Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Apakah Menyusui Membatalkan Puasa? Ini Penjelasannya, Ma!
Freepik.com/Freepik
  • Menyusui tidak membatalkan puasa karena ASI keluar dari tubuh

  • Ibu menyusui boleh tidak berpuasa jika merasa lemas, sakit, atau produksi ASI menurun

  • Bagi yang tetap berpuasa, penting menjaga hidrasi, asupan gizi seimbang, istirahat cukup

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bulan Ramadan selalu membawa semangat ibadah yang luar biasa, tidak terkecuali bagi para Mama yang sedang dalam masa menyusui

Namun, di balik semangat tersebut, sering muncul kekhawatiran mengenai kondisi fisik dan keabsahan ibadah. 

Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul yaitu, apakah menyusui membatalkan puasa

Nah, memahami hukum agama sekaligus kondisi medis sangat penting agar busui bisa menjalankan ibadah dengan tenang, tanpa merasa bersalah terhadap kesehatan buah hatinya.

Yuk, simak informasi selengkapnya mengenai apakah menyusui membatalkan puasa dari Popmama.com berikut ini!

1. Hukum menyusui saat berpuasa dalam Islam

Freepik.com/Freepik

Secara syariat, perlu ditegaskan bahwa aktivitas menyusui itu sendiri tidak membatalkan puasa. 

Puasa hanya batal jika ada sesuatu yang masuk ke dalam lubang tubuh secara sengaja, bukan karena ada cairan (ASI) yang keluar dari tubuh.

Namun, Islam adalah agama yang memudahkan. Bagi Mama menyusui yang merasa khawatir akan kesehatan dirinya atau bayinya jika harus menahan lapar dan dahaga, diberikan keringanan untuk tidak berpuasa. 

Mama bisa menggantinya di kemudian hari (qadha) atau membayar fidyah, tergantung pada kondisi dan ketentuan mazhab yang diikuti.

2. Kapan busui diperbolehkan untuk tidak berpuasa?

Freepik.com/stefamerpik

Kesehatan adalah prioritas utama. Mama menyusui diperbolehkan mengambil keringanan untuk tidak berpuasa jika mengalami kondisi berikut:

  • Khawatir pada diri sendiri. Jika Mama merasa sangat lemas, pusing hebat, atau jatuh sakit yang bisa menghambat aktivitas mengasuh.

  • Khawatir pada bayi. Jika produksi ASI menurun drastis sehingga kebutuhan nutrisi bayi tidak terpenuhi, atau bayi menjadi sangat rewel dan lemas karena kurang asupan.

Keputusan untuk berpuasa atau tidak sebaiknya didasarkan pada pengalaman pribadi dan saran medis dari dokter atau konselor laktasi.

3. Tips menjaga kualitas ASI selama berpuasa

Freepik.com/benzoix

Jika busui merasa kuat dan memilih untuk tetap berpuasa, ada beberapa  hal yang bisa dilakukan agar produksi ASI tetap stabil:

  • Hidrasi tubuh dengan baik. Atur asupan cairan dengan minum 3 gelas saat sahur, 2 gelas saat berbuka, dan 1 gelas sebelum tidur untuk menjaga hidrasi.

  • Pastikan nutrisi seimbang. Fokus pada makanan tinggi protein dan serat saat sahur agar energi bertahan lebih lama. Sumber protein seperti ikan dan telur, serta sumber serat seperti buah dan sayuran. 

  • Istirahat yang cukup. Hindari aktivitas fisik yang terlalu berat di siang hari guna menghemat energi dan cairan tubuh.

  • Tetap mengosongkan payudara. Teruslah menyusui atau melakukan pumping secara teratur karena prinsip produksi ASI adalah supply by demand.

4. Ini cara busui mengenali tanda bahaya saat berpuasa

Freepik.com/Freepik

Mama harus tetap peka terhadap sinyal tubuh. Segeralah membatalkan puasa jika muncul tanda-tanda dehidrasi berat seperti:

  • Rasa haus yang luar biasa. 

  • Mulut, bibir, dan mata terasa kering. 

  • Urine berwarna sangat gelap dan volumenya sedikit.

  • Pusing yang terasa seperti melayang atau pandangan berkunang-kunang.

  • Bayi menunjukkan tanda kurang cairan, seperti popok yang jarang basah atau terlihat sangat tidak bertenaga.

  • Warna tinja bayi kehijauan, tanda kurang nutrisi dari ASI. 

  • Bayi mengalami penurunan berat badan. 

Apakah menyusui membatalkan puasa? Jawabanannya tidak, Ma. 

Menyusui bukanlah penghalang puasa secara hukum, namun keselamatan Mama dan si Kecil adalah hal yang utama dalam pandangan agama. 

Jika mampu, berpuasa tentu membawa keberkahan, namun jika tidak, Allah telah menyediakan pintu keringanan yang luas.

Jadi, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan perjalanan mengASIhi tetap lancar di Bulan Ramadan ini. 

Editorial Team