7 Fakta tentang Hepatitis Akut menurut Prof. Zubairi Djoerban

Penyakit ini sangat serius, Kemenkes minta semua pihak agar waspada terhadap penularannya

3 Mei 2022

7 Fakta tentang Hepatitis Akut menurut Prof. Zubairi Djoerban
Freepik/Pvproduction
Ilustrasi

Hepatitis akut menjadi topik hangat beberapa minggu belakangan. Di Indonesia, dalam kurung waktu 2 minggu, 3 anak meninggal dengan dugaan hepatitis akut.

Hingga saat ini, Badan Kesehatan Dunia (WHO) belum mengetahui penyebab penularan hepatitis akut pada anak. Ini membuat WHO menetapkan hepatitis akut sebagai penyakit ‘Tidak Diketahui Etiologinya”.

Dalam cuitan Twitter, Profesor Zubairi Djoerban Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia sempat memberikan penjelasan perihal penyakit ini. Menurutnya, para ahli sedang menyelidiki penyebab merebaknya kasus ini. Pada beberapa kasus, Adenovirus 41 ditemukan, SARS-CoV2 pada kasus lain, dan kombinasi keduanya.

Seberapa serius hepatitis akut dan apakah ini terkait dengan Covid-19? Berikut 7 fakta tentang hepatitis akut menurut Prof. Zubairi Djoerban yang dirangkum oleh Popmama.com secara lebih detail.

Diperhatikan dengan baik untuk kesehatan keluarga ya, Ma!

1. Apa penyebab hepatitis akut?

1. Apa penyebab hepatitis akut
Pexels/MART PRODUCTION

Penyebab hepatitis akut belum diketahui hingga saat ini. Menurut Profesor Zubairi, hingga saat ini para ahli sedang menyelidiki penyebabnya. Termasuk para ahli di Indonesia.

Profesor Zubairi juga mengungkapkan kemungkinan penyebab hepatitis akut. Saat penelitian beberapa kasus, ditemukan Adenovirus 41. Sedangkan pada kasus lain, ditemukan virus SARS-CoV2.

Kasus lain ini merupakan kombinasi dua virus tersebut dan juga bisa menjadi pemicu hepatitis akut.

2. Apa itu adenovirus?

2. Apa itu adenovirus
Freepik.com/pikisuperstar

Adenovirus adalah virus umum yang sebabkan berbagai penyakit pilek, demam, sakit tenggorokan, bronkitis, pneumonia, dan diare. Adenovirus 41 belum pernah terkait dengan hepatitis dan patogen umum ini biasanya bisa sembuh sendiri.

Editors' Pick

3. Seberapa serius hepatitis akut ini?

3. Seberapa serius hepatitis akut ini
Freepik/Alexander-safonov

“Amat serius,” tutur Profesor Zubairi dalam cuitannya di akun Twitternya @ProfesorZubairi. Dalam dua pekan terakhir di Indonesia, 3 anak meninggal dengan dugaan hepatitis akut.

Bahkan 10 dari 145 pasien dengan hepatitis akut ini memerlukan transplantasi hati di Inggris.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pun telah meningkatkan kewaspadaan dalam dua pekan terakhir setelah Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan kejadian luar biasa (KLB) pada kasus hepatitis akut.

4. Bagaimana mendiagnosis hepatitis akut?

4. Bagaimana mendiagnosis hepatitis akut
Freepik/Drazen Zigic

Sampai saat ini, belum ada tes yang memastikan. Tapi syaratnya agar seorang pasien dapat ditentukan mengidap hepatitis akut ialah pasien harus negatif terhadap virus hepatitis A, B, C, D, dan E.

Selain itu, kadar enzim transaminase pasien lebih dari 500 unit per liter.

5. Siapa saja yang terinfeksi?

5. Siapa saja terinfeksi
Freepik/Jcomp

Menurut WHO, rentang usia pasien yang diidentifikasi sejauh ini antara bayi berusia satu bulan hingga remaja berusia 16 tahun.

Di Indonesia, dalam 2 minggu terakhir terdapat 3 anak meninggal dengan dugaan hepatitis akut.

    6. Gejala hepatitis akut

    6. Gejala hepatitis akut
    Freepik/Oigafeo

    Profesor Zubairi mengungkapkan, “Sebagian besar anak-anak ini mengalami masalah gastrointestinal terlebih dahulu, diikuti penyakit kuning.”

    Tes laboratoriumnya juga menunjukkan tanda-tanda peradangan hati parah. Sebagian besar anak tidak mengalami demam.

    Juru bicara Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi juga menjelaskan terkait gejala hepatitis akut. Anak yang mengalami hepatitis akut bisa memiliki gejala kuning, sakit perut, muntah-muntah dan diare mendadak, buang air kecil berwarna teh tua, buang air besar berwarna pucat, kejang, serta penurunan kesadaran.

    7. Apakah ada kaitannya dengan vaksin Covid-19?

    7. Apakah ada kaitan vaksin Covid-19
    Pexels/Maksgelatin

    Apakah hepatitis akut disebabkan oleh pemberian vaksin Covid-19? Profesor Zubairi juga menuturkan jika hipotesis ini tidak didukung data. Sebagian besar anak-anak yang terkena hepatitis misterius ini justru belum menerima vaksinasi Covid-19.

    Kemenkes juga meningkatkan kewaspadaan setelah ada tiga pasien anak yang dirawat di RSCM meninggal dengan dugaan menderita hepatitis akut.

    Karena penyebab dan pengobatannya belum diketahui, Kemenkes minta semua pihak waspada penyebaran hepatitis akut pada anak. Jika Mama menemukan gejala-gejala yang disebutkan di atas pada si Kecil, segera bawa anak ke dokter atau rumah sakit terdekat.

    Sementara, terapkan protokol kesehatan, konsumsi makanan bernutrisi dan istirahat yang cukup untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

    Nah, itulah 7 fakta tentang hepatitis akut menurut Prof. Zubairi Djoerban. Semoga mama sekeluarga selalu sehat, ya.

    Baca juga:

    The Latest