hanco

Demi Kesehatan Anak dan Keluarga, Penggunaan Antibiotik Harus Bijak

Pikir ulang sebelum mengonsumsi antibiotik secara berlebihan ya, Ma!

15 November 2019

Demi Kesehatan Anak Keluarga, Penggunaan Antibiotik Harus Bijak
Pixabay/nastya_gepp

Anak sehat dan pintar tentu menjadi doa dari para orangtua apalagi kesehatan termasuk prioritas utama. Ketika anak tiba-tiba sakit, tak jarang orangtua langsung panik lalu pergi ke dokter serta menerima resep antibiotik. 

Antibiotik menjadi salah satu jenis obat yang sering diresepkan oleh dokter untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Namun resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR) telah dinyatakan sebagai salah satu permasalahan kesehatan paling mengancam populasi dunia. 

Untuk mengingatkan bahaya nyata AMR dalam kehidupan, maka tanggal 18-24 November 2019 ini ditetapkan sebagai Pekan Kesadaran Penggunaan Antibiotik Sedunia (World Antibiotic Awareness Week). Tanpa upaya pengendalian secara global, maka tahun 2050 diperkirakan AMR menjadi pembunuh nomor satu di dunia dengan angka kematian mencapat 10 juta jiwa. 

Jika Mama ingin mengetahui beberapa informasi mengenai penggunaan antibiotik di dalam kehidupan sehari-hari, kali ini Popmama.com telah merangkumnya. 

1. Tidak semua penyakit yang disebabkan oleh bakteri bisa sembuh dengan antibiotik 

1. Tidak semua penyakit disebabkan oleh bakteri bisa sembuh antibiotik 
Freepik/Kjpargeter

Sebagai orangtua, Mama perlu mengetahui bahwa tidak semua penyakit disebabkan oleh bakteri. Purnamawati Sujud sebagai pendiri dan dewan penasihat Yayasan Orangtua Peduli (YOP) mengatakan kalau penyakit yang diakibatkan oleh bakteri pun jumlahnya lebih sedikit. 

Hal ini dikarenakan tidak semua bakteri yang ada di lingkungan sekitar berdampak buruk bagi tubuh. 

"Kebanyakan penyakit infeksi itu disebabkan oleh virus. Bahkan virus tidak bisa bereproduksi sendiri karena perlu dibantu makhluk lain. Inilah yang membedakan antara virus dan bakteri," kata Purnamawati saat ditemui di Kawasan Senayan, Kamis (14/11/2019). 

Purnamawati juga menekankan bahwa antibiotik merupakan sumber daya yang tidak terbarukan dan saat ini persediaannya sudah menipis. 

“Sudah semakin banyak bakteri yang menjadi kebal dan tidak lagi mempan dengan antibiotik yang tersedia. Jika akses kita terhadap antibiotik sudah tidak ada lagi, maka beban penyakit infeksi akan semakin berat untuk ditanggung dan layanan kesehatan pun akan menjadi sangat mahal dengan hasil yang tidak efektif,” ucap Purnamawati.

Saat seseorang mengonsumsi antibiotik, maka tidak semua bakteri penyebab penyakit akan mati dengan cepat karena bakteri itu bermutasi. 

"Bakteri bisa lolos dari pengobatan dan tidak mati, bakteri bisa berkembang biak dengan cara membelah diri," tambahnya. 

Ketika bakteri di dalam tubuh sudah begitu kebal dari antibiotik, maka proses pengobatan pun tidak bisa terjadi dalam waktu singkat.

Editors' Picks

2. Penyakit yang diakibatkan oleh infeksi virus tidak seharusnya diresepkan antibiotik

2. Penyakit diakibatkan oleh infeksi virus tidak seharus diresepkan antibiotik
Freepik/Poringdown

Antibiotik termasuk obat yang tidak efektif dalam melawan infeksi virus dari beberapa penyakit seperti batuk, pilek, influenza dan diare tanpa darah. 

Jika diperhatikan penyakit yang terjadi akibat infeksi virus kerap diresepkan untuk meminum antibiotik padahal tidak akan ada gunanya. Efek samping akibat sembarangan minum antibiotik untuk batuk dan pilek hanyak akan berbahaya untuk kesehatan tubuh. 

Perlu diketahui bahwa penyakit infeksi virus umumnya bisa sembuh sendiri tanpa pengobatan. Penggunaan serta penyalahgunaan antibiotik hanya akan meningkatkan risiko resistensi antibiotik. 

Menurut pemaparan dari Purnamawati bahwa warna ingus yang keluar saat sakit bukanlah sebuah petunjuk penyakit infeksi bakteri. Proses ingus yang mengental menjadi pemicu terjadinya perubahan warna antara kuning dan hijau. Namun, harus diingat bahwa pilek bukanlah penyakit infeksi bakteri sehingga pilek tidak membutuhkan antibiotik. 

Baca juga: 

3. Penggunaan antibiotik dapat menyebabkan resisten antibiotik 

3. Penggunaan antibiotik dapat menyebabkan resisten antibiotik 
Freepik/Suksao

Antibiotik bekerja dengan cara membasmi bakteri yang ada atau mempersulit pengembangbiakan bakteri. Perlu diketahui bahwa penggunaan antibiotik secara berulang dapat meningkatkan potensi resistensi antibiotik, bahkan jika kurang bijak semakin memperparah kesehatan. 

Resistensi antibiotik telah menjadi masalah yang serius karena dihadapi seluruh dunia, salah satu bakteri yang kebal yaitu Superbugs. Orang yang terinfeksi bakteri ini tentu akan semakin sulit disembuhkan serta terapinya membutuhkan biaya yang sangat mahal. Beberapa kasus berakhir menyebabkan cacat permanen bahkan kematian. 

Untuk mencegah resisten antibiotik, maka perlu melakukan beberapa hal seperti: 

  • Terus mengusahakan untuk tidak meminum antibiotik dalam mengobati infeksi virus seperti batuk, pilek dan diare tanpa darah. 
  • Usahakan tidak memaksakan dokter untuk meresepkan antibiotik agar segera memperoleh kesembuhan. 
  • Minumlah antibiotik sesuai diagnosis dengan dosis yang tepat. Habiskanlah hingga tuntas. 
  • Lakukan imunimasi sesuai jadwal untuk mencegah penyakit infeksi bakteri. 
  • Cegah infeksi dengan kebiasaan cuci tangan pakai sabun, cuci bahan makanan mentah di bawah air mengalir dan masak daging hingga matang serta menjaga kebersihan lingkungan 

Selain itu, pastikan tidak sekali-kali menggunakan resep antibiotik ke orang lain atau bahkan tanpa resep dokter. 

Itulah beberapa informasi menarik yang perlu diketahui mengenai antibiotik. Semoga dengan pengetahuan baru ini, Mama pun semakin menyadari kesehatan keluarga serta bijak ketika ingin mengonsumsi antibiotik. 

Baca juga: Benarkah Antibiotik Merusak Bakteri Baik di Pencernaan si Kecil?

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!