Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Apakah Anxiety Berbahaya bagi Kesehatan? Ini Penjelasan Medisnya
Pexels/KaboomPics
  • Anxiety adalah reaksi wajar terhadap stres, namun bila berlebihan dan sulit dikendalikan dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan yang memengaruhi kesehatan fisik serta mental.
  • Terdapat berbagai jenis anxiety disorder seperti GAD, panic disorder, fobia spesifik, hingga social anxiety, yang dipicu oleh faktor kimia otak, genetik, lingkungan, dan stres berkepanjangan.
  • Penanganan anxiety meliputi mengenali pemicu, latihan relaksasi, menjaga gaya hidup sehat, membatasi overthinking, berbagi dengan orang terpercaya, serta mencari bantuan profesional bila gejala mengganggu aktivitas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Perasaan cemas atau anxiety merupakan hal yang wajar dialami setiap orang. Dalam kadar tertentu, kecemasan justru bisa membantu kita lebih waspada dan siap menghadapi situasi menantang. 

Namun, ketika rasa cemas muncul terus-menerus, berlebihan, dan sulit dikendalikan, kondisi ini bisa mulai memengaruhi kesehatan secara keseluruhan, baik fisik maupun mental.

Banyak orang belum menyadari bahwa anxiety yang berkepanjangan bukan sekadar ‘pikiran berlebihan’, melainkan kondisi yang memiliki dasar medis dan bisa berdampak nyata pada tubuh. 

Lalu, sebenarnya seberapa berbahayakah anxiety bagi kesehatan? Apakah kondisi ini bisa berkembang menjadi masalah yang lebih serius? 

Simak penjelasan medisnya telah Popmama.com siapkan melansir dari Cleveland Clinic

Apa Itu Anxiety?

Freepik/freepik

Anxiety atau gangguan kecemasan adalah salah satu kondisi kesehatan mental yang membuat seseorang merespons situasi tertentu dengan rasa takut, khawatir, atau gelisah yang berlebihan. 

Tak hanya memengaruhi pikiran, anxiety juga bisa menimbulkan gejala fisik seperti jantung berdebar kencang, tubuh berkeringat, hingga napas terasa lebih cepat. Inilah yang membuat anxiety terasa nyata dan bisa mengganggu kenyamanan sehari-hari.

Meski begitu, penting dipahami bahwa rasa cemas sebenarnya adalah hal yang normal. Dalam situasi tertentu seperti menghadapi ujian, wawancara kerja, atau mengambil keputusan besar, kecemasan justru bisa membantu kita lebih fokus dan waspada.

Bahkan, rasa cemas dalam kadar wajar berperan penting untuk menjaga kita tetap aman dari potensi bahaya. Perlu diketahui bahwa anxiety disorder berbeda dengan rasa cemas biasa. 

Kondisi ini terjadi ketika kecemasan muncul secara berlebihan, sulit dikendalikan, dan mulai mengganggu kemampuan seseorang untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Reaksi yang muncul pun sering kali tidak sebanding dengan situasi yang dihadapi, sehingga membuat penderitanya merasa kewalahan.

Gangguan kecemasan bisa dialami oleh siapa saja, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Bahkan, perempuan diketahui memiliki risiko sekitar dua kali lebih besar mengalami anxiety dibandingkan laki-laki. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini bisa membuat aktivitas harian terasa sangat berat.

Macam-macam Anxiety Disorder

Freepik/jcomp

Menurut American Psychiatric Association’s Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), terdapat beberapa jenis gangguan kecemasan (anxiety disorders) yang perlu dikenali. Berikut di antaranya:

  • Generalized Anxiety Disorder (GAD): Gangguan ini ditandai dengan rasa cemas dan khawatir yang berlebihan serta berlangsung terus-menerus. Penderitanya sering merasa ‘overwhelmed’ atau kewalahan, bahkan untuk hal-hal sehari-hari seperti pekerjaan, kesehatan, atau urusan rumah tangga. Kecemasan yang dirasakan biasanya tidak realistis dan sulit dikontrol, sehingga bisa mengganggu fokus serta kualitas hidup secara keseluruhan.

  • Agoraphobia: Ketakutan intens terhadap situasi yang membuat seseorang merasa sulit untuk melarikan diri atau mendapatkan bantuan. Kondisi ini membuat penderitanya cenderung menghindari tempat atau situasi tertentu. Contohnya seperti berada di keramaian, tempat terbuka luas, ruang tertutup, atau bahkan keluar rumah. Akibatnya, aktivitas sehari-hari bisa sangat terbatas.

