Gula merupakan salah satu sumber energi yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari. Namun, tahukah kamu bahwa gula memiliki beberapa jenis dengan karakteristik, sumber, dan cara pengolahan yang berbeda di dalam tubuh?
Perbedaan Sukrosa, Laktosa, dan Maltosa Beserta Risikonya

Sukrosa, laktosa, dan maltosa sama-sama disakarida, tetapi memiliki sumber makanan serta proses pencernaan yang berbeda.
Risiko kesehatan setiap jenis gula dipengaruhi jumlah konsumsi, sumber makanan, aktivitas fisik, dan kondisi tubuh.
Laktosa memiliki indeks glikemik lebih rendah, tetapi tetap dapat memicu gangguan pencernaan pada individu dengan intoleransi laktosa.
Tiga jenis gula yang cukup sering ditemui adalah sukrosa, laktosa, dan maltosa. Ketiganya termasuk dalam kelompok disakarida, yaitu jenis karbohidrat yang tersusun atas dua molekul gula sederhana.
Meski sama-sama memberikan energi, ketiganya memiliki perbedaan dari segi sumber makanan, proses pencernaan, hingga dampaknya bagi kesehatan. Memahami perbedaan ketiga jenis gula ini dapat membantu kita lebih bijak dalam memilih makanan dan minuman untuk keluarga.
Lantas, apa saja perbedaan sukrosa, laktosa, dan maltosa serta risiko yang perlu diperhatikan? Berikut Popmama.com telah merangkum penjelasannya.
Table of Content
1. Sukrosa, gula meja yang sering ditemukan dalam makanan manis

Magnific/jcomp Sukrosa adalah nama ilmiah dari gula pasir atau gula meja yang biasa digunakan untuk memberikan rasa manis pada makanan dan minuman. Jenis gula ini tersusun atas dua molekul gula sederhana, yaitu glukosa dan fruktosa.
Di dalam sistem pencernaan, sukrosa dipecah oleh enzim beta-fruktosidase menjadi glukosa dan fruktosa. Setelah diserap, glukosa digunakan sebagai sumber energi bagi sel-sel tubuh.
Sementara itu, fruktosa diproses terutama di hati dan dapat digunakan untuk menghasilkan energi maupun diubah menjadi zat lain, termasuk lemak.
Secara alami, sukrosa dapat ditemukan dalam berbagai bahan pangan, seperti buah-buahan dan sayuran. Namun, sukrosa juga sering ditambahkan ke dalam produk makanan dan minuman kemasan untuk meningkatkan cita rasa, misalnya permen, es krim, sereal manis, makanan kaleng, soda, serta minuman manis lainnya.
Kandungan sukrosa dalam kemasan biasanya menggunakan tebu atau bit. Rasa sukrosa tidak semanis fruktosa, namun lebih manis dari glukosa.
2. Laktosa, gula alami yang terdapat dalam susu

Pexels/wayhomestudio Laktosa dikenal sebagai gula susu karena secara alami terkandung dalam susu mamalia, termasuk susu sapi, susu kambing, serta produk olahan susu lainnya seperti keju dan yogurt.
Sama seperti sukrosa, laktosa termasuk disakarida. Bedanya, laktosa tersusun atas satu molekul glukosa dan satu molekul galaktosa.Untuk dapat dicerna dengan baik, laktosa membutuhkan bantuan enzim laktase yang diproduksi di usus halus.
Enzim ini bertugas memecah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa, sehingga keduanya dapat diserap dan dimanfaatkan tubuh sebagai sumber energi. Laktosa merupakan karbohidrat utama dalam susu dan berperan sebagai sumber energi, terutama bagi anak yang mengonsumsi ASI atau susu.
3. Maltosa, gula yang dihasilkan dari pemecahan pati

