7 Penyebab Kram Usus yang Bikin Perut Melilit dan Sakit

- Kram usus bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari keracunan makanan, alergi, hingga infeksi virus yang menyerang sistem pencernaan dan menimbulkan gejala seperti mual, muntah, serta diare.
- Kondisi kronis seperti sindrom iritasi usus (IBS) dan penyakit radang usus (IBD) juga dapat memicu kram berulang yang membutuhkan penanganan medis jangka panjang agar tidak menimbulkan komplikasi serius.
- Selain faktor fisik, stres dan kecemasan turut berperan besar dalam memicu kram usus karena hubungan erat antara otak dan saluran cerna yang sensitif terhadap kondisi emosional seseorang.
Pernahkah kamu merasa tiba-tiba perut melilit padahal kamu tidak sedang melakukan aktivitas berat? Rasanya seperti ada yang meremas dari dalam, datang begitu saja, lalu hilang sendiri atau justru makin parah.
Sensasi semacam ini biasa disebut kram usus, dan penyebabnya ternyata bisa beragam, mulai dari yang ringan sampai yang butuh penanganan medis serius.
Daripada bingung dan menudga-duga penyebabnya, berikut Popmama.com merangkum 7 penyebab kram usus. Yuk, simak sampai habis!
Table of Content
1. Keracunan makanan

Penyebab pertama yang paling sering bikin perut tiba-tiba kram adalah keracunan makanan. Kondisi ini terjadi saat kamu makan sesuatu yang sudah terkontaminasi kuman atau bakteri jahat.
Selain kram, biasanya muncul juga gejala lain seperti mual, muntah, diare, sampai demam. Melansir WebMD, gejala-gejala ini bisa muncul dalam hitungan menit, jam, bahkan beberapa hari setelah makan makanan yang bermasalah, jadi tidak selalu langsung ketahuan dari mana sumbernya.
Kelompok yang lebih rentan mengalami keracunan makanan adalah lansia, anak-anak di bawah 5 tahun, ibu hamil, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah.
Untungnya, kebanyakan kasus bisa sembuh sendiri tanpa harus ke dokter dan hanya cukup istirahat, hindari juga makanan yang dicurigai menjadi penyebab, dan jangan lupa perbanyak minum cairan supaya tidak dehidrasi.
2. Alergi makanan

Kalau kram usus muncul setiap kali makan jenis makanan tertentu, bisa jadi itu tanda alergi makanan. Beda dengan intoleransi, alergi makanan terjadi karena sistem imun tubuh salah mengenali makanan sebagai “musuh” yang harus dilawan.
Dilansir dari WebMD, makanan yang paling sering jadi alergen di antaranya seafood, kacang-kacangan, ikan, telur, susu, dan kacang tanah.
Yang perlu diwaspadai adalah reaksi alergi makanan yang bisa berkembang menjadi anafilaksis, yaitu kondisi serius yang dapat menyebabkan tekanan darah turun drastis, sulit menelan, hingga sesak napas.
Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa berakibat fatal. Jadi, kalau kamu sudah tahu punya alergi terhadap makanan tertentu, sebisa mungkin hindari, ya.
3. Virus dalam perut

Selain keracunan makanan, ada juga tamu tak diundang lain yang bikin perut melilit, yaitu virus dalam perut atau secara medis disebut gastroenteritis viral.
Banyak orang menyebutnya stomach flu, padahal kondisi ini sama sekali bukan disebabkan oleh virus influenza. Salah satu jenis virus yang paling umum menyerang adalah norovirus.
Bedanya dengan keracunan makanan, seperti dilansir WebMD, virus ini lebih mudah menular ke orang lain, misalnya lewat kontak dekat, berbagi alat makan, atau makan dan minum dari sumber yang sudah terkontaminasi.
Selain kram, gejala yang menyertai biasanya diare encer, sakit perut, mual, muntah, nyeri otot, sakit kepala, sampai demam ringan.
Karena belum ada obat khusus, cara mengatasinya adalah dengan banyak istirahat, perbanyak minum cairan, dan mulai makan lagi secara perlahan dengan makanan ringan seperti biskuit, roti panggang, atau pisang.
4. Sindrom iritasi usus (IBS)

