Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

5 Alasan Diet setelah Melahirkan Kerap Gagal, Bisa Jadi Adanya 'Food Noise'

5 Alasan Diet setelah Melahirkan Kerap Gagal, Bisa Jadi Adanya 'Food Noise'
Pinterest.com/swilliams390388
  • Diet setelah melahirkan kerap sulit karena kebutuhan energi meningkat saat mengasuh anak, memicu nafsu makan, craving, dan food noise.
  • Kurang tidur, kelelahan menyusui, serta perubahan rutinitas dapat mengganggu hormon incretin yang mengatur gula darah, rasa lapar, dan kenyang.
  • Stres psikologis dapat memicu emotional eating, sementara ekspektasi penurunan berat badan cepat dan diet ketat berisiko memperlambat metabolisme.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Menjadi seorang ibu adalah perjalanan luar biasa yang menguras energi fisik maupun emosional. Setelah melewati masa-masa awal mengasuh bayi yang amat menyita waktu, tak sedikit Mama yang mulai bernapas lega ketika sang buah hati menginjak usia 2 tahun. 

Pada fase inilah timbul dorongan kuat untuk kembali fokus merawat diri, salah satunya dengan berusaha mengembalikan bentuk tubuh dan berat badan ideal seperti sebelum hamil.

Namun, banyak Mama mendapati bahwa usaha penurunan berat badan justru terasa jauh lebih berat dan kerap berujung kegagalan. 

Berikut 5 alasan kenapa diet setelah melahirkan gagal versi Popmama.com.

  1. 1. Nafsu makan meningkat

    Nafsu makan meningkat karena menyusui
    Pinterest.com/aniscalaszlo191

    Setelah melahirkan, nafsu makan dapat meningkat terutama karena tubuh membutuhkan energi tambahan untuk pemulihan dan, bila menyusui, produksi ASI. Laktasi sendiri meningkatkan kebutuhan energi ibu sekitar 450–500 kkal per hari, sehingga tubuh dapat merespons dengan dorongan makan yang lebih besar.

    Dilansir dari National center for biotechnology information, penelitian pada ibu menyusui juga menemukan bahwa mereka mengonsumsi sekitar 24% lebih banyak energi dibanding kelompok kontrol, meski mekanisme hormonal yang mengatur rasa lapar belum sepenuhnya jelas; salah satu hormon yang diteliti adalah ghrelin, yaitu hormon yang berperan dalam merangsang rasa lapar. Selain kebutuhan energi, kurang tidur, stres, perubahan rutinitas, dan kelelahan setelah melahirkan juga dapat membuat pola makan dan rasa lapar terasa lebih sulit dikendalikan.

  2. 2. Kurang tidur

    Kurang tidur karena rutinitas berubah
    Pinterest.com/remedysnutrition

    Fase memiliki anak berumur 2 tahun juga kerap menjadi fase adaptasi bagi Mama di luar sana. Perubahan rutinitas hingga jam tidur memengaruhi kehidupan bagi para Mama. Dilansir dari Pubmed, kurang tidur pada ibu setelah melahirkan umumnya terjadi karena pola tidur bayi yang belum teratur dan kebutuhan menyusu atau merawat bayi pada malam hari, sehingga tidur ibu menjadi terputus-putus.

    Penelitian menunjukkan bahwa jumlah sesi menyusu pada malam hari berkaitan dengan durasi tidur malam ibu yang lebih pendek; setiap tambahan sesi menyusu malam dikaitkan dengan berkurangnya waktu tidur sekitar 6,6–8,4 menit. Selain itu, nyeri setelah persalinan, stres, perubahan hormonal, serta kondisi seperti depresi postpartum juga dapat memperburuk gangguan tidur.

    Kurang tidur setelah melahirkan tidak selalu berarti ibu menyusui pasti tidur lebih sedikit. Sejumlah penelitian justru menemukan hasil yang berbeda tergantung pola menyusui dan cara pengasuhan bayi.

  3. 3. Perubahan hormon

    Stress karena perubahan rutinitas
    Pinterest.com/Alemdavidapaz

    Ketika tubuh perempuan mengalami kelelahan, baik karena menyusui hingga kurang tidur, maka dapat terganggunya respon hormon incretin yang mengatur keseimbangan metabolik sehari-hari.

    Fungsi hormon incretin adalah mengatur kadar gula, rasa lapar, dan rasa kenyang sehingga dapat mengurangi craving dan food noise. Food noise adalah kondisi ketika pikiran seseorang terus-menerus dipenuhi oleh keinginan, dorongan, atau bayangan tentang makanan, meskipun tubuh sebenarnya tidak sedang lapar atau membutuhkan makanan. Sederhananya, food noise bukan sekadar “suka makan”, tetapi pikiran tentang makanan yang terasa sulit dihentikan. Misalnya, baru saja makan tetapi sudah memikirkan camilan berikutnya, terus teringat makanan tertentu, atau merasa harus makan meski sebenarnya tidak lapar.

    Apabila hormon incretin terganggu, tubuh akan mengirim sinyal kepada otak untuk terus merasakan craving dan menyebabkan food noise.


  4. 4. Faktor psikologi dan stres

    Craving dan food noise karena perubahan hormon
    Pinterest.com/moimarketer

    Perubahan rutinitas tidak hanya merubah kondisi fisik, melainkan juga kondisi mental. Perubahan yang diikuti dengan tuntutan seringkali memicu emotional eating.

    Kondisi saat psikologi tertekan dapat membuat tubuh melakukan pelarian untuk mencari kenyamanan, salah satunya adalah makan. Pikiran berlebihan terhadap makanan juga dikenal sebagai food noise.

    Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti biologis, hormon, emosi, kebiasaan makan, kurang tidur, stres, dan lingkungan. Jadi, food noise tidak selalu berarti seseorang kurang disiplin dalam menjalani diet.

    Psikolog LIGHThouse, Tara de Thouars, menambahkan bahwa food noise kerap dianggap sebagai tanda seseorang kurang memiliki kemauan atau disiplin saat menjalani diet. Padahal, hubungan seseorang dengan makanan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi biologis, emosi, kebiasaan, hingga lingkungan sehari-hari. Pola pikir juga berperan dalam menentukan bagaimana seseorang bersikap dan mengambil keputusan terkait makanan. Karena itu, pendekatan psikologis diperlukan untuk membantu memahami pikiran, dorongan makan, sekaligus mencari akar masalah dari pola makan yang kurang sehat.

    Inilah mengapa penanganan obesitas sebaiknya tidak hanya berfokus pada angka di timbangan. Pendampingan ahli gizi membantu pasien membangun pola makan yang realistis dan sesuai kebutuhan, sementara psikolog dapat membantu mengenali pemicu emosional maupun kebiasaan yang berkontribusi terhadap kenaikan berat badan. Dengan pendekatan yang lebih menyeluruh, tujuan akhirnya bukan sekadar menurunkan berat badan, tetapi juga mempertahankan hasil tersebut dalam jangka panjang.

  5. 5. Ekspektasi tidak realistis

    Ekspektasi berat badan turun drastis
    Pinterest.com/magnific_ai

    Banyak Mama mengharapkan berat badan dapat turun drastis dalam waktu singkat seperti sebelum hamil. Memaksa tubuh menjalani diet yang terlalu ketat justru memicu stres biologis dan metabolisme yang melambat.

    Hal tersebut justru membuat berat badan mudah naik ketika sudah berhasil menurunkan berat badan. 

    Bagi sebagian ibu, menurunkan berat badan setelah melahirkan bukanlah perkara mudah. Selain tubuh masih dalam proses pemulihan, perubahan hormon, kurang tidur, kelelahan, hingga kebutuhan energi selama menyusui dapat memengaruhi rasa lapar dan pola makan. Ketika berat badan mulai turun, tubuh juga dapat merespons dengan meningkatkan rasa lapar dan menurunkan rasa kenyang melalui perubahan sinyal hormon serta mekanisme pengaturan nafsu makan di otak. Kondisi ini membuat proses kembali ke berat badan sebelum hamil membutuhkan waktu dan tidak semata-mata bergantung pada seberapa disiplin Mama menjalani diet.

    “Banyak orang merasa gagal menjalani diet bukan semata-mata karena kurang disiplin. Saat berat badan turun, tubuh dapat merespons dengan meningkatkan rasa lapar dan menurunkan rasa kenyang melalui perubahan sinyal hormon dan mekanisme pengaturan nafsu makan di otak. Karena itu, pengelolaan berat badan perlu mempertimbangkan faktor tersebut. Terapi berbasis tirzepatide bekerja melalui dua jalur hormon incretin, yaitu GLP-1 dan GIP yang bisa bertahan lebih lama kadar di tubuh. Keduanya berperan dalam mengatur nafsu makan dan rasa kenyang, sehingga pada pasien yang sesuai, terapi ini dapat membantu mengurangi rasa lapar, meningkatkan kontrol terhadap asupan makanan, dan mengurangi dorongan atau pikiran berlebihan terhadap makanan yang sering disebut sebagai food noise.”, ujar dr. Guadelupe Maria Melissa, Medical Manager LIGHT Group., dr. Guadelupe kemudian menambahkan, terapi injeksi hanyalah satu bagian dari perjalanan, terapi terbaik tidak berhenti pada injeksi saja. Keberhasilan jangka panjang tetap memerlukan pendekatan yang komprehensif dan pengaturan pola makan yang dipersonalisasi agar hasil yang dicapai dapat dipertahankan.

    Meski begitu, terapi injeksi bukan satu-satunya kunci dalam perjalanan menurunkan berat badan. Menurut dr. Guadelupe, hasil jangka panjang tetap membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, termasuk perubahan pola makan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu. Program TirzePen dan TirzeSlim juga disebut dapat membantu mengendalikan food noise, yaitu kondisi ketika pikiran terus dipenuhi keinginan atau dorongan untuk makan meski tubuh sebenarnya tidak membutuhkan asupan.

    Proses terapi tidak hanya melihat angka di timbangan, melainkan juga bagaimana program terapi ini memiliki pendekatan berbasis perubahan perilaku dan edukasi nutrsi yang berkelanjutan.

    Bagi Mama yang baru melahirkan, proses menurunkan berat badan sebaiknya tidak dilakukan secara terburu-buru, terlebih saat tubuh masih dalam masa pemulihan atau masih menyusui. Setelah masa menyusui selesai dan Mama ingin mulai menjalani program penurunan berat badan, konsultasi serta pendampingan ahli gizi tetap penting agar pola makan yang diterapkan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan tubuh.

    Jika Mama mempertimbangkan tindakan atau terapi tertentu untuk membantu menurunkan berat badan, pastikan semuanya dilakukan melalui tenaga kesehatan yang kompeten dan mengikuti prosedur medis yang berlaku. Jangan mudah tergiur dengan metode penurunan berat badan yang menjanjikan hasil instan, karena kesehatan dan keamanan Mama tetap menjadi prioritas utama.

Share Article
Topics
Editorial Team

Related Articles

See More