makanan yang dibiarkan terlalu lama dalam kondisi tertentu. Akibatnya, seseorang bisa mengalami berbagai keluhan, mulai dari mual, muntah, diare, hingga sakit perut.
Menjaga kebersihan diri dan dapur, memasak makanan hingga matang sempurna, serta menyimpan makanan pada suhu yang tepat menjadi beberapa langkah penting untuk mencegah keracunan.
Berikut Popmama.com jenis bakteri penyebab keracunan makanan.
Table of Content
1. Bacillus cereus, sering ditemukan pada nasi yang dibiarkan terlalu lama

Unsplash/Amanda Lim Bacillus cereus merupakan bakteri yang dapat ditemukan pada makanan dan berpotensi menyebabkan keracunan ketika makanan dibiarkan terlalu lama pada suhu ruangan.
Bakteri ini cukup sering dikaitkan dengan makanan berbahan dasar nasi, terutama nasi goreng yang telah dibiarkan dalam waktu lama pada suhu ruangan. Bakteri ini memiliki spora yang sangat stabil terhadap suhu panas.
Oleh karena itu, memanaskan kembali makanan yang sebelumnya telah terkontaminasi tidak selalu mampu menghilangkan racun di dalam makanan. Keracunan akibat Bacillus cereus dapat menimbulkan beberapa gejala, seperti mual, muntah, diare, serta kram atau keram pada perut.
Pada kondisi keracunan akibat cereulide, yaitu toksin yang dihasilkan Bacillus cereus, kadar toksin yang sangat tinggi dapat menyebabkan kondisi yang lebih berat.
Meski jarang terjadi, keracunan berat dapat dikaitkan dengan beberapa kondisi, seperti gagal ginjal akut, gagal liver, serta ensefalopati atau gangguan yang memengaruhi fungsi otak.
Karena itu, makanan yang telah dimasak sebaiknya tidak dibiarkan begitu saja pada suhu ruangan dalam waktu lama. Penyimpanan makanan yang tepat penting dilakukan untuk mengurangi risiko pertumbuhan bakteri.
2. Staphylococcus aureus, dapat berpindah dari tangan ke makanan

Pexels/Kenneth Surillo Staphylococcus aureus sebenarnya merupakan bakteri yang banyak ditemukan secara alami pada manusia dan hewan. Bakteri ini dapat berada di permukaan kulit, lubang hidung, maupun bagian tenggorokan, sehingga keberadaannya tidak selalu menimbulkan masalah.
Namun, kondisi dapat berbeda ketika bakteri tersebut berpindah dan berkembang biak pada makanan. Jika makanan telah terkontaminasi dan bakteri berkembang dalam jumlah tertentu, kondisi tersebut dapat menyebabkan keracunan makanan.
Gejala yang dapat muncul akibat kontaminasi Staphylococcus aureus antara lain diare, nyeri dan kram perut, mual, hingga muntah. Bakteri ini biasanya berisiko mengontaminasi makanan yang banyak diolah atau disentuh langsung menggunakan tangan.
Beberapa contohnya adalah salad, roti isi, serta berbagai jenis kue dan produk roti. Untuk mencegah kontaminasi, pastikan selalu mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir sebelum menyiapkan makanan.
Kebersihan tangan menjadi salah satu hal penting karena bakteri dapat berpindah dari tubuh ke makanan selama proses pengolahan.
Selain itu, hindari mengolah makanan atau berada di dapur ketika sedang mengalami infeksi pada mata atau hidung. Langkah tersebut dapat membantu mengurangi kemungkinan bakteri berpindah dan mencemari makanan.
3. Escherichia coli, dapat ditemukan pada makanan yang tidak matang

