Kegiatan ‘Gak Ngapa-ngapain’ Resmi Masuk Daftar Olahraga Korea Selatan

- Space-Out Competition adalah kompetisi diam selama 90 menit tanpa berbicara, menggunakan ponsel, tertidur, atau melakukan gerakan berlebih.
- Diam dianggap sebagai kebutuhan di era penuh tekanan karena bantu otak mengaktifkan bagian penting dalam kreativitas dan pengolahan emosi.
- Pemenang terbaru dari Space-Out Competition adalah musisi punk asal Seoul yang melihat kompetisi ini sebagai cara melepaskan diri dari rutinitas kerja.
Di tengah ritme hidup yang semakin cepat dan sarat tekanan, masyarakat Korea Selatan hadirkan cara tak biasa untuk menikmati ketenangan, yakni melalui lomba “tidak melakukan apa pun”.
Setiap tahunnya, ratusan orang mengikuti tantangan dengan duduk tenang selama 90 menit tanpa menggunakan gadget, berbincang, atau tertidur.
Kegiatan ini diposisikan sebagai ‘cabang olahraga’ bagi kesehatan mental, sekaligus menggugat anggapan bahwa produktivitas harus selalu ditunjukkan lewat kesibukan dan capaian nyata.
Lewat kompetisi ini, diam dimaknai sebagai cara memulihkan pikiran di tengah budaya kerja yang menuntut ritme tinggi dan nyaris tanpa jeda.
Berikut Popmama.com sajikan informasi tentang ‘gak ngapa-ngapain’ resmi masuk daftar olahraga Korea Selatan. Simak di bawah!
1. Kompetisi itu bernama Space-Out Competition

Olahraga yang terdengar tidak biasa ini dikenal dengan nama Space-Out Competition. Meski konsepnya hanya ‘diam’, ajang ini justru dirancang sebagai kompetisi serius yang menantang fokus dan ketenangan mental pesertanya.
Mengutip Your Tango, Space-Out Competition pertama kali diperkenalkan pada 2014 oleh seniman visual Woopsyang di kawasan Sungai Han, Seoul. Awalnya, ajang ini digagas sebagai karya seni yang mengkritik keras budaya kerja berlebihan serta pandangan kalau beristirahat identik dengan kemalasan.
Seiring berjalannya waktu, gagasan tersebut justru mendapat respons luas dari masyarakat. Space-Out Competition pun berkembang menjadi fenomena budaya yang dipandang sebagai bentuk olahraga mental.
Dalam kompetisi ini, peserta diminta duduk tenang selama 90 menit tanpa berbicara, memainkan ponsel, tertidur, atau melakukan gerakan berlebih. Pemenang dinilai kestabilan detak jantung dan kesan ketenangan di mata penonton.
Meski terlihat mudah, banyak peserta justru gagal menyelesaikan tantangan karena sulit melawan kebiasaan untuk terus aktif. Kini, Space-Out Competition telah digelar di berbagai kota Asia dan menarik perhatian peserta lintas negara.
2. Diam jadi kebutuhan di era penuh tekanan

Fenomena olahraga ini merefleksikan kerinduan masyarakat modern akan ruang hening di tengah bisingnya tekanan sosial. Psikiater sekaligus dosen Universitas Nasional Seoul, Hanson Park, menjelaskan kondisi diam bantu otak mengaktifkan bagian otak yang berperan penting dalam kreativitas dan pengolahan emosi.
Dalam konteks masyarakat yang terus terpapar stimulasi seperti Korea Selatan, melamun justru bukan tanda kemalasan, melainkan mekanisme alami otak untuk memulihkan diri. Ia menambahkan, meluangkan waktu sejenak untuk menenangkan pikiran dapat membantu menekan hormon stres dan meredakan gejala kecemasan maupun depresi.
Awalnya dianggap aneh, Space-Out Competition kini memicu percakapan yang lebih luas soal keseimbangan hidup. Bahkan, beberapa perusahaan di Seoul mulai menerapkan sesi diam lima menit di sela jam kerja.
Dari proyek seni, kompetisi ini bertransformasi menjadi simbol kesadaran baru. Di tengah tuntutan untuk selalu produktif, berhenti sejenak justru bisa menjadi bentuk kepedulian diri yang paling esensial.
3. Pemenang terbaru berasal dari musisi punk

Mengutip National Geographic, pemenang Space-Out Competition 2025 datang dari latar belakang yang tak terduga. Byung-jin Park, pengusaha sekaligus musisi indie punk berusia 36 tahun asal Seoul, berhasil mengungguli lebih dari 100 peserta lainnya.
Park mengaku hanya sebagian kecil pikirannya tertuju pada kompetisi. Awalnya, ia sempat berniat memikirkan urusan bisnis, tetapi begitu duduk, fokus itu justru menghilang.
Kata dia, sensasinya seperti tubuhnya perlahan lenyap. Menariknya, citra punk yang identik dengan energi liar justru menjadi keunggulan. Datang dengan rambut berdiri dan jaket kulit, Park dan rekan-rekannya sempat diragukan mampu bertahan duduk diam.
Bagi Park, pengalaman ini bukan sekadar lomba, melainkan cara melepaskan diri dari rutinitas kerja yang menguras mental. Tantangannya nyata, tetapi efeknya terasa. Pikiran kembali jernih, seolah di-reset ulang.
Itu dia informasi tentang ‘gak ngapa-ngapain’ yang resmi masuk daftar olahraga Korea Selatan. Fenomena ini mengingatkan kita memberi ruang untuk berhenti sejenak bukan kesalahan, melainkan cara untuk menjaga kewarasan.
FAQ Tentang Space-Out Competition
| 1. Mengapa Space-Out Competition disebut olahraga mental? | Disebut sebagai olahraga mental karena menuntut fokus, ketenangan, dan kemampuan mengendalikan diri di tengah tekanan untuk terus aktif. |
| 2. Apakah Space-Out Competition terbuka untuk pemula atau orang awam? | Ya, kompetisi ini terbuka untuk siapa saja tanpa syarat kemampuan khusus. Justru banyak peserta datang dari latar belakang non-meditasi dan ingin mencoba pengalaman baru menenangkan pikiran. |
| 3. Mengapa detak jantung dijadikan salah satu indikator penilaian? | Detak jantung mencerminkan tingkat ketenangan dan respons stres tubuh. Semakin stabil ritmenya, semakin menunjukkan kemampuan peserta mengelola pikiran dan emosi. |



















