Klarifikasi Daehoon soal Co-Parenting dengan Jule: Akan Batasi Akses

- Daehoon menegaskan hak asuh anak sepenuhnya berada di tangannya, namun tetap membuka akses bagi Jule selama tidak mengganggu perkembangan dan kesejahteraan anak.
- Ia memutuskan membatasi interaksi setelah menilai ada tindakan yang melewati batas, termasuk hal-hal yang dianggap tidak pantas terhadap anak.
- Pembatasan dilakukan demi keamanan dan kesehatan mental anak, sambil tetap menghormati peran ibu kandung dalam batas yang sehat dan aman.
Pasca-perceraian Na Daehoon dengan Jule atau Julia Prastini, keduanya punya komitmen untuk menjaga hubungan yang sehat. Mereka setuju untuk mengutamakan anak-anak mereka agar tidak kekurangan kasih sayang dari kedua orang tua kandungnya.
Namun, pada akhir April 2026 antara Daehoon dan Jule tampak ada sedikit ketegangan. Keduanya menemui tantangan untuk mengharmonisasi hubungan mereka. Lewat klarifikasi terbarunya, Daehoon membagikan soal aturan diantara hubungan mereka.
Sebagai informasi, hak asuh anak dari putusan pengadilan jatuh ke tangan Daehoon.
Berikut Popmama.com rangkum penting yang bisa dipetik dari langkah tegas yang diambil Daehoon.
1. Daehoon awalnya tidak membatasi pertemuan anak dengan Jule
Pernyataan itu diunggah Daehoon di Instagram pada Jumat (1/5/2026), ia menegaskan bahwa hak asuh anak berada 100% di tangannya berdasarkan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht). Dalam hubungan pasca-cerai, kejelasan legalitas sangat penting untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab penuh atas pengambilan keputusan besar terkait masa depan dan perlindungan anak.
Meski memegang hak asuh penuh, Daehoon awalnya tetap membuka akses bagi ibu kandung untuk memberikan kasih sayang. Namun, pelajaran penting di sini adalah akses tersebut bersifat tidak mutlak. Syarat utamanya adalah interaksi tersebut tidak boleh mengganggu aktivitas, perkembangan jiwa, kesehatan jasmani, maupun pendidikan agama anak.
“Hal tersebut saya lakukan selama tidak mengganggu aktivitas anak-anak, perkembangan jiwa, pertumbuhan jasmani dan rohani, kecerdasan intelektual, serta pendidikan agama mereka, sebagaimana juga menjadi perhatian dalam putusan yang saya miliki,” jelas Daehoon.
2. Ambil langkah tegas karena menilai ada tindakan yang melewati batas

Dalam klarifikasinya, Daehoon menegaskan bahwa keputusan ini tidak muncul secara tiba-tiba. Ia melihat adanya sejumlah kejadian yang dinilai sudah melewati batas sebagai orangtua yang bertanggung jawab penuh atas anak-anaknya.
“Namun, melihat beberapa kejadian belakangan ini yang menurut saya sudah melewati batas, saya sebagai ayah dan pemegang hak asuh, memiliki kewajiban untuk melindungi anak-anak,” ungkapnya.
Meski demikian, ia tetap mengakui pentingnya peran ibu kandung dalam kehidupan anak. Namun, menurutnya interaksi tersebut perlu dibatasi agar tetap berada dalam kondisi yang aman dan tidak merugikan.
3. Soroti tindakan yang dianggap tidak pantas terhadap anak

Daehoon juga mengungkap beberapa hal yang menjadi perhatian seriusnya. Ia menyebut adanya tindakan yang dinilai tidak sesuai, termasuk penggunaan produk dewasa hingga keterlibatan anak dalam konflik orangtua.
“Beberapa hal yang menjadi perhatian serius bagi saya antara lain adanya tindakan yang menurut saya tidak pantas terhadap anak termasuk penggunaan produk kosmetik dewasa kepada anak, mempertemukan anak-anak dengan pihak yang berkaitan dengan permasalahan rumah tangga sebelumnya, serta membiarkan anak-anak terlibat atau digunakan untuk bahan lecehan dan merendahkan martabat saya sebagai ayah,” jelasnya.
4. Pembatasan akses demi keamanan dan kesehatan mental anak

Daehoon meluruskan kalau keputusan untuk membatasi akses mantan pasangan seringkali dianggap sebagai bentuk balas dendam. Ia menegaskan bahwa pembatasan akses terhadap mantan istri dilakukan bukan karena emosi, melainkan demi kepentingan terbaik anak-anaknya, termasuk aspek mental dan tumbuh kembang mereka.
Dalam parenting, keselamatan anak harus selalu menjadi prioritas di atas ego pribadi.
“Keputusan ini bukan diambil karena emosi, dendam, atau keinginan untuk memisahkan anak-anak dari ibu kandungnya, melainkan semata-mata demi menjaga keamanan, kenyamanan, kesehatan mental, serta tumbuh kembang anak-anak,” tutur Daehoon.
5. Tetap hormati peran ibu, tapi dengan batasan sehat

Daehoon juga menyoroti pentingnya menjaga ruang publik dari konflik pribadi diantara mereka. Ia menegaskan tidak akan segan menempuh jalur hukum terhadap pihak-pihak (termasuk keluarga mantan istri atau pendukungnya) yang menyebarkan fitnah atau menggunakan buzzer untuk menggiring opini negatif.
“Saya tetap menghormati peran ibu kandung dalam kehidupan anak-anak. Namun, akses tersebut harus berjalan dengan batasan yang sehat, aman, dan tidak merugikan anak-anak dalam bentuk apa pun,” jelas Daehoon.
Perlindungan terhadap nama baik orangtua juga berpengaruh pada kondisi psikologis anak di masa depan. Meski begitu, ia menekankan bahwa interaksi tersebut harus dilakukan dalam batas yang aman dan tidak merugikan.
Fokus utama dari setiap keputusan yang diambil adalah memastikan anak tumbuh di lingkungan yang aman dan sehat. Batasan yang tegas terkadang diperlukan bukan untuk memutus silaturahmi, melainkan untuk memastikan bahwa setiap interaksi yang terjadi memberikan dampak positif bagi masa depan anak.


