  • Panic Disorder: Gangguan ini ditandai dengan serangan panik yang terjadi secara tiba-tiba tanpa peringatan. Serangan ini bisa muncul tanpa pemicu yang jelas dan tidak selalu berkaitan dengan kondisi medis atau mental lainnya. Beberapa orang dengan panic disorder juga mengalami agoraphobia, karena takut serangan panik terjadi di tempat umum.

  • Fobia Spesifik: Rasa takut yang sangat kuat terhadap objek atau situasi tertentu, seperti ketinggian, hewan, atau ruang sempit. Ketakutan ini begitu intens hingga dapat mengganggu kehidupan sehari-hari. Menariknya, ada ratusan jenis fobia yang termasuk dalam kategori ini, dan hampir semuanya didiagnosis sebagai specific phobia, kecuali agoraphobia yang memiliki kategori tersendiri.

  • Social Anxiety Disorder:  Dikenal juga sebagai fobia sosial, kondisi ini membuat seseorang merasa sangat takut akan penilaian negatif dari orang lain. Rasa cemas ini biasanya muncul dalam situasi sosial atau saat harus tampil di depan umum. Penderitanya sering merasa diawasi atau dihakimi, sehingga cenderung menghindari interaksi sosial dan merasa tidak nyaman berada di lingkungan sosial.

  • Separation Anxiety Disorder: Gangguan ini terjadi ketika seseorang merasa cemas berlebihan saat harus berpisah dengan orang terdekat, seperti orangtua atau pasangan. Meski umum terjadi pada bayi dan balita sebagai bagian dari perkembangan, kondisi ini juga bisa dialami oleh anak yang lebih besar hingga orang dewasa jika rasa cemasnya berlebihan.

  • Selective Mutism: Kondisi ketika seseorang tidak mampu berbicara dalam situasi tertentu karena rasa takut atau cemas, meskipun sebenarnya mampu berbicara dalam situasi lain. Gangguan ini paling sering terjadi pada anak-anak, tetapi dalam beberapa kasus juga bisa berlanjut hingga remaja atau dewasa.

Penyebab Anxiety Disorder

Pexels/Nathan Cowley

Berbagai faktor memerankan peran penting yang membuat seseorang mengalami anxiety, berikut di antaranya:

  • Ketidakseimbangan zat kimia di otak

Salah satu penyebab utama anxiety disorder diduga berasal dari ketidakseimbangan neurotransmitter dan hormon di otak, seperti norepinephrine, serotonin, dopamin, dan GABA. 

Zat-zat ini berperan penting dalam mengatur suasana hati dan respons terhadap stres. Ketika keseimbangannya terganggu, tubuh bisa menjadi lebih sensitif terhadap rasa cemas, sehingga memicu munculnya anxiety secara berlebihan.

  • Perubahan pada fungsi otak

Bagian otak yang disebut amigdala memiliki peran besar dalam mengatur rasa takut dan kecemasan. Pada orang dengan anxiety disorder, aktivitas amigdala cenderung lebih tinggi saat merespons hal-hal yang memicu kecemasan.

Hal ini membuat seseorang lebih mudah merasa takut atau terancam, bahkan dalam situasi yang sebenarnya tidak berbahaya.

  • Faktor genetik (keturunan)

Anxiety disorder juga dapat diturunkan dalam keluarga. Jika seseorang memiliki orangtua atau saudara kandung dengan gangguan kecemasan, maka risikonya untuk mengalami kondisi serupa bisa lebih tinggi.

Ini menunjukkan bahwa faktor genetik memiliki peran dalam meningkatkan kerentanan terhadap anxiety, meski bukan satu-satunya penyebab.

  • Faktor lingkungan dan stres

Stres berat atau berkepanjangan dapat memengaruhi keseimbangan kimia otak yang mengatur emosi. Misalnya, tekanan pekerjaan, masalah keluarga, atau beban hidup lainnya yang berlangsung lama bisa memicu munculnya gangguan kecemasan.

Selain itu, pengalaman traumatis, seperti kecelakaan, kehilangan orang terdekat, atau kejadian mengejutkan, juga bisa menjadi pemicu munculnya anxiety disorder.

