“Jadi kita skrining tahun pertama kan 7 jutaan. Angkanya hampir 10%, hampir 10% ya,” ucap Budi.
Kemenkes Ungkap 700 Ribu Anak Indonesia Alami Depresi dan Anxiety

- Kemenkes mengungkap sekitar 700 ribu anak Indonesia mengalami gejala depresi dan kecemasan dari hasil skrining kesehatan mental terhadap 7 juta anak melalui program Cek Kesehatan Gratis.
- Faktor utama pemicu gangguan mental pada anak berasal dari konflik keluarga, pola asuh yang bermasalah, serta tekanan lingkungan seperti bullying dan tuntutan akademik di sekolah.
- Pemerintah berencana memperluas skrining hingga 25 juta anak dan memperkuat layanan kesehatan mental dengan menambah psikolog klinis serta menyediakan hotline krisis nasional Healing 119.
Beragam masalah kesehatan mental pada anak sering kali terjadi pada sebagian anak di Indonesia. menjadikannya perhatian serius tidak hanya oleh keluarga tetapi juga pemerintah.
Seperti yang dijelaskan baru ini oleh Kementrian Kesehatan (Kemenkes), mengungkapkan bahwa ratusan ribu anak terdeteksi mengalami gejala gangguan kesehatan mental berdasarkan skrining awal program Cek Kesehatan Gratis atau CKG.
Data tersebut diperoleh dari pemeriksaan terhadap sekitar 7 juta anak dari target total 25 juta anak dalam program skrining nasional. Hasilnya menunjukkan bahwa hampir 10 persen anak yang diperiksa memiliki indikasi gangguan mental, seperti kecemasan dan depresi.
Untuk memahami informasi ini secara mendalam, berikut ini Popmama.com telah merangkum temuan data anak yang mengalami depresi dan anxiety. Disimak, ya!
Table of Content
1. Sebanyak hampir sepuluh persen anak mengalami ganguan mental

Melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilakukan pemerintah menjadi salah satu upaya mendeteksi kondisi kesehatan secara lebih mendalam, termasuk kesehatan mental pada anak. Dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani skrining, menurut data, hampir 10 persen anak menunjukkan gejala gangguan kesehatan mental. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, menjelaskan bahwa sebagian besar kasus yang ditemukan berkaitan dengan kecemasan dan depresi.
Ia menambahkan bahwa sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala cemas, sementara itu, 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi pada anak.
“Jadi mental disorder tuh banyak deh macam-macam. Ada anxiety disorder, depression disorder, ada eating disorder, ada neurobehavior disorder, banyak jenis-jenisnya gitu, banyak penyakitnya juga. Nah, yang paling umum adalah anxiety sama depression, gitu tuh sudah hampir 10%,” ujarnya.
Budi menjelaskan gangguan kesehatan mental pada anak memiliki berbagai jenis, tapi yang paling banyak ditemukan dari hasil skrining tersebut adalah kecemasan dan depresi.
2. Faktor pemicu

Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes), gangguan kesehatan mental pada anak tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi psikologis individu semata.
Lingkungan tempat anak tumbuh, terutama keluarga dan lingkungan sosial, memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk kondisi emosional dan kesehatan mental mereka. Ketika anak berada dalam situasi keluarga yang tidak harmonis atau penuh tekanan, hal tersebut dapat memicu rasa cemas, takut, hingga perasaan tidak aman yang berkepanjangan.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyebut bahwa konflik dalam keluarga menjadi salah satu faktor yang memicu tekanan psikologis pada anak.
“Yang nomor satu, bukan dari psikologi anaknya tapi dari keluarganya. Jadi kalau keluarganya konflik atau ada masalah pola pengasuhan, itu menjadi salah satu penyebab yang paling tinggi,” jelasnya.
Selain keluarga, faktor lingkungan seperti perundungan bullying dan tekanan akademik juga berperan besar dalam memengaruhi kondisi mental anak dan remaja. Persaingan belajar, tuntutan prestasi, hingga hubungan sosial di sekolah dapat menjadi sumber stres jika tidak diimbangi dengan dukungan emosional yang cukup.
3. Pemerintah menyiapkan skrining yang lebih luas

Melihat besarnya temuan tersebut, pemerintah berencana memperluas skrining kesehatan mental pada anak hingga mencapai target 25 juta anak. Hasil pemeriksaan nantinya akan ditindaklanjuti oleh fasilitas kesehatan seperti puskesmas untuk memastikan anak mendapatkan penanganan yang tepat.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi, menjelaskan bahwa layanan kesehatan akan terus diperkuat, termasuk penyediaan tenaga psikolog klinis di fasilitas kesehatan. Saat ini jumlah psikolog klinis di puskesmas masih terbatas, yaitu sekitar 203 orang di seluruh Indonesia. Selain itu, pemerintah juga menyediakan layanan bantuan krisis kesehatan mental melalui hotline nasional.
“Ada Healing 119 ini kayak Call Center kita kalau ada anak-anak yang merasa ingin bunuh diri dia bisa telepon ke sini,” jelas Budi.
Dengan adanya skrining nasional dan layanan dukungan tersebut, pemerintah berharap masalah kesehatan mental anak dapat dideteksi lebih dini sehingga risiko yang lebih serius dapat dicegah. Dukungan keluarga, sekolah, dan lingkungan juga menjadi kunci penting agar anak dapat tumbuh dengan kondisi mental yang sehat.
Itulah, Ma, informasi penting mengenai kondisi kesehatan mental anak di Indonesia. Data ini menjadi pengingat bagi kita sebagai orangtua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku dan kondisi psikologis anak dalam kesehariannya.


















