Melihat popularitasnya yang melejit dan banyaknya orang yang ikut mencoba, pertanyaan terbesarnya tentu saja: apakah tren ini benar-benar berhasil? Jika dilihat dari kacamata medis dan sains, jawabannya bisa iya dan tidak, tergantung pada metode mana yang kamu terapkan.
Mengutip tulisan dr. Eric Zhou dari Harvard Health, istilah sleep maxxing sendiri sebenarnya belum pernah dipelajari secara resmi sebagai sebuah konsep ilmiah yang utuh. Banyak metode yang diagungkan oleh tren ini justru masih kekurangan bukti sains.
Sebagai contoh, praktik memplester mulut yang konon bisa mengurangi dengkuran. Menurut tinjauan dari departemen otolaringologi di George Washington University, sebagian besar klaim plester mulut di TikTok nyatanya tidak didukung oleh riset yang kuat.
Bahkan, dr. Ari Laliotis dari Sharp Rees-Stealy Medical Group, seperti yang dilansir Sharp HealthCare, mengingatkan bahwa pemakaian plester mulut atau alat pelebar lubang hidung bisa berbahaya bagi sebagian orang.
Praktik ini berisiko menunda penanganan medis yang tepat, terutama jika orang tersebut memiliki gangguan tidur bawaan yang kompleks.
Lalu, bagaimana dengan anjuran mengonsumsi suplemen seperti melatonin atau magnesium? Merujuk pada penjelasan Sharp HealthCare, magnesium memang terbukti penting untuk mengatur fungsi otot dan saraf, sehingga tubuh terasa lebih relaks.
Hal ini secara tidak langsung ikut membantu memproduksi melatonin alami dalam tubuh. Namun, dr. Laliotis menegaskan bahwa konsumsi suplemen sebaiknya hanya digunakan dalam jangka pendek dan atas anjuran dokter agar tidak berinteraksi negatif dengan obat-obatan lain yang mungkin sedang dikonsumsi.
Di sisi lain, obsesi yang berlebihan untuk selalu mendapatkan skor tidur sempurna melalui jam tangan pintar atau cincin pelacak malah bisa memicu kondisi psikologis yang disebut orthosomnia.
Alih-alih terlelap dengan rileks, kamu justru bisa merasa cemas, stres, dan terus-terusan memikirkan data tidurmu. Kesimpulannya, jangan sekadar termakan hype.
Kunci utamanya bukanlah mengikuti semua anjuran viral tersebut, melainkan mengambil kebiasaan yang benar-benar terbukti aman dan sesuai dengan kebutuhan tubuhmu.