Apakah Anxiety Berbahaya?

Freepik/DC studio

Faktanya, anxiety bisa berbahaya bagi kesehatan jika terjadi secara berlebihan, berlangsung lama, dan tidak ditangani dengan tepat. Dalam kadar normal, rasa cemas sebenarnya tidak berbahaya. 

Justru, anxiety membantu kita tetap waspada dan siap menghadapi situasi penting. Namun, ketika kecemasan berubah menjadi anxiety disorder, dampaknya bisa meluas ke berbagai aspek kesehatan, baik fisik maupun mental.

Secara fisik, anxiety yang berkepanjangan dapat memengaruhi tubuh. Misalnya, memicu gangguan tidur (insomnia), sakit kepala, ketegangan otot, hingga masalah pencernaan seperti maag. 

Dalam jangka panjang, stres kronis akibat anxiety juga bisa meningkatkan risiko penyakit serius seperti gangguan jantung karena tubuh terus berada dalam kondisi siaga.

Dari sisi mental, anxiety dapat mengganggu konsentrasi, membuat seseorang mudah lelah, dan menurunkan kualitas hidup. Bahkan, jika tidak ditangani, kondisi ini bisa berkembang menjadi gangguan lain seperti depresi atau serangan panik.

Selain itu, anxiety juga dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari. Mulai dari pekerjaan, hubungan sosial, hingga kemampuan mengambil keputusan bisa terganggu karena rasa cemas yang terus muncul.

Meski begitu, penting untuk diingat bahwa anxiety adalah kondisi yang bisa diatasi. Dengan penanganan yang tepat, seperti terapi psikologis, perubahan gaya hidup, atau bantuan medis, gejala kecemasan dapat dikontrol sehingga tidak membahayakan kesehatan secara keseluruhan.

Cara Mengatasi Anxiety

Pexels/Andrew Neel

  • Kenali dan pahami pemicunya

Langkah pertama adalah menyadari kapan dan dalam situasi apa rasa cemas muncul. Apakah karena pekerjaan, hubungan, atau tekanan tertentu? Dengan mengenali pemicunya, kamu bisa lebih mudah mengantisipasi dan mengelola respons yang muncul.

Cobalah menuliskan perasaanmu dalam jurnal. Cara ini membantu kamu melihat pola kecemasan sekaligus memahami apa yang sebenarnya sedang kamu rasakan.

  • Atur napas dan latih relaksasi

Saat anxiety datang, tubuh biasanya ikut tegang. Teknik pernapasan dalam bisa membantu menenangkan sistem saraf dan membuat tubuh lebih rileks.

Kamu bisa mencoba menarik napas perlahan selama 4 detik, menahannya 4 detik, lalu menghembuskan selama 4–6 detik. Lakukan beberapa kali sampai tubuh terasa lebih tenang.

  • Jaga pola hidup sehat

Kesehatan fisik sangat berpengaruh pada kondisi mental. Kurang tidur, jarang bergerak, atau konsumsi kafein berlebihan bisa memperburuk kecemasan. Usahakan tidur cukup, rutin berolahraga ringan, dan konsumsi makanan bergizi agar tubuh dan pikiran tetap seimbang.

  • Batasi overthinking dan paparan informasi berlebih

Terlalu banyak berpikir atau mengonsumsi informasi (terutama yang negatif) bisa memperparah anxiety. Penting untuk memberi jeda pada pikiran. Kamu bisa mulai dengan membatasi waktu bermain media sosial atau membaca berita, lalu menggantinya dengan aktivitas yang lebih menenangkan seperti membaca buku atau mendengarkan musik.

  • Bicara dengan orang terpercaya

Jangan memendam semuanya sendiri. Berbagi cerita dengan teman, pasangan, atau keluarga bisa membantu meringankan beban pikiran. Terkadang, didengarkan saja sudah cukup membuat perasaan lebih lega dan membantu melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda.

  • Pertimbangkan bantuan profesional

Jika anxiety sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, tidak ada salahnya mencari bantuan dari psikolog atau psikiater. Mereka bisa membantu dengan terapi seperti cognitive behavioral therapy (CBT) atau, jika diperlukan, penanganan medis.

Ingat, mencari bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan langkah penting untuk menjaga kesehatan mental. Semoga informasinya membantu ya, Ma.

Editorial Team