5 Fakta Rumah Dian Sastro di Film Esok Tanpa Ibu, Punya Fitur Canggih

- Film Esok Tanpa Ibu yang dibintangi Dian Sastro tayang di bioskop mulai 22 Januari 2026.
- Mengusung tema sci-fi, set rumah dalam film ini justru didesain hangat dengan sentuhan estetika Indonesia.
- Setiap sudut rumah menjadi saksi interaksi emosional antara Rama, Ayah, dan AI bernama i-BU.
Film drama fiksi ilmiah terbaru, Esok Tanpa Ibu (Mothernet), resmi menyapa penonton bioskop Indonesia pada 22 Januari 2026. Film yang dibintangi Dian Sastrowardoyo, Ringgo Agus Rahman, dan Ali Fikry ini tidak hanya menyentuh hati lewat ceritanya, tetapi juga memanjakan mata melalui desain produksi yang unik.
Rumah keluarga Rama (Ali Fikry) menjadi latar utama yang memegang peranan penting. Berbeda dengan film masa depan yang biasanya identik dengan visual dingin dan kaku, rumah ini justru dirancang hangat untuk menggambarkan kerinduan mendalam terhadap sosok Ibu.
Penasaran seperti apa detail rumah masa depan yang penuh haru ini? Berikut Popmama.com telah merangkum beberapa fakta rumah Dian Sastro di film Esok Tanpa Ibu.
Yuk, kita simak!
Deretan Fakta Rumah Dian Sastro di Film Esok Tanpa Ibu
1. Ruang makan yang hangat dengan sentuhan tradisional

Berbeda dengan film fiksi ilmiah pada umumnya yang menonjolkan desain futuristik nan dingin, ruang makan di rumah ini justru terasa sangat "membumi".
Dominasi elemen kayu pada kursi, meja, hingga pintu geser memberikan nuansa rumah Indonesia yang hangat dan akrab, menjaga kedekatan emosional penonton dengan latar ceritanya.
Namun, di balik kehangatan visual tersebut, ruang makan ini menjadi saksi bisu kecanggungan antara Rama dan papanya sepeninggal sang mama. Momen makan bersama yang seharusnya akrab berubah menjadi kaku, menggambarkan betapa sulitnya komunikasi keluarga yang sedang berduka meski berada di dalam rumah yang nyaman.
2. Kamar tidur utama yang intim dan personal

Suasana di kamar tidur utama ini dirancang sangat menenangkan dengan pencahayaan temaram dari lampu tidur di sisi ranjang.
Pemilihan furnitur bernuansa kayu gelap dan headboard minimalis menciptakan kesan ruang istirahat yang hangat dan nyaman, jauh dari kesan rumah masa depan yang biasanya serba metalik.
Di ruangan inilah kehangatan interaksi antara tokoh Ibu dan Ayah terekam jelas sebelum konflik terjadi. Desain yang sederhana namun intimate ini menjadi latar yang kuat untuk menggambarkan kedekatan emosional pasangan suami istri, sekaligus menjadi ruang yang paling menyiratkan rasa kehilangan sang Ayah nantinya.
3. Ruang keluarga yang menjadi saksi badai emosi

Area ruang keluarga ini didesain dengan bukaan jendela besar yang menghadap langsung ke luar, membiarkan elemen alam seperti hujan dan angin terasa sangat dekat. Suasana temaram dengan pencahayaan minim di ruangan ini memperkuat kesan dramatis dan kesepian yang melanda Rama, seolah-olah rumah tersebut ikut merasakan kesedihan penghuninya.
Di ruangan inilah konflik batin sering memuncak, seperti saat Rama mulai mempertanyakan ketergantungannya pada sosok "i-BU".
Furnitur yang nyaman, namun tampak kosong di tengah badai hujan di luar jendela menjadi simbol visual yang kuat tentang betapa rapuhnya pertahanan keluarga ini dalam menghadapi duka dan teknologi.
4. Ruang kerja yang penuh memori dan kreativitas

Di sudut lain rumah, terdapat ruang kerja sang papa yang tampak sangat produktif namun sarat akan kesendirian. Dinding yang dipenuhi sketsa dan catatan desain menunjukkan kesibukan profesinya, kontras dengan pencahayaan ruangan yang cenderung redup dan tenang.
Ruangan ini menjadi tempat pelarian sang papa (Ringgo Agus Rahman) di tengah duka yang melanda. Meski dikelilingi perangkat kerja modern seperti tablet grafis dan kipas angin futuristik, suasana di sini tetap terasa personal, seolah menjadi benteng terakhir baginya untuk tetap "waras" dan melanjutkan hidup demi Rama.
5. Sudut rumah yang "dihidupkan" oleh teknologi AI

Puncaknya, rumah ini tidak hanya terdiri dari bangunan fisik, tetapi juga "dihuni" oleh sistem kecerdasan buatan bernama i-BU.
Di sudut ruangan yang tampak minimalis dengan panel digital di dinding, sosok Ibu (Dian Sastrowardoyo) dapat hadir kembali dalam bentuk proyeksi visual yang sangat nyata untuk berinteraksi dan melayani kebutuhan emosional keluarga, seperti menawarkan musik penenang.
Kehadiran teknologi ini mengubah atmosfer rumah menjadi unik sekaligus getir. Di satu sisi, kecanggihan i-BU mampu mengisi keheningan rumah dengan suara dan perhatian yang familiar, namun di sisi lain, hal ini justru mempertegas kekosongan jiwa di rumah tersebut karena yang hadir hanyalah algoritma, bukan kehangatan manusia yang sesungguhnya.
Itulah beberapa fakta rumah Dian Sastro di film Esok Tanpa Ibu. Desainnya yang canggih benar-benar mendukung suasana haru filmnya.
FAQ Dian Sastro
| Siapa Dian Sastro? | Diandra Paramita Sastrowardoyo (lahir 16 Maret 1982 ) adalah pemeran, model, produser, sutradara, pembawa acara, dan penyanyi berkebangsaan Indonesia. |
| Apakah Dian Sastro dosen tetap? | Menjadi dosen tetap di Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, aktris Dian Sastro mengaku tak hanya mengajar, tapi juga banyak belajar dari interaksi dengan mahasiswa yang lebih muda. |
| Apakah Dian Sastro sudah punya anak? | Ya, Dian Sastro memiliki dua orang anak dengan suaminya, Maulana Indraguna Sutowo, yaitu putra bernama Shailendra Naryama Sastraguna Sutowo dan putri bernama Ishana Ariandra Nariratana Sutowo. |

















-FxHfQhwCfmYdAhsfbImbNrKpIbDkxt7y.jpg)
