Osteoporosis merupakan kondisi ketika kepadatan tulang berkurang sehingga membuat tulang lebih rapuh dan rentan mengalami patah.
Jangan Malas Olahraga, Ini Edukasi Dokter di Hari Osteoporosis Sedunia

Kepadatan tulang mencapai puncak sekitar usia 30 tahun lalu menurun, sehingga kesehatan tulang perlu dibangun sejak muda melalui aktivitas fisik rutin.
Dokter menganjurkan kombinasi kardio dan latihan beban, disertai protein cukup, makanan utuh, tidur 7–8 jam, serta pengelolaan stres; lansia perlu pemeriksaan sebelum berolahraga.
Pada usia di atas 50 tahun, nyeri punggung saat istirahat, tinggi badan menyusut, atau postur membungkuk perlu diperiksakan karena dapat terkait osteoporosis dan patah tulang belakang.
Meski sering dikaitkan dengan usia lanjut, upaya menjaga kesehatan tulang sebenarnya perlu dilakukan sejak usia muda.
Dalam rangka memperingati Hari Osteoporosis Sedunia, Siloam Mampang mengadakan edukasi kesehatan mengenai osteoporosis bersama dr. Henry Suhendra, Sp.OT., Subsp. C.O. (K), dan dr. Dohar Tobing, Sp.OT., Subsp.OTB(K).
Lantas, apa saja penjelasan kedua dokter tersebut mengenai osteoporosis? Berikut Popmama.com merangkumnya untuk kamu!
Table of Content
1. Bangun kepadatan tulang sejak usia muda

Pexels.com/Daniel Sikpi Menjaga kesehatan tulang perlu dimulai sejak usia muda, bukan hanya saat memasuki usia lanjut.
Menurut dr. Henry Suhendra, massa tulang mencapai puncaknya atau disebut peak bone mass pada usia sekitar 30 tahun. Setelah itu, kepadatan tulang secara alami mulai menurun.
Oleh karena itu, penting untuk membangun massa tulang sejak dini sebagai bekal menjaga kekuatan tulang di usia lanjut.
“Jadi kita berusaha supaya puncak kita tinggi. Nah, caranya gimana? Makanya harus olahraga,” jelas dr. Henry.
Salah satu upayanya adalah rutin berolahraga. Aktivitas fisik dapat memberikan rangsangan pada tulang sehingga membantu menjaga kekuatannya.
2. Kombinasikan olahraga kardio dan latihan beban

Pexels.com/Firman Marek_Brew Olahraga tidak hanya bermanfaat untuk menjaga kebugaran, tetapi juga berperan dalam mempertahankan kesehatan tulang dan otot.
dr. Henry menjelaskan bahwa aktivitas fisik sebaiknya mencakup dua jenis latihan, yaitu kardio atau aerobik dan latihan beban.
Olahraga kardio membantu mempertahankan kapasitas jantung dan paru-paru, sedangkan latihan beban memberikan tekanan pada tulang melalui tarikan otot.
Rangsangan tersebut membantu tulang mempertahankan kepadatannya. Latihan beban juga sebaiknya mencakup seluruh bagian tubuh, mulai dari kaki, bahu, dada, punggung, hingga otot inti atau core.
Sementara itu, bagi lansia, dr. Dohar Tobing mengingatkan bahwa olahraga perlu dilakukan setelah pemeriksaan untuk memastikan kondisi tulang aman.
Latihan juga sebaiknya dilakukan secara bertahap dengan pendampingan tenaga profesional.
3. Perhatikan asupan protein dan terapkan pola hidup sehat

Pexels.com/Jenna Hamra Selain olahraga, asupan nutrisi turut berperan dalam menjaga kesehatan tulang. dr. Henry menekankan pentingnya mencukupi kebutuhan protein karena nutrisi tersebut menjadi salah satu bahan dasar pembentukan tulang.
Ia menyarankan masyarakat untuk lebih memperhatikan kualitas makanan dengan mengutamakan bahan makanan utuh dibandingkan makanan olahan.
Selain pola makan, dr. Henry juga memperkenalkan prinsip DESS, yaitu Diet, Exercise, Sleep, dan Stress. Artinya, menjaga kesehatan tulang perlu didukung oleh pola makan yang baik, olahraga teratur, tidur cukup, serta pengelolaan stres.
Ia menyarankan waktu tidur sekitar 7–8 jam pada malam hari dan mengingatkan agar stres berkepanjangan tidak diabaikan karena dapat berdampak pada kesehatan tubuh.
4. Waspadai nyeri punggung yang tidak hilang saat beristirahat

Pexels.com/https://kaboompics.com/ Memasuki usia di atas 50 tahun, keluhan nyeri punggung sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai pegal otot biasa.
Menurut dr. Dohar, nyeri punggung pada lansia bisa disebabkan oleh berbagai kondisi, mulai dari gangguan otot hingga masalah serius pada tulang belakang, termasuk patah tulang akibat osteoporosis.
Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah ketika rasa nyeri tetap muncul meskipun sedang beristirahat, seperti saat berbaring atau tidur.
Oleh karena itu, lansia yang mengalami keluhan tersebut sebaiknya memeriksakan diri ke dokter.
"Setiap lansia yang ada keluhan demikian, yang sederhana pun, sebaiknya memeriksakan diri," jelas dr. Dohar.
Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan penyebab nyeri sekaligus menyingkirkan kemungkinan kondisi serius atau red flags.
5. Kenali perubahan postur tubuh dan tinggi badan

Pexels.com/Kampus Production Seiring bertambahnya usia, tinggi badan seseorang memang dapat berkurang secara alami akibat bantalan di antara ruas tulang belakang yang semakin menipis.
Namun, jika tinggi badan terus berkurang disertai postur tubuh yang semakin membungkuk dan keluhan nyeri punggung, kondisi tersebut perlu diwaspadai.
dr. Dohar menjelaskan bahwa perubahan tersebut bisa berkaitan dengan osteoporosis. Ketika kepadatan tulang berkurang, struktur tulang menjadi lebih rapuh dan berisiko mengalami patah, termasuk pada ruas tulang belakang.
Patah tulang belakang yang baru terjadi biasanya menimbulkan rasa sakit cukup hebat. Bahkan, pasien dapat mengalami kesulitan untuk berdiri tegak maupun mengubah posisi tubuh ketika berbaring.
Demikian edukasi mengenai pencegahan osteoporosis dan tanda kerusakan tulang belakang dari dr. Henry Suhendra dan dr. Dohar Tobing dalam rangka Hari Osteoporosis Sedunia.
Semoga informasi ini dapat membantu kamu lebih peduli terhadap kesehatan tulang, mulai dari menerapkan pola hidup sehat sejak muda hingga mengenali tanda-tanda osteoporosis agar dapat ditangani sedini mungkin.






