Unsplash/Usman Yousaf Escherichia coli atau E. coli merupakan kelompok bakteri yang terdiri dari berbagai jenis. Beberapa tipe E. coli dapat mencemari makanan dan menyebabkan penyakit, termasuk kejadian keracunan makanan.
Salah satu sumber kontaminasi yang perlu diperhatikan adalah makanan yang belum matang dengan sempurna. Proses memasak yang tidak tepat dapat membuat bakteri yang masih terdapat pada bahan makanan tidak mati sepenuhnya.
Pada kondisi infeksi yang berat, E. coli dapat menyebabkan komplikasi yang memengaruhi sistem saraf. Gangguan tersebut dapat terjadi secara langsung maupun sebagai akibat dari komplikasi yang berkaitan dengan ginjal.
Beberapa keluhan yang dapat muncul pada kondisi berat antara lain kejang, penurunan kesadaran, hingga gangguan gerak. Untuk mencegah kontaminasi E. coli, kebersihan diri dan dapur perlu diperhatikan selama proses mengolah makanan. Pastikan tangan, peralatan masak, permukaan dapur, serta bahan makanan tetap bersih.
Mama juga perlu menghindari kontaminasi silang ketika menyiapkan makanan. Misalnya, jangan menggunakan pisau dan talenan yang sama secara bergantian untuk mengolah daging mentah dan sayuran tanpa mencucinya terlebih dahulu.
Selain itu, pastikan makanan yang dikonsumsi telah dimasak hingga matang dengan sempurna. Cara ini penting untuk membantu mengurangi risiko bakteri yang terdapat pada bahan makanan masih bertahan setelah proses memasak.
4. Salmonella, sering dikaitkan dengan telur dan daging yang belum matang

Flickr.com/Sanofi Pasteur Salmonella merupakan kelompok bakteri yang sering menjadi penyebab diare akibat keracunan makanan. Kontaminasi Salmonella dapat terjadi akibat kebersihan yang kurang terjaga maupun proses pengolahan makanan yang tidak dilakukan dengan benar.
Beberapa jenis makanan memiliki risiko lebih tinggi terkontaminasi Salmonella, terutama telur, daging, serta daging ayam yang belum matang. Susu yang belum melalui proses pasteurisasi juga dapat berisiko mengandung bakteri ini.
Buah dan sayuran pada dasarnya tidak secara alami mengandung Salmonella. Namun, bahan makanan tersebut tetap dapat terkontaminasi apabila tidak dicuci dengan bersih sebelum dikonsumsi atau diolah.
Efek keracunan akibat Salmonella dapat menjadi lebih serius pada kelompok tertentu. Ibu hamil, orang lanjut usia, anak-anak, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah termasuk kelompok rentan.
Salah satu cara untuk mencegah kontaminasi Salmonella adalah memastikan makanan dimasak hingga matang sempurna. Mama juga perlu mencuci buah dan sayuran sebelum mengolahnya.
5. Clostridium perfringens, dapat berkembang dengan cepat pada makanan

Magnific/jcomp Clostridium perfringens merupakan salah satu jenis bakteri yang dapat berkembang biak dengan sangat cepat. Bayi, anak-anak, dan orang lanjut usia termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat bakteri ini.
Pada umumnya, bakteri tersebut baru dapat menimbulkan gangguan kesehatan ketika jumlahnya di dalam tubuh sudah sangat banyak.
Dengan kata lain, apabila hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa diare atau sakit perut melilit disebabkan oleh Clostridium perfringens, makanan yang sebelumnya dikonsumsi kemungkinan telah mengandung bakteri tersebut dalam jumlah yang cukup tinggi.
Gejala keracunan akibat makanan yang terkontaminasi Clostridium perfringens umumnya dapat muncul sekitar 12 jam setelah makanan dikonsumsi. Salah satu jenis bakteri dari kelompok Clostridium juga dapat menyebabkan botulisme, yaitu salah satu bentuk keracunan makanan yang dapat berakibat fatal.
Untuk mencegah pertumbuhan bakteri ini, makanan perlu dimasak dengan suhu yang sesuai. Hindari memasak atau mengolah makanan pada suhu antara 4–60 derajat Celsius karena rentang suhu tersebut dapat mendukung pertumbuhan bakteri.
Memperhatikan suhu saat memasak, menyimpan, dan mendinginkan makanan menjadi salah satu langkah penting untuk membantu menjaga makanan tetap aman dikonsumsi.
Itu dia informasi mengenai jenis bakteri penyebab keracunan makanan. Semoga bisa lebih hati-hati ya, Ma.






















-Xky0pxU15JsaqWeBn1zMtGdrOz6LtHdl.png)