Kalau kram usus sudah jadi langganan dan disertai perut kembung, diare, atau malah sering buang gas, kemungkinan kamu mengalami sindrom iritasi usus atau Irritable Bowel Syndrome (IBS). Dikutip dari WebMD, IBS termasuk kondisi kronis yang butuh penanganan jangka panjang.
Dilansir dari Digestive Institute of Arizona, IBS sebenarnya adalah gangguan fungsional di mana hubungan antara otak dan usus, yang dikenal dengan istilah gut-brain axis, tidak selaras.
Stres dan makanan tertentu bisa memicu kram pada usus, meskipun secara fisik tidak ada kerusakan jaringan yang terlihat. Karena sifatnya kronis, penting bagi kamu yang punya gejala berulang untuk berkonsultasi dengan dokter agar bisa dikelola dengan tepat.
5. Intoleransi makanan

Sering bingung membedakan alergi dan intoleransi makanan? Tenang, kamu nggak sendirian. Bedanya, intoleransi makanan terjadi saat makanan tertentu mengiritasi sistem pencernaan atau tubuh kesulitan mencernanya, bukan karena reaksi imun seperti alergi.
Dikutip dari WebMD, laktosa atau gula yang terdapat dalam susu dan produk olahannya menjadi salah satu jenis intoleransi makanan paling umum. Gejalanya biasanya baru muncul kalau kamu makan dalam porsi banyak atau terlalu sering.
Selain laktosa, intoleransi terhadap gluten dan fruktosa juga cukup umum karena usus kecil kesulitan mencernanya, sehingga memicu fermentasi, gas, dan rasa nyeri, seperti dikutip dari Digestive Institute of Arizona.
Kalau kamu mengalami gejala seperti heartburn atau perut tidak nyaman, minum antasida bisa membantu meredakan sementara.
6. Stres dan kecemasan

Pernah merasa perut tiba-tiba mulas saat mau presentasi penting atau menjelang ujian? Itu bukan kebetulan. Sistem saraf di sekitar saluran cerna yang sering disebut otak kedua ternyata sangat sensitif terhadap kondisi emosional kamu.
Dikutip dari Digestive Institute of Arizona, stres dan kecemasan tingkat tinggi bisa memicu respons fight-or-flight yang ujung-ujungnya membuat otot-otot saluran cerna ikut menegang dan kram.
Makanya, kondisi ini sering disebut juga nervous stomach. Jadi, kalau kamu sering mengalami kram usus saat lagi banyak pikiran atau cemas berlebihan, coba kelola stres dengan teknik relaksasi seperti pernapasan dalam atau meditasi ringan.
7. Penyakit radang usus (IBD)

Penyebab terakhir yang perlu diwaspadai adalah penyakit radang usus atau Inflammatory Bowel Disease (IBD). Berbeda dengan IBS yang sifatnya fungsional, IBD melibatkan peradangan kronis pada saluran cerna yang bisa menimbulkan kerusakan jaringan kalau dibiarkan.
Dilansir dari Digestive Institute of Arizona, dua kondisi yang termasuk dalam kategori ini yaitu penyakit Crohn dan kolitis ulseratif.
Karena sifatnya lebih serius, penyakit radang usus butuh penanganan dari dokter spesialis gastroenterologi agar tidak menimbulkan komplikasi jangka panjang.
Kalau kram usus kamu disertai gejala seperti darah pada feses, demam tinggi, atau berat badan turun tanpa sebab jelas, sebaiknya jangan ditunda lagi untuk periksa ke dokter.
Nah, itulah pembahasan mengenai 7 penyebab kram usus. Semoga bermanfaat!





-R5nZ9zH6LuhyLWOfLA4Q4WdYLbNs3MiD.jpg)


-cC7j3AZcz1zEql9oR5vme2dMDFNCGtqS.jpg)












