Penting! Ruangan Berantakan Ungkap Psikologi Pemiliknya

Bagaimana dengan ruangan-ruangan di rumah, Mama? Jika berantakan, cek psikologi Mama di sini

14 Mei 2020

Penting Ruangan Berantakan Ungkap Psikologi Pemiliknya
claritychi.com

Ruangan milik seseorang tidak hanya menampakkan bagaimana mereka hidup, tetapi juga psikologinya.

Kamar tidur yang berantakan, meja kerja dengan barang berserakan, dapur dengan tumpukkan piring kotor, atau bahkan kamar mandi dengan kondisi yang kotor. Semua hal itu, terkait dengan psikologi pemiliknya.

Mungkinkah Mama salah satu pemilik ruangan tersebut? Atau Papa dan anak-anak? Teman, saudara, bahkan orang tua, kah? Lalu, seperti apa psikologi pemiliknya? Jika ingin tahu, Popmama.com akan mengungkap psikologi pemilik ruangan berantakan di bawah ini.

1. Ruang kerja berantakan menunjukkan kreatif dan produktif

1. Ruang kerja berantakan menunjukkan kreatif produktif
nbcnews.com/ilbusca/Getty Images/iStockphoto

Ruangan kerja milik Mama atau Papa terlihat berantakan? Seperti folder di rak tidak teratur, banyak tempelan notes di tembok, meja kerja berserakan kertas, pena, laptop, dan organizer lain.

Psikoanalis terkenal, Sigmund Freud pernah mengatakan, "Jangan membersihkan kekacauan. Saya tahu persis di mana semuanya berada." Meja kerja seseorang mungkin terlihat berantakan, tapi ia tahu persis di mana letak masing-masing item saat dibutuhkan.

Jika seseorang masih dapat melakukan beragam pekerjaan (mengetik, menggambar, menulis) dan menemukan hal yang dibutuhkan dengan cepat, sementara meja kerjanya tampak penuh, itu menunjukkan pribadi kreatif dan produktif.

Beberapa orang cenderung bekerja lebih baik di ruang yang sangat terorganisir, sementara lainnya bekerja lebih baik di lingkungan yang kurang terorganisir. Kepribadian dan preferensi ikut berperan dalam hal ini.

Dijelaskan para peneliti, ini tidak berarti setiap orang yang bekerja dengan ruang kerja berantakan akan menjadi lebih kreatif. Para pekerja bidang kreatif mungkin yang lebih cocok dengan ruangan berantakan

Editors' Picks

2. Dapur yang kotor pertanda depresi dan gaya hidup tidak sehat

2. Dapur kotor pertanda depresi gaya hidup tidak sehat
medium.com

Ruangan berantakan ungkap psikologi pemiliknya, terutama dapur. Ruangan ini seharusnya menjadi tempat yang selalu terjaga kebersihannya di rumah karena tempat Mama memasak dan keluarga makan.

Noda minyak dan lemak, sisa makanan kedaluwarsa, tumpukan piring kotor, dan sampah yang menumpuk, tidak hanya membuat dapur terlihat buruk, tetapi juga berbahaya bagi kesehatan.

Dan terkadang masalahnya bukan hanya kemalasan. Banyak penelitian membuktikan bahwa jarang membersihkan rumah merupakan salah satu tanda depresi. Mereka mungkin merasa itu tidak penting atau bahkan tidak cukup menghargai diri sendiri.

Masalah lainnya adalah penundaan. Suka menunda menjadi masalah yang hinggap pada banyak orang dan sering terjadi dalam aktivitas sehari-hari. Tampaknya jauh lebih baik jika melakukan sedikit pekerjaan tapi teratur, daripada melakukan banyak hal dalam satu waktu.

Jika Mama terkadang suka menunda, cobalah memulai dengan hal-hal kecil. Cuci piring segera setelah makan, buang sampah setiap hari, dan buang makanan yang sudah lewat kedaluwarsanya. Ini membentuk kebiasaan sehat dan melakukan semuanya tepat waktu.

Kebiasaan tersebut juga sangat penting pengaruhnya dalam kehidupan, seperti halnya pekerjaan atau hubungan dengan orang lain.

3. Kamar mandi kotor menunjukkan ketidak pedulian terhadap penampilan

3. Kamar mandi kotor menunjukkan ketidak pedulian terhadap penampilan
lagirlsweetea.blogspot.com

Kondisi kamar mandi, dapat memperlihatkan seberapa besar perhatian pemiliknya terhadap tubuh dan juga kenyamanan psikologis mereka. Kamar mandi yang bersih adalah indikator bahwa itu digunakan secara teratur.

Sabun, sampo beserta kondisioner, pasta gigi berkualitas, sabun pencuci wajah, serta lulur, yang tertata rapi di kamar mandi menunjukkan pemiliknya peduli dengan diri mereka sendiri.

Namun, jika kamar mandi tampak kotor dan licin, serta hanya ada sepotong sabun dan pisau cukur, itu menunjukkan bahwa orang tersebut benar-benar stres dan tidak punya banyak waktu untuk peduli tentang penampilannya.

Ia tidak punya banyak produk untuk merawat diri dan penampilannya.

4. Anak yang memiliki kamar berantakan bisa jadi keras kepala

4. Anak memiliki kamar berantakan bisa jadi keras kepala
organiseme.wordpress.com

Ruangan berantakan ungkap psikologi pemiliknya, terutama pada kamar. Kamar yang berantakan mengarah pada sifat keras kepala atau tidak patuh.

Jika kamar berantakan itu milik seorang anak, kemungkinan besar orang tuanya telah meminta mereka lebih dari satu kali untuk membersihkannya. Dan kemungkinan besar anak itu menolak untuk melakukannya.

Jika anak itu hingga tumbuh masih menolak untuk membersihkan dan tetap tinggal di kamar yang berantakan, dapat berpengaruh untuk menolak aturan dalam berbagai aspek. Contohnya, meninggalkan sisa makanan di meja dan menolak membersihkannya.

5. Seluruh ruangan penuh dengan barang menjuru pada konservatif

5. Seluruh ruangan penuh barang menjuru konservatif
makaan.com

Beberapa orang mengalami kesulitan membuang atau memberikan kepada orang lain, benda-benda yang mereka sukai. Mungkin di rumah Mama banyak barang menumpuk yang sebenarnya sudah tidak terpakai? Seperti baju-baju, sepatu, atau barang lainnya.

Perilaku ini diindikasi sebagai kepribadian konservatif, yaitu seseorang tidak ingin mengubah keadaan dan mencoba bersembunyi dari perubahan atau pembaruan.

Adapun indikasi buruknya adalah orang-orang ini memiliki kecenderungan untuk terus-menerus menimbun barang tidak berguna ke rumah. Hal itu, menunjukkan tanda perilaku kompulsif dan neurosis (penyakit saraf atau gangguan psikologis).

Bagaimana dengan rumah Mama? Jika berantakan, mulailah membereskan dan membersihkan perlahan secara teratur. Ini dapat meningkatkan mood dan melawan gejala-gejala depresi.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.