Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

10 Hal yang Orangtua Jepang Ajarkan pada Anak Sejak Dini

6 min read
10 Hal yang Orangtua Jepang Ajarkan pada Anak Sejak Dini
Pexels/Annushka Ahuja
  • Orangtua Jepang menanamkan sopan santun dan rasa syukur lewat kebiasaan menyapa, berterima kasih sebelum-sesudah makan, serta berbicara tenang di ruang publik.

  • Anak dibiasakan mandiri dan bertanggung jawab dengan membersihkan barang sendiri, merawat barang pribadi, tidak menyia-nyiakan makanan, serta menghargai waktu orang lain.

  • Nilai empati, ketekunan, dan tindakan nyata diajarkan melalui kesadaran dampak perilaku, belajar konsisten setelah gagal, serta membuktikan niat baik lewat rutinitas harian.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ada banyak kebiasaan sederhana yang ternyata jadi rahasia besar di balik sikap disiplin dan sopan santun anak-anak Jepang. Bukan lewat omelan panjang, orangtua Jepang justru mengajarkannya lewat rutinitas kecil yang diulang setiap hari.

Orangtua di Jepang memupuk kebiasaan baik ini agar kelak anaknya dapat menunjukkan sikap yang baik kepada orang-orang dan menghargai segala sesuatu, bahkan hal kecil sekali pun.

Penasaran kebiasaan apa saja yang mereka tanamkan sejak dini? Berikut Popmama.com mengulas 10 hal yang orangtua Jepang ajarkan pada anak, melansir unggahan akun Instagram @bbslearning.id. Yuk, simak sampai habis!

  1. 1. Menghormati semua orang

    Menghormati semua orang
    Pexels/Samuel Esteban Munoz Quintero

    Di Jepang, menyapa orang lain dengan sopan sudah diajarkan sejak anak masih sangat kecil. Setiap pagi, para guru di tempat penitipan anaknya selalu menyapa dengan "ohayo gozaimasu" alias selamat pagi.

    Orangtua pun membalas sapaan yang sama, sehingga anak-anak melihat langsung bagaimana saling menghormati itu dipraktikkan, bukan cuma diomongkan. Kebiasaan kecil ini lama-lama membuat anak paham bahwa menyapa orang lain dengan hangat adalah hal yang wajar dilakukan.

    Satu sapaan hangat saja bisa membuat hari seseorang jadi lebih baik. Sesederhana itu, tapi dampaknya bisa terasa besar bagi orang yang menerimanya.

  2. 2. Selalu ucapkan terima kasih sebelum dan sesudah makan

    Selalu ucapkan terima kasih sebelum dan sesudah makan
    Pexels/Mavluda Tashbaeva

    Sebelum makan, anak-anak Jepang dibiasakan mengucapkan "itadakimasu", semacam ungkapan syukur atas makanan yang tersaji di meja. Maknanya adalah rasa terima kasih kepada semua orang yang terlibat dalam menghadirkan makanan itu.

    Ritual singkat sebelum makan ini juga jadi momen untuk memperlambat ritme, sehingga anak lebih menghargai makanan yang ada di depannya. Setelah makan pun ada ucapan penutup serupa sebagai tanda rasa syukur bahwa sudah selesai bersantap.

    Kebiasaan ini berakar dari nilai "omotenashi", yaitu semangat berkontribusi untuk kebaikan bersama yang ditanamkan sejak kecil. Lewat rutinitas sesederhana mengucapkan terima kasih, anak diam-diam belajar menghargai proses dan jerih payah orang lain.

  3. 3. Membersihkan sendiri barang yang telah digunakan

    Membersihkan sendiri barang yang telah digunakan
    Pexels/Micah Eleazar

    Di rumah maupun di sekolah, anak Jepang terbiasa membereskan sendiri barang yang baru saja mereka pakai. Banyak orangtua lebih memilih membereskan sendiri karena dianggap lebih cepat, padahal itu justru membuat anak terbiasa bergantung pada orang lain.

    Mengajarkan anak bertanggung jawab atas kerapian lingkungannya sendiri adalah pelajaran hidup yang baik. Anak juga bisa diajarkan dengan cara sederhana, seperti bernyanyi bersama sambil beres-beres atau memberi anak alat kebersihan sungguhan, bukan mainan.

    Di sekolah, kebiasaan ini bahkan jadi tradisi turun-temurun lewat kegiatan bersih-bersih kelas bersama teman sekelas. Anak belajar bahwa menjaga kebersihan ruang bersama adalah tanggung jawab semua orang, bukan cuma petugas kebersihan.

  4. 4. Merawat barang pribadi

    Merawat barang pribadi
    Pexels/Micah Eleazar

    Masyarakat Jepang percaya bahwa setiap benda, sekecil apa pun, punya semacam "roh" atau jiwa tersendiri. Anak-anak juga diajarkan untuk membayangkan apakah buku-buku mereka akan berterima kasih karena disusun rapi di rak, atau justru merasa sakit karena dilipat sembarangan.

    Cara pandang ini membuat anak lebih berhati-hati memperlakukan barang miliknya, mulai dari buku, pakaian, sampai mainan kesayangan. Baju yang digantung rapi dianggap diberi ruang untuk bernapas, bukan sekadar ditumpuk asal-asalan di lemari.

    Kebiasaan merawat barang pribadi ini ternyata juga membentuk cara anak memperlakukan orang lain dan lingkungan sekitarnya. Sikap teliti dan penuh perhatian terhadap benda-benda kecil, lambat laun tumbuh menjadi sikap peduli yang lebih besar.

  5. 5. Tepat waktu sebagai rasa hormat

    Tepat waktu sebagai rasa hormat
    Pexels/Nothing Ahead

    Datang tepat waktu, atau bahkan lebih awal, adalah nilai yang sangat dijunjung tinggi dalam budaya Jepang. Ketepatan waktu menunjukkan rasa hormat pada orang lain sekaligus menghindarkan diri dari membuat orang lain menunggu.

    Mengajarkan anak untuk tepat waktu juga bukan perkara mudah karena anak-anak cenderung fokus pada apa yang ada di depan mereka saat itu juga. Karena itu, coba untuk mengakali diri sendiri dengan berangkat setengah jam lebih awal dari jadwal sebenarnya.

    Di Jepang sendiri, kebiasaan ini terlihat jelas. Kebiasaan disiplin waktu semacam ini kemudian coba ditanamkan kepada anak sejak dini sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu orang lain.

  6. 6. Memikirkan tindakannya dapat memengaruhi orang lain

    Memikirkan tindakannya dapat memengaruhi orang lain
    Pexels/Erlan Shatmanov

    Salah satu nilai yang paling ditanamkan dalam budaya Jepang adalah kesadaran kolektif, yaitu memikirkan bagaimana tindakan diri sendiri berdampak pada orang di sekitar.

    Selain itu, sekolah-sekolah di Jepang bahkan rutin mengadakan sesi diskusi tentang bagaimana pilihan seorang anak bisa memengaruhi perasaan temannya.

    Di rumah, orangtua tidak perlu kurikulum formal untuk mengajarkan hal ini. Cukup dengan bertanya secara sederhana usai ada konflik, seperti "Menurutmu, bagaimana perasaan dia saat kamu melakukan itu?"

    Kebiasaan bertanya semacam ini, kalau dilakukan berulang, lama-lama membentuk empati yang sesungguhnya. Anak tidak sekadar belajar mengucapkan "maaf", tapi juga benar-benar memahami apa yang dirasakan orang lain.

  7. 7. Tidak membuang makanan

    Tidak membuang makanan
    Pexels/Greenmax Techphotograph

    Konsep "enryo" dalam budaya Jepang mengajarkan anak untuk menahan diri demi kenyamanan orang lain, termasuk soal makanan. Saat makan bersama, orang Jepang sering kali sengaja tidak mengambil potongan terakhir di piring sebagai bentuk penghormatan kepada orang lain di meja makan.

    Kebiasaan ini menanamkan pemahaman bahwa keinginan pribadi tidak selalu harus didahulukan. Anak pun diajak untuk lebih peka, tidak asal mengambil banyak makanan lalu menyisakannya begitu saja.

    Orangtua juga disarankan menjadikan enryo ini semacam "tantangan seru", misalnya lomba siapa yang paling bisa menahan diri saat makan bersama. Cara ini membuat anak belajar bahwa menahan diri justru butuh kekuatan, bukan tanda kelemahan.

  8. 8. Belajar setiap hari

    Belajar setiap hari
    Pexels/江威 徐

    Semangat belajar setiap hari tercermin dari salah satu peribahasa Jepang paling populer, yaitu "keizoku wa chikara nari" yang berarti ketekunan adalah kekuatan. Filosofi ini percaya bahwa kehebatan itu dibangun, bukan bawaan lahir, lewat langkah-langkah kecil yang dilakukan berulang setiap hari.

    Anak-anak Jepang terbiasa mendengar peribahasa ini dari guru maupun pelatihnya sebagai pengingat bahwa kemajuan sekecil apa pun tetaplah kemajuan. Daripada mengejar hasil instan, orangtua lebih menekankan proses belajar yang konsisten dan telaten.

    Ada juga peribahasa lain yang senada, yaitu "nanakorobi yaoki" atau jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali. Lewat dua peribahasa ini, anak diajarkan bahwa gagal itu wajar, asal terus mau mencoba dan belajar lagi keesokan harinya.

  9. 9. Bicara dengan tenang di ruang publik

    Bicara dengan tenang di ruang publik
    Pexels/Annushka Ahuja

    Naik kereta di Jepang, kamu mungkin akan kaget karena suasananya begitu tenang meski gerbong penuh sesak penumpang, termasuk keluarga dengan anak kecil. Sejak kecil, anak-anak Jepang dibiasakan berbicara pelan saat berada di ruang publik seperti transportasi umum.

    Daripada menegur dengan suara keras, orangtua biasanya cukup berbisik mengingatkan anak untuk merendahkan suaranya. Cara ini dianggap lebih efektif dan tetap menjaga suasana tenang di sekitar mereka.

    Kebiasaan bicara pelan ini bukan cuma soal sopan santun, tapi juga bentuk kepedulian terhadap kenyamanan orang lain yang berbagi ruang publik yang sama. Semakin terbiasa, anak pun jadi lebih peka terhadap situasi di sekitarnya.

  10. 10. Tindakan kecil lebih baik daripada kata-kata besar

    Tindakan kecil lebih baik daripada kata-kata besar
    Pexels/Gu Ko

    Ada satu ungkapan Jepang yang menggambarkan filosofi ini dengan tepat, yaitu "fugen jikko", yang berarti bertindak dulu tanpa banyak bicara. Ungkapan ini biasa dipakai untuk memuji seseorang yang diam-diam menyelesaikan pekerjaannya tanpa perlu mengumumkannya lebih dulu.

    Nilai ini banyak ditanamkan orangtua Jepang pada anak-anaknya bahwa lebih baik menunjukkan lewat perbuatan daripada sekadar berjanji atau bicara besar. Anak diajarkan untuk membuktikan niat baiknya lewat tindakan nyata, bukan kata-kata manis semata.

    Filosofi inilah yang sebenarnya merangkum semua kebiasaan sebelumnya, mulai dari menyapa dengan hangat sampai membersihkan barang sendiri. Semuanya diajarkan lewat contoh dan pengulangan kecil setiap hari, bukan lewat ceramah panjang yang mudah dilupakan.

    Sepuluh kebiasaan di atas kelihatannya sederhana, tapi kalau dilakukan secara konsisten setiap hari, dampaknya bisa membentuk karakter anak dalam jangka panjang. Banyak dari nilai-nilai ini sebenarnya juga sudah akrab dalam budaya kita sendiri.

    Nah, itulah pembahasan mengenai 10 hal yang orangtua Jepang ajarkan pada anak. Semoga informatif dan bermanfaat!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More