Dokter Temukan Pensil di Kandung Kemih Anak 12 Tahun, Awasi Pergaulan Anak

Sebuah cerita memilukan dibagikan oleh dr. Ryuu Damara Parisudha, Sp.U, Dokter Spesialis Urologi. Dalam Instagram pribadinya ia mendapati pasien remaja perempuan 12 tahun dengan pensil di dalam kandung kemihnya.
Kasus ini bermula dari tekanan pergaulan yang mendorong anak melakukan tindakan berbahaya. dr. Ryuu menegaskan, ini bukan kenakalan, melainkan dampak serius dari tekanan teman sebaya dan ketakutan untuk ditolak.
Insiden ini menjadi alarm keras bagi semua orang tua bagaimana bahaya di pergaulan anak bisa berdampak fisik yang nyata.
Lantas, bagaimana kronologi lengkapnya dan cara mencegah kejadian serupa? Berikut Popmama.com rangkumkan informasi selengkapnya.
1. Kronologi kejadian

Dalam unggahannya, dr. Ryuu menjelaskan kronologi medis yang terjadi pada pasien berusia 12 tahun tersebut. Awalnya, sang anak mencoba memasukkan sebuah pensil ke area kemaluannya karena ajakan atau paksaan dari lingkungan pergaulannya.
Tanpa disadari, pensil tersebut masuk melalui saluran kencing bawah dan terdorong lebih dalam hingga mencapai kandung kemih.
Kejadian ini menunjukkan bagaimana tekanan sosial dapat langsung berimbas pada kesehatan fisik yang serius pada anak, Ma.
2. Kenali tanda anak mengalami tekanan pergaulan

Masih dari penjelasan dr. Ryuu, Dokter Spesialis Urologi itu menyebutkan bagaimana kasus yang ia temukan ini sebagai contoh ekstrem betapa kuatnya pengaruh peer pressure.
Anak bisa terdorong melakukan hal berbahaya demi diterima kelompoknya. Itulah mengapa orang tua perlu mewaspadai tanda seperti perubahan sikap drastis, menarik diri dari keluarga, kecemasan berlebihan akan penolakan, atau memiliki barang tanpa penjelasan jelas.
Orang tua perlu peka atas setiap tanda tersebut, Ma, Pa. Rasa takut diejek atau dikucilkan, seperti yang dialami pasien dr. Ryuu adalah motivasi kuat yang sering disembunyikan anak.
Jadilah pengamat yang teliti terhadap perubahan sekecil apa pun.
3. Jadilah tempat aman anak bercerita

Melalui caption unggahannya, kasus yang ia temukan ini menjadi pesan penting bagi semua orang tua agar bisa menjadi tempat bercerita paling aman bagi anak.
Anak sering memendam masalah karena takut dihakimi. Itulah mengapa pentingnya membangun komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak, karena peran kita sangat penting dalam mendengarkan aktif dan validasi perasaan mereka.
Alih-alih langsung menasehati, mulailah dengan, “Kelihatannya kamu sedang takut, ya?” atau “Cerita ke Mama atau Papa, nggak apa-apa.”
Dengan menciptakan rasa aman ini, anak akan lebih mungkin membuka masalahnya sebelum terdorong mengambil tindakan berisiko seperti dalam kasus penemuan pensil di kandung kemih anak tersebut.
4. Edukasi dini tentang tubuh dan hak untuk menolak

Pendidikan dini tentang tubuh dan hak untuk menolak adalah tameng penting yang perlu orang tua tanamkan pada anak.
Meski pendidikan seks masih menjadi hal tabu di sebagian masyarakat, hal seperti ini justru bisa menjadi langkah pencegahan saat anak tumbuh besar, Ma, Pa.
Anak harus paham bahwa tidak ada yang boleh memaksanya melakukan hal yang tidak nyaman atau berbahaya bagi tubuhnya. Latih anak dengan role-play untuk menolak ajakan berbahaya.
Mama dan Papa juga bisa mengajarkan kalimat tegas seperti, “Aku nggak mau, tubuhku bukan untuk itu,” atau “Aku bilang ke Mama atau Papa ku, ya!”
Edukasi keselamatan diri harus diberikan berulang dan sesuai usia. Pengetahuan anatomi dasar juga membantu anak memahami mengapa memasukkan benda ke tubuh sangat berisiko, seperti yang terjadi pada kasus kronologi di atas.
Dari penemuan pada pasien dr. Ryuu ini tentu menjadi peringatan keras bagi kita para orang tua dalam melindungi anak dari bahaya pergaulan.
Dengan memahami risiko, menjadi sosok yang mendengar, dan mengajari anak untuk menghargai tubuhnya, kita membekali mereka dengan keberanian menolak hal berbahaya.
Mari jadikan rumah sebagai tempat pulang yang paling aman bagi anak untuk bertumbuh, Ma, Pa.


















