”Hal yang tidak enaknya adalah ternyata dalam lima tahun sejak didiagnosis, 50 persen (pasien) sudah mengalami gangguan di organ-organ umumnya dan yang hingga saat ini, angka kematiannya masih cukup tinggi, di Indonesia sekitar 8.1 persen,” ungkap Dokter Sandra, Selasa (26/5/26).
Penyakit Lupus Lebih Banyak Menyerang Perempuan, Ini Faktor dan Penyebabnya

- Lupus atau SLE lebih banyak menyerang perempuan usia 15–44 tahun, dengan Indonesia menempati posisi keempat dunia dalam jumlah penderita perempuan terbanyak.
- Faktor risiko lupus pada perempuan dipengaruhi hormon estrogen, kromosom X, serta pemicu lingkungan seperti polusi, infeksi, paparan sinar matahari berlebih, dan defisiensi vitamin D.
- Gejala lupus sering tampak ringan seperti nyeri sendi atau sariawan berulang, namun dapat menyebabkan kerusakan organ fatal; pengobatan inovatif kini hadir untuk menekan inflamasi dan efek samping obat.
Lupus atau SLE (Systemic Lupus Erythematosus) merupakan salah satu penyakit yang paling rentan menyerang perempuan. Menurut data, 90 persen penyandang lupus merupakan perempuan dengan usia 15 - 44 tahun.
Lupus juga dikenal sebagai penyakit “Seribu Wajah” karena gejalanya sangat beragam dan menyerupai penyakit lain. Hal ini membuat gejala lupus bisa berbeda di setiap orang yang akhirnya terlambat dideteksi.
Dalam diskusi bertemakan From Burden to Living Well spesial Hari Lupus Sedunia yang diperingati setiap 10 Mei bersama AstraZeneca di Jakarta, Selasa (26/5/26), dr. Sandra Sinthya Langow, Sp.PD-KR FACR selaku Konsultan Reumatologi Siloam Hospital Lippo Village Tangerang menjelaskan berbagai faktor dan penyebab perempuan lebih berisiko terkena lupus.
Simak penjelasan selengkapnya dari Popmama.com seputar lupus lebih banyak menyerang perempuan lengkap dengan faktor dan penyebabnya.
Table of Content
Penderita Lupus Perempuan di Indonesia Terbanyak ke-4 di Dunia

Data dari Perhimpunan Reumatologi Indonesia, terdapat 1.4 juta pasien dengan lupus di Indonesia. Dengan ini, Indonesia berada di posisi empat yang memiliki populasi perempuan dengan lupus terbesar di dunia.
Hal ini tentu mengkhawatirkan, sebab dalam penelitian tersebut, infeksi menjadi salah satu penyebab tingginya kematian akibat lupus.
Persentase tingginya penyandang lupus pada perempuan ini tidak menutup kemungkinan terjadinya risiko yang sama pada laki-laki. Namun, ada berbagai faktor dan penyebab mengapa perempuan lebih rentan terkena lupus.
Faktor dan Penyebab Terjadinya Penyakit Lupus

Lupus merupakan penyakit autoimun kronis yang bisa menyerang berbagai organ tubuh dengan gejala yang bisa berbeda di setiap orang. Hal ini mengapa lupus disebut sebagai penyakit seribu wajah, karena gejala hingga kondisi berat atau ringannya penyakit ini bisa berbeda pada setiap orang.
“Ternyata genetik (saja) tidak cukup, ada faktor lingkungan sebagai faktor pencetusnya dan ini multifaktorial, mulai dari paparan bahan kimia, polusi, sinar matahari yang berlebihan, infeksi bakteri dan virus, defisiensi vitamin D, pola diet, dan masih banyak lagi,” kata Dokter Sandra.
Ditegaskan juga bahwa penyebab lupus pada 90 persen perempuan dipengaruhi oleh unsur hormon. Diketahui hormon estrogen pada perempuan yang kadarnya tinggi ditambah faktor kromosom X dapat memicu reaksi autoimun berlebihan.
Cara Mendeteksi Tanda dan Gejala Lupus

Lupus dapat menyerang semua organ tubuh, mulai dari rambut hingga ujung kaki dan biasanya gejalanya ringan. Perhimpunan Reumatologi Indonesia menyarankan kecurigaan terhadap penyakit lupus perlu dipikirkan pada perempuan usia muda jika memiliki keluhan terhadap dua organ atau lebih.
“Jadi gejalanya sebenarnya sepele sekali, yang biasa terjadi ringan, sehingga terlambat didiagnosis biasanya karena dianggap sepele,” tambah dokter lulusan Universitas Indonesia tersebut.
Berikut ini gejala pada perempuan usia muda yang dapat menimbulkan kecurigaan penyakit lupus:
- Nyeri sendi kronis
- Sariawan berulang
- Rambut rontok
- Demam berulang
- Dengan salah satu kombinasi: kelainan darah, kelainan ginjal, gangguan saraf, gangguan paru-paru, penyakit jantung.
Kerusakan Organ Memicu Kondisi Fatal pada Pasien Lupus

Pemahaman dan kesadaran soal penyakit lupus ini perlu ditingkatkan agar penangananya dapat dilakukan segera sebelum lupus menyebabkan kerusakan pada organ tubuh. Persentase 35 persen pasien lupus dengan kerusakan organ memiliki risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan 8.7 persen pasien lupus tanpa kerusakan organ.
”Jadi kerusakan organ inilah yang menyebabkan kondisi fatal pada pasien dengan lupus,” jelas Dokter Sandra.
Pengobatan lupus di Indonesia sendiri sudah semakin berkembang dan inovatif, terbaru dengan adanya anifrolumab yang menonaktifkan penyakit lupus agar inflamasi dan produksi autoantibodinya ditekan.
Pengobatan yang lebih inovatif saat ini juga dapat menurunkan dosis obat lupus kortikosteroid yang kerap menyebabkan berbagai efek samping dan memperbaiki gangguan organ, mulai dari jerawat, hipertensi, berat badan naik, gula darah naik, hingga gangguan kardiovaskular.
Itu dia penjelasan mengenai lupus lebih banyak menyerang perempuan lengkap dengan faktor dan penyebabnya.
Gejala yang terjadi bisa terasa sangat sepele sehingga penting untuk memeriksakan diri ke dokter saat terjadi gangguan kesehatan, Ma.


