Pexels/Melike Benli Maltosa adalah jenis gula alami yang banyak ditemukan dalam makanan hasil pemecahan karbohidrat kompeks, seperti nasi, roti, sereal, jagung, dan ubi. Zat ini terbentuk secara alami ketika tubuh mencerna makanan pokok sehari-hari yang kaya pati.
Proses pembentukan maltosa dapat terjadi berkat makanan berkarbohidrat. Enzim amilase yang terdapat dalam air liur dan dihasilkan oleh pankreas membantu memecah pati menjadi molekul lebih sederhana.
Selanjutnya, enzim maltase di usus halus memecah maltosa menjadi dua molekul glukosa agar dapat diserap oleh tubuh. Glukosa inilah yang selanjutnya diserap dan menjadi sumber energi utama bagi semua sel di dalam tubuh, termasuk otot dan otak.
Maltosa memiliki rasa manis, tetapi tingkat kemanisannya relatif lebih rendah dibandingkan sukrosa. Gula satu ini sering digunakan sebagai bahan pemanis tambahan produk olahan, seperti permen dan sirup malt.
Keberadaannya dalam industri pengolahan makanan bertujuan memberi rasa manis sekaligus membantu proses fermentasi pada makanan tertentu.
4. Dampak kesehatan dari mengonsumsi sukrosa, laktosa, dan maltosa

Pexels/Jason Deines Sukrosa, laktosa, dan maltosa sama-sama berfungsi sebagai sumber energi. Namun, dampaknya terhadap kesehatan dapat berbeda, tergantung pada jumlah yang dikonsumsi, sumber makanan, serta kondisi tubuh masing-masing individu.
Sukrosa: Jika dikonsumsi berlebihan secara terus-menerus, gula ini dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan kerusakan gigi.
Laktosa: Dapat memberikan energi sekaligus membantu memenuhi kebutuhan nutrisi. Namun, bagi individu dengan intoleransi laktosa, konsumsi produk yang mengandung laktosa dalam jumlah tertentu dapat memicu gangguan pencernaan, seperti perut kembung, diare, mual, muntah, hingga kram perut.
Maltosa: Jika dikonsumsi secara berlebihan, dapat terjadi lonjakan darah, resistensi insulin, peningkatan risiko diabetes tipe 2, kenaikan berat badan, hingga masalah gigi.
Perlu dipahami bahwa tidak ada satu jenis gula yang sepenuhnya bebas risiko. Dampaknya sangat dipengaruhi oleh jumlah konsumsi, pola makan, aktivitas fisik, serta kondisi kesehatan.
Oleh sebab itu, menjaga pola makan seimbang dan membatasi gula tambahan menjadi langkah penting untuk membantu menjaga kesehatan keluarga.
5. Mana yang lebih baik untuk kesehatan, sukrosa, laktosa, atau maltosa?

Magnific/xb100 Secara umum, laktosa lebih baik bagi kesehatan dibandingkan sukrosa dan maltosa. Hal ini karena laktosa memiliki indeks glikemik lebih rendah dan tidak memicu lonjakan gula darah secara drastis.
Laktosa memiliki indeks glikemik sekitar 46, dibandingkan sukrosa sekitar 65 dan maltosa 105. Indeks glikemik yang rendah membuatnya dicerna lebih lambat dan tidak memicu lonjakan gula darah ekstrem.
Selain itu, pemecahan laktosa di usus juga menciptakan kondisi yang membantu tubuh menyerap kalsium, fosfor, dan magnesium secara lebih optimal. Meski begitu, laktosa juga memiliki kekurangan tersendiri.
Laktosa tidak cocok bagi mereka penderita intoleransi laktosa akibat kekurangan enzim laktase, sehingga mengonsumsinya justru dapat menyebabkan kembung, diare, atau gangguan pencernaan lain.
Itu dia perbedaan sukrosa, laktosa, dan maltosa serta risiko yang perlu diperhatikan. Semoga bisa menjadi ilmu baru bagi kita semua, ya.










-LmuOy16rMVQPxVYL6wOrSFaYrPBExzjm.jpg